My Top Favorite Handmade Notebook

6:01 PM

Kita hidup di dunia dimana informasi tentang apapun dapat dengan mudah kita ketahui, dan informasi itu kita dapat melalui internet. Tetapi ada kalanya beberapa orang masih membutuhkan informasi yang didapat melalui lembaran kertas (yaitu buku: majalah: koran, dan lain sebagainya). Itu yang sangat mendasari kenapa aku akhirnya dulu mengusulkan untuk membuat zine,yaitu sebuah majalah mini, majalah independen. Ketika masih menjadi anak Magic Fingers Syndicate, aku mendapatkan usulan dari seorang pecinta handmade yang ingin mengetahui informasi tentang handmade movement tetapi dia menginginkan dalam bentuk kertas karena dia tidak memiliki media sosial (hanya punya email) dan dia tidak terlalu suka/ tidak memiliki akses internet untuk browsing. Pasti kalian heran, dimana sekarang ini masih ada anak muda yang tidak memiliki akses internet dengan mudah? Yah, itulah kenyataannya, apa mau dikata. Tetapi dari keadaan seperti itu justru menggugah aku untuk membuatkannya media yang bisa dia akses. Naif sekali karena permintaannya hanya dari satu orang saja, tapi aku tidak terlalu direpotkan karena aku pikir walaupun cuma satu orang, orang itu pun berhak memiliki/mendapatkan informasi yang ingin dia ketahui. 

Magic Fingers zine adalah zine pertama yang serius aku bikin bersama anak Magic Fingers Syndicate yang lain, tetapi itu pun tidak berlangsung lama, hanya sampai 4 edisi dikarenakan kesibukan masing-masing. Beberapa bulan disaat Magic Fingers zine mengalami vakum dan aku sendiri juga sudah keluar dari Magic Fingers Syndicate, aku pun kemudian membuat sendiri zine yang juga berisikan handmade movement di Yogyakarta. Ada saat dimana kita tidak lagi ada di ranah suatu hal yang kita sendiri punya passion di dalamnya, pastilah ada kerinduan, dan kerinduan itu aku ciptakan tidak dengan membuat sindikasi lagi tetapi aku memilih membuat majalah yang memuat topik tentang passion yang aku rindukan tersebut.

And the story goes. I launched the magazine, dan sekarang sudah menginjak issue 2. Ada banyak ide yang selalu datang setiap malamnya meminta untuk direalisasikan, dan sekarang aku selalu meletakkan notes di sampingku untuk tempat aku menuliskan ide setiap ide itu datang mendadak tidak mengenal waktu. I feel recharge, aku merasakan ada hasrat baru lagi untuk proyek baruku ini. 

Sekarang sebagai seorang editor-in-chief di majalahku sendiri, aku tidak mau asal-asalan menulis atau membuat suatu berita/topik. Aku selalu browsing hal-hal terbaru, hal kreatif, dan semuanya yang bisa aku jadikan ide untuk penulisan. Kebetulan juga aku seorang notebook lovers, aku suka sekali membeli dan mengumpulkan notes handmade lucu-lucu. Tetapi aku tipikal orang yang tidak sayang untuk memakainya. Beberapa notes favorit selama ini yang bikin aku ngiler dibuatnya:


1. Vitarlenology
Always be my favorite! Selalu suka tiap edisi notes yang dibikin oleh mba Tarlen, tetapi paling suka dengan koleksi notes barunya ini. Simple namun tampak elegan, apalagi dengan metode bindingnya yang kece abis, seperti gambar tenun. Siapa yang tidak jatuh cinta dibuatnya? Keahliannya memang sudah tidak diragukan lagi.


2. Rarakuastra
Brand baru yang belum lama ini aku temui. Rara adalah nama pembuatnya. Pola print yang dibuatnya lucu-lucu, aku suka, sampai tidak ragu untuk mengajaknya ngelapak bareng di beberapa bazaar. Ide gambarnya simple dan nggak neko-neko. Mungkin apa yang sedang terlintas diotaknya bakal jadi obyek gambarnya dia, karena aku pernah menjumpai print gambar dia yaitu pepaya, cabe, dll sewaktu kita satu booth di suatu bazaar, dan aku sedikit tergelitik dengan gambarnya tersebut.



3. Achebong
Seorang crafter dari Solo yang suka membuat kolase. Sebagai pecinta kolase juga aku mengidolakan semua karya kolasenya. Selain membuat produk dari print kolasenya, Ache (nama crafter tersebut) juga membuat beberapa notes lucu. Ada 3 macam produk notesnya, yang pertama notes yang dibuat dari karya kolasenya sebagai sampul, yang kedua, notes yang sampulnya dibuat dari cardboard, ketiga, notes dari sisa kain perca, dan untuk isiannya dia memilih menggunakan kertas bekas. Kebetulan Ache tidak memiliki foto produknya karena dia tidak pernah aktif menjual produknya di media sosial dan hanya dapat ditemukan di bazaar-bazaar handmade yang dia ikuti, tetapi kalian tetap bisa melihat beberapa koleksinya di instagram: @achebong

Review post "My Top Favorit" kali ini tidak 5 referensi, melainkan hanya 3 saja. Berbeda dengan post yang lama, ini dikarenakan baru 3 notes itu yang aku pakai akhir-akhir ini dan memang sedang jadi favorit, tetapi tidak menutup kemungkinan akan bertambah lagi jika aku menemukan notes baru yang lucu, atau mungkin ada usulan untuk brand notes handmade lucu yang kalian kenal? Dengan senang hati akan mereviewnya :)


Always support local makers,
Lucia Berta

You Might Also Like

1 comments

FOLLOW GOOGLE+

INSTAGRAM: @luciaberta_