Media Sosial Bikin Insecure?
Media sosial bikin insecure? Benar nggak sih? Seperti yang kita ketahui, media sosial sudah menjadi bagian penting dari gaya hidup kita sehari-hari. Mulai dari bangun tidur, makan, bekerja atau sekolah, nongkrong sama teman, makan lagi, sampai mau tidur, mata dan tangan kita nggak bisa lepas dari hape untuk "scrolling dan mengklik" media sosial yang kita miliki.
Melihat foto-foto, informasi seputar gaya hidup, berita terkini di media sosial itu menyenangkan dan mungkin bisa jadi menyegarkan pikiran disaat kita merasa penat dengan pekerjaan atau tugas-tugas yang menumpuk. Tetapi dengan banyaknya informasi yang kita lihat di media sosial, pernahkah kalian merasa overwhelmed? Rasa-rasanya malah muak, tambah penat, nggak bahagia, stres, dan mungkin malah bisa menjadi insecure*.
Insecure adalah perasaan tidak aman yang membuat seseorang merasa gelisah, takut, malu, hingga tidak percaya diri.
Bukan tanpa alasan aku menuliskan kata insecure sebagai dampak negatif dari media sosial, karena selain hal itu pernah menjadi problematikaku, beberapa penelitian juga ada yang sempat membahasnya. Salah satu yang sempat mengadakan polling dan kemudian memberitakannya adalah situs website berita, Huffington Post. Huffington Post mendapatkan data bahwa 60% orang yang menggunakan media sosial memperoleh dampak negatif dalam kepercayaan diri mereka. Tidak hanya itu, mereka juga menemukan data, sebanyak 51% orang yang melakukan polling mengatakan bahwa media sosial telah membuat self-conscious* mereka terhadap diri sendiri menjadi rendah.
Self-consciousness adalah kecenderungan dimana orang yang mengalaminya selalu diliputi pikiran-pikiran tentang dirinya sendiri, tentang aktivitas yang sedang dilakukannya, tentang penampilan fisiknya, tentang caranya berbicara, tentang bagaimana ia melakukan aktivitasnya, dan tentang bagaimana orang lain menilainya.
Lalu apa hubungan self-conscious rendah dengan insecure? Ketika seseorang melihat dan memandang dirinya sendiri rendah (buruk) maka secara nggak langsung perasaan tidak aman itu muncul. Nah kalau sudah begini apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut?
Selalu mengingatkan diri kita bahwa apa yang terlihat di sosial media itu sudah "dipercantik".
Semua foto yang kita lihat di media sosial sudah diedit, diberi filter, dipercantik, terlihat estetis secara visual sehingga kita semua melihat orang dalam media sosial itu memiliki kehidupan yang sangat sempurna. Padahal dalam kenyataannya, jujur saja, nggak ada kehidupan yang teramat sempurna. Hari-hari kita nggak selalu diisi dengan makanan yang enak, pakaian yang cantik, dan kegiatan yang menyenangkan dan diidamkan banyak orang. Ada juga hari buruk yang sering membuat kita harus berusaha menghadapinya, yang nggak semua orang tahu karena nggak pernah terlihat dalam media sosial.Beberapa orang ada yang memang serius menggunakan media sosial untuk kebutuhan bisnis mereka, misalnya influencer dan selebgram. Postingan cantik mereka memang sengaja dibikin untuk dapat memuaskan dan menyenangkan para pengikutnya. Jangan lupa, mereka juga bekerja keras lho untuk membuat foto itu terlihat bagus, misalnya dalam mengedit, merencanakan konsep foto, menuliskan caption, merencanakan gaya mereka berpakaian, dan masih banyak lagi. So, be wise aja, kita nggak perlu ikut-ikutan atau membandingkan karena kita nggak pernah tahu perjuangan atau effort masing-masing orang.
Melatih self-love pada diri sendiri
Mencintai diri sendiri sangat disarankan untuk mengurangi rasa insecure pada diri. Dengan mencintai diri sendiri kita jadi bisa lebih menghargai diri, kepercayaan diri juga bisa meningkat, dan nggak akan ambil pusing dengan kehidupan "sempurna" orang lain karena kita hanya berfokus pada apa yang kita miliki.
Mencintai diri sendiri sangat disarankan untuk mengurangi rasa insecure pada diri. Dengan mencintai diri sendiri kita jadi bisa lebih menghargai diri, kepercayaan diri juga bisa meningkat, dan nggak akan ambil pusing dengan kehidupan "sempurna" orang lain karena kita hanya berfokus pada apa yang kita miliki.
Take a break
Terlalu banyak hal yang secara nggak sadar aku menuntut diriku sendiri agar bisa seperti teman-teman yang ada di media sosial, yaitu menjadi semakin kreatif dan produktif. Bukannya aku menjadikan hal itu sebagai semangat, tetapi malah membuatku menjadi insecure. Bukan hal yang benar memang, nah karena itu beberapa minggu lalu akupun memutuskan untuk uninstal media sosial di hape, aku ingin mengurangi kebiasaan untuk melihat ke hape tiap menitnya. Agak susah pada awalnya, karena banyak berita terbaru yang akhirnya nggak aku ketahui, hidupku seakan kosong karena nggak ngapa-ngapain, dan menjadi cepat bosan, tetapi lama-kelamaan aku merasa terbiasa, nyaman dengan kegiatan tanpa gadget, dan nggak terlalu stres memikirkan konten demi bisa terlihat produktif. Diri sendirilah yang tahu kapan kita merasa media sosial menjadi toxic (racun) dan harus dihentikan sementara (atau mungkin selamanya? tergantung pilihan masing-masing), jadi sempatkanlah untuk mengambil jeda atau "beristirahat" demi kesehatan mental yang lebih baik.
Tanyakan kembali pada dirimu sendiri, kenapa kamu merasa insecure?
Terlalu banyak hal yang secara nggak sadar aku menuntut diriku sendiri agar bisa seperti teman-teman yang ada di media sosial, yaitu menjadi semakin kreatif dan produktif. Bukannya aku menjadikan hal itu sebagai semangat, tetapi malah membuatku menjadi insecure. Bukan hal yang benar memang, nah karena itu beberapa minggu lalu akupun memutuskan untuk uninstal media sosial di hape, aku ingin mengurangi kebiasaan untuk melihat ke hape tiap menitnya. Agak susah pada awalnya, karena banyak berita terbaru yang akhirnya nggak aku ketahui, hidupku seakan kosong karena nggak ngapa-ngapain, dan menjadi cepat bosan, tetapi lama-kelamaan aku merasa terbiasa, nyaman dengan kegiatan tanpa gadget, dan nggak terlalu stres memikirkan konten demi bisa terlihat produktif. Diri sendirilah yang tahu kapan kita merasa media sosial menjadi toxic (racun) dan harus dihentikan sementara (atau mungkin selamanya? tergantung pilihan masing-masing), jadi sempatkanlah untuk mengambil jeda atau "beristirahat" demi kesehatan mental yang lebih baik.
Tanyakan kembali pada dirimu sendiri, kenapa kamu merasa insecure?
Mungkin beberapa orang nggak sadar bahwa dalam dunia maya, orang-orang nggak hanya menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang dimiliki, tetapi juga akhirnya menjadikan kehidupan sempurna itu sebagai ajang kompetisi. Semua berlomba untuk menunjukkan sisi yang hanya akan disukai dan membuat pengikutnya senang. Nah apakah ternyata kamu juga sudah terpengaruh/teracuni dengan "perlombaan" itu dan menjadi insecure? Kamu bisa bertanya lagi pada diri, apa sebenarnya yang membuatku merasa tidak aman dengan postingan orang lain? Emosi dan pemikiran apa yang muncul ketika kamu scroll Instagram atau Facebook? Dimana emosi tersebut muncul? Gali lebih dalam lagi dengan bertanya kenapa hal tersebut bisa terjadi dan mengapa kamu berpikir demikian.
Ketika kita bisa mendeteksi dan akhirnya bisa berdamai dengan perasaan atau pemikiran tersebut maka akan lebih mudah untuk mengatasi rasa insecure tersebut. Tetapi jika kamu masih nggak tahu dan nggak menemukan apa yang membuatmu gelisah, mungkin dengan meminta pertolongan para profesional seperti psikolog lebih disarankan. Nggak perlu merasa malu atau takut meminta pertolongan orang yang bisa membantu untuk memahami diri kita.
Cheers,
Lucia Berta

0 comments