• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun

Akhir pekan kemarin adalah acara ke-4 aku diundang sebagai pengisi materi tentang bisnis kreatif setelah 2 tahun rehat selama pandemi. Acara itu dinamakan Kelas Berbagi yang diselenggarakan oleh Yayasan Kampung Halaman, dan aku mengisi materi tentang Berjualan Produk Digital. Jujur, kali ini aku sangat suka dengan pesertanya karena mereka terdiri dari banyak background dan profesi yang baru bagiku atau dengan kata lain aku belum pernah temui di acaraku. Biasanya peserta yang datang ke acaraku memiliki latarbelakang crafter, tapi khusus kali ini ada yang berlatarbelakangkan pegawai negeri, ibu rumah tangga, tenaga medis, dan banyak lagi. Oh yang tak kalah menarik juga, adalah tempat acara itu berlangsung yaitu di Aula Kubah Bambu-nya Weloveyou(th), kedai kopi milik Yayasan Kampung Halaman yang baru saja buka dan launching bulan Agustus 2022.

Produk digital memang bukan bisnis baru, akan tetapi bisa menjadi pilihan baru untuk teman-teman kreatif yang selama ini hanya menggantungkan penghasilannya dengan berjualan produk fisik. Kita tahu bahwa di tahun yang kurang jelas masa depannya ini, selalu ada kejutan yang tiba-tiba bikin kita senam jantung, ya nggak? Ada saja hal baru atau virus baru yang bikin kita was-was dengan situasi yang sudah hampir membaik ini. Bisnis adalah sesuatu yang nggak statis, terus bergerak mengikuti perkembangan jaman. Nah, kalau nggak mau ketinggalan, kita pun harus aktif, cepat beradaptasi, dan memiliki rencana lain jika sewaktu-waktu dibutuhkan agar bisnis kita juga tetap berjalan. Dan berjualan digital produk adalah salah satu rencana alternatif itu.

kelas berbagi jualan produk digital yayasan kampung halaman

workshop berjualan produk digital di etsy


Gimana, keren kan aulanya? Nantinya disini juga akan ada banyak acara atau kegiatan kreatif untuk anak remaja Yogyakarta. Senang sekali bisa diberi kesempatan untuk berbagi dan "curhat colongan" dengan banyak orang :) Di kesempatan mendatang mungkin akan ada banyak curhatan lainnya seputar bisnis kreatif, semoga ada yang mau mengundang lagi ya 😄😄😄


Cheers,
Lucia Berta
 


2:19 PM No comments
Kata orang, lebih enak kalau hobi bisa dijadikan uang. Apa kalian juga sependapat dengan pernyataan itu? Kalau aku sih, no thank you. Aku pernah mengalaminya dan merasa kurang cocok. Mengerjakan sesuatu yang menjadi hobi memang sangat menyenangkan, bahkan gara-gara itu waktu kita habis tidak terasa. Uang pun banyak keluar dari saku pribadi hanya untuk keperluan hobi. "Kalau sudah begitu bukankah malah enak kalau hobi jadi kerjaan? kita jadi bisa dapat uang buat gantiin uang yang keluar", begitu kira-kira sanggahan yang umum terdengar. 

hobi-jadi-pekerjaan

Aku suka sekali membuat DIY tutorial sejak tahun 2009, bahkan bisa disebut hobi. Hobi yang juga menghantarkanku untuk menjadi DIY blogger dan Creative Director Folksy Magazine (yang menjadi pekerjaanku dulu). Memang awalnya senang-senang saja toh aku suka. Makin lama, hal yang biasa kukerjakan dengan kesenangan itu berubah menjadi stressor (faktor yang menyebabkan orang mengalami stres). Kok bisa?? Ketika hobi sudah menjadi pekerjaan, tentu perlakuan kita untuk mengerjakannya sudah berbeda, bukan lagi dikerjakan semau sendiri, tapi berubah menjadi lebih profesional dengan berbagai ketentuan dan aturan yang dibutuhkan sebagai dampak dari tuntutan dalam pengerjaan. Hobi yang biasanya nggak ada target, sekarang harus ada target bahkan visi dan misi. Dulu dikerjakan untuk istirahat dikala jenuh dengan pekerjaan sekarang tidak bisa lagi karena nggak punya hobi lagi :D Belum lagi kalau kamu juga orangnya suka "melakukan apapun untuk bisa menyenangkan orang lain" kayak aku, tingkat stressornya jadi akan semakin bertambah ketika pekerjaanmu tidak bisa memuaskan banyak orang. 

Senada dengan pemikiranku, ada sebuah artikel yang juga menyatakan hal yang sama di sebuah website, Tiny Trips, berjudul: I Tried to Monetize My Favorite Hobby and, Thankfully, Failed. Ditulis oleh Nia Simone McLeod, dia menceritakan bagaimana bermain game adalah hobi yang sangat dia sukai semenjak kecil, dan gara-gara ingin mendapatkan uang untuk bisa membayar kuliah, dia terpikir untuk bisa menghasilkan uang dari hobinya. Setelah mengalami proses tersebut dia menyadari bahwa keputusan yang diambilnya ternyata salah, dia tidak lagi merasakan perasaan bahagia (seperti dulu) sewaktu bermain game dengan orientasi mendapatkan uang. Kalian juga bisa membayangkan bukan, ketika excitement mengerjakan sebuah hobi tiba-tiba berubah karena keharusan biar dapat uang. "Feel-nya udah nggak dapet", kalau jaman sekarang menyebutnya seperti itu.

“I decided I’d go back to gaming just for fun — I needed it in my life as a stress-reliever, not another stress-inducer,” adalah penyataan terbaik sebagai pamungkas dari artikel tersebut yang aku juga sangat setuju. Beberapa dari kita mungkin ada yang senang saja selama ini bisa menghasilkan uang dari hobi, tetapi ada juga yang nggak bisa. Aku adalah salah satu contoh yang nggak bisa itu. Pekerjaan dan hobi (buatku) harus terpisah karena perlakuan untuk kedua kegiatan tersebut berbeda, dan tujuan yang dihasilkan juga berbeda. Sekarang setelah aku memiliki pekerjaan yang tidak lagi merupakan hobi, aku lebih senang karena akhirnya hobiku kembali dan aku bisa mengerjakannya sesukaku saja, eh bahkan aku juga punya hobi baru yaitu berkebun (hmm jangan sampai nih mengulang kesalahan lama, mengubah berkebun jadi pekerjaan juga :D) 

Bagaimana kalau kamu, apakah hobimu jadi pekerjaanmu?

Cheers,
Lucia Berta
10:08 AM No comments


Pernahkah kalian merasa overwhelmed dengan media sosial? Banyak hal yang diposting teman-teman di media sosial, yang secara tidak langsung membuat mental kita semakin down karena kita MERASA nggak bisa seproduktif mereka, atau kita sudah ikut produktif tapi belum bisa sekeren mereka hasilnya? Jujur aku pernah merasakan seperti itu. Melihat Instagramku yang dipenuhi postingan teman-teman yang produktif, membuatku merasa semakin terbebani. Akhirnya berusaha berpikir dengan keras tentang konten yang mau kubagikan. Malah jadi capek banget, serius. Semua dipikirin, nggak enjoy lagi. Takut salah, takut kurang menarik kontennya, semua pikiran negatif menyerang bersamaan. Padahal awalnya tuh seneng aja, semua konten kubuat dengan semangat dan passion menggebu. 

Nah, itulah yang membuatku memutuskan untuk berhenti dari Instagram. Aku capek. Memang awalnya berat, tetapi karena aku punya kegiatan menyenangkan lainnya yang saat ini selalu kukerjakan, yaitu berkebun dan mendesain, aku pun bisa dengan mudah lupa dengan media sosial. Aku benar-benar merasa hidup di hari ini, saat ini juga. Menikmati semua hal yang terjadi hari ini, atau yang lebih sering dibilang "mindful". Aku menghabiskan waktu di rumah berkumpul dengan keluarga, belajar memasak, berkebun, nonton drama Korea/Jepang atau film yang bagus, dan (tetap) belajar hal baru yaitu mendesain. You know what, hasilnya aku merasa lebih baik. Waktu seharian yang dulu habis kugunakan hanya untuk scrolling media sosial seharian dan mikirin konten sudah berubah. Aku seperti refresh, mulai dari awal lagi setelah lama beristirahat. 

Ketika aku sudah siap untuk kembali memiliki media sosial lagi, aku mulai dengan hanya melakukan apa yang kusenangi dan apa yang bisa bikin aku rileks. Tercetuslah bikin akun Instagram lagi dengan konten berkebun, dan dengan mengikuti orang-orang asing (bukan teman) yang suka berkebun juga. Aku merasa bebas saja untuk posting berkebun yang aku suka. Nggak ada beban untuk please other people, dan aku suka itu. 

Take a break and start something new, dua hal yang sangat penting dan aku tidak menyesal telah melakukan semua itu. Apakah kalian juga sedang berada dalam kondisi yang sama denganku, yuk istirahat dulu. Hidup nggak melulu tentang membagikan kehidupan kita di media sosial kok, tetapi menikmati kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Fokus saja pada apa yang kalian sukai dan inginkan, dan kalau itu adalah sesuatu yang baru, tidak ada salahnya kita mulai lakukan. Yuk! Selamat mencoba!

Cheers,
Lucia Berta
10:07 AM 1 comments

Sebelum aku memutuskan untuk membuat blog berisikan gaya hidup kreatif seperti sekarang ini, aku sempat mengalami dilema yang berkepanjangan. Aku bingung mau dijadikan seperti apa blogku nanti, apa yang harus kutulis, materi apa yang kira-kira menarik, dan masih banyak lagi pertanyaan dalam pikiranku. Alhasil waktu itu aku menghabiskan waktu berjam-jam, hingga berhari-hari untuk melihat semua blog luar negeri yang populer dan menarik. "Iya aku ingin punya blog seperti mereka", pikirku.  Mencari inspirasi atau ide blog yang akan kujadikan sebagai personal branding-ku. 

Apa itu personal branding? Personal branding adalah proses untuk mempromosikan/memasarkan diri atau karir melalui citra yang dibentuk untuk diperkenalkan kepada masyarakat umum/orang lain. Dalam pengertian sederhananya, personal branding adalah kamu ingin dikenal sebagai apa/siapa? blogmu akan dikenal sebagai blog apa? 

Waktu itu memang belum terlalu tahu apa yang kumau karena aku suka banyak hal, dan aku juga suka melakukan banyak hal. Bisa dibilang (bahkan sampai sekarang) aku cenderung "Jack of All Trades".

Baca artikel tentang Jack of All Trades disini: JACK OF ALL TRADES, MASTER OF NONE

Sempat terpikir aku menulis banyak hal di blog ini, jadi blog "gado-gado" gitu kalau kata para blogger hahaha. Tapi minusnya nanti aku tidak bisa tahu sasaran pembacaku siapa karena terlalu random. Dilema yang tidak kunjung henti akhirnya aku memutuskan untuk menulis apa saja, nah dari situ aku akan tahu artikel bertema apa yang sering kutulis, itu saja yang akan kujadikan sebagai tema blog. Dari 2009 ternyata aku lebih suka menulis tentang tutorial DIY, meskipun waktu itu aku sempat bilang kalau blogku adalah personal blog hahaha tapi ternyata artikel personal berupa curhatan sangat sedikit bahkan lama-lama tidak pernah kutulis lagi. Makin bertambah usia blog, minatku terhadap hal baru semakin bertambah. Aku jadi suka tentang bisnis kreatif! Akhirnya aku tambah lagi temanya. Hingga aku akhirnya bisa membuat majalah sendiri yaitu Folksy Magazine, bertemakan handmade dan DIY. Disitu aku juga dikenal sebagai crafter karena aku juga berbisnis menjual produk kreatif. Blog ini pun dengan bangga kukenalkan sebagai blog DIY.

Perubahan itu ternyata tidak berhenti, semakin kita berumur, minat kita terhadap sesuatu juga akan berubah. Aku semakin suka menulis artikel tentang mindfulness dan mulai ingin mengeksplor hal baru yaitu tentang permaculture, eco-living, dan semua hal yang bergaya minimalis. Tentu tidak mudah dong memperkenalkan semua itu di blog dan media sosialku karena tema yang kusukai sekarang tidak lagi sama dengan personal branding-ku sebagai crafter atau owner Folksy Magazine yang terlanjur dikenal. Belum lagi dalam perjalanannya itu susah sekali, memang harus dibiasakan. Contohnya, karya yang akhir-akhir ini suka kubikin, biasanya mendesain produk atau sesuatu dengan banyak pilihan warna dan coretan, kini harus mengurangi warna dan coretan. Sekarang aku mencoba untuk rebranding pelan-pelan, memperkenalkan kesukaan baru yang kugeluti ini. 

Jadi bagaimana kabarnya sekarang? Pandemi luar biasa ya efeknya, banyak orang yang akhirnya memiliki minat atau hobi baru gara-gara pandemi ini. Seperti beberapa teman blogger yang kukenal, dari travel blogger yang nggak bisa posting konten jalan-jalan lagi karena pandemi, sekarang beralih menjadi blogger yang membahas tanaman hias. Berkebun menjadi hobi dan minat barunya sekarang. Ada lagi fashion blogger yang akhirnya lebih sering posting hobi barunya menulis jurnal, dan masih banyak lagi. Aku pun nggak ketinggalan hahaha, sekarang punya hobi baru yaitu berkebun dan belajar mendesain produk lagi. 

Sepertinya aku akan pamer proses kreatif selama aku membuat produk baru nih. Iya akhirnya aku memutuskan untuk jualan handmade things lagi, dan kali ini aku memilih produk planner. Aku suka sekali dengan kegiatan menulis rencana dan organize my days menggunakan planner. Aku juga suka banget menulis checklist 'kegiatan apa saja yang akan kulakukan besok' waktu malam hari sebelum tidur. Awalnya sih pingin bikin planner buat diriku sendiri, tapi jadinya malah keterusan dan akhirnya aku jual juga di Etsy. Kenapa jualan di Etsy? karena produkku adalah produk digital dan hanya Etsy yang bisa ngejualin hahaha (lain kali mungkin aku akan kupas tuntas ya tentang berjualan produk digital buat kalian yang pingin juga). 

Oya, aku juga sudah vaksin. Perlu kukabarkan karena aku juga mengajak semuanya untuk mau vaksin, aku tahu itu menakutkan, apalagi banyak kabar tentang kematian atau kelumpuhan sehabis vaksinasi. Aku pun mengalami proses ketakutan itu, tapi akhirnya aku bisa atasi dengan banyak mencari informasi valid tentang vaksin, tanya-tanya dokter, menjaga kesehatan biar siap divaksin, dan berserah diri saja. Toh itu semua demi kebaikan kita dan orang-orang yang kita cintai bukan? Yuk vaksin! Biar kita bisa kumpul-kumpul lagi dengan teman, keluarga, dan semua yang terkasih. Tetap jaga kesehatan ya :)

Cheers,
Lucia Berta

12:06 PM No comments
Disela kesibukanku beberapa bulan belakangan ini aku memiliki "side jobs", yang salah satunya sudah mulai rutin kukerjakan. Bersama mba Tina (partner in crime-ku) aku menerima layanan dekorasi untuk jendela toko. Di Jogja terbilang jarang untuk pekerjaan seperti ini, sedangkan kalau di luar negeri pasti sering lihat jendela toko yang selalu berubah atau berganti sesuai koleksi atau musim. Seneng dong ternyata ada yang meminta kami untuk mendekor jendela toko secara rutin seperti toko-toko di luar negeri. Dowa bag store adalah klien pertama kami, sebenarnya pekerjaan mendekor bukan hal yang asing bagi aku dan mba Tina. Terutama mba Tina, dia sudah berkali-kali mendapat pekerjaan mendekor, tetapi kali ini kita berkolaborasi untuk menjadi sebuah tim bernamakan Main Dekor. Kenapa Main Dekor? karena sebenarnya ini hanya side job yang dikerjakan sambil main-main, tidak menjadi pekerjaan utama kami. Enak khan main-main tapi dapat uang? hahaha
Side job itu harusnya bikin hepi bukan malah menambah stres, ya itu memang yang kami inginkan, jadi kami juga tidak terlalu ngoyo (ngotot) harus selalu dapat kerjaan mendekor. Kalau selo saja kita terima dan kerjakan. Sibuk mengurusi folksy, membuat aku sudah tidak memiliki hobi (ketika hobi akhirnya sudah menjadi pekerjaan utama) sehingga Main Dekor ini sangat membantuku untuk memiliki hobi lagi. Sampai kapan hobi main-main tapi dibayar ini akan bertahan? Selama kami masih selo dan happy untuk mengerjakannya. Kalian penasaran dan ingin tahu seperti apa kegiatan mendekor kami? atau mau memanggil kami untuk mendekorkan toko kalian? hubungi #maindekor saja dan jangan lupa follow instagram kami @main.dekor ;)

dekorasi toko dowa bag pinterest instagramable wall decor profesional

Cheers,
Lucia Berta

8:45 PM No comments
Folksy besok Juni menerbitkan edisi spesial Anniversary ke-2. Sebenarnya ulang tahun Folksy bulan Juli, tetapi sengaja kami majukan untuk edisi ulang tahun bertepatan dengan edisi 10 yang memang jadwal terbitnya di bulan Juni. Semua tim kalang kabut bikin artikel, pemotretan, cari ilustrasi, dan masih banyak lagi, aku pun juga tidak ketinggalan membantu mereka, mencari sponsor, mencari percetakan yang bagus (yeah kami ada sedikit masalah dengan percetakan jadi kami menginginkan percetakan yang oke untuk edisi spesial Folksy), kontak orang sana sini, dan masih banyak lagi. Belum lagi aku sendiri harus membantu beberapa art management untuk acara pameran seni mereka yang juga akan diadakan di bulan Mei ini. 

 sneak peek salah satu studio yang akan kami liput di Folksy

Aku lagi suka baca buku ini, ditulis oleh Nina Moran (salah satu pendiri GoGirl! Magazine). Siapa tidak tahu dengan GoGirl!? aku suka beli majalahnya dari tahun 2004, dan tidak menyangka kalau perjalanan GoGirl sampai dikenal seperti sekarang itu tidak jauh dari permasalahan yang juga aku rasakan saat ini dengan Folksy. Buku ini sudah sejak tahun 2011 terbitnya tetapi aku baru tahu karena sewaktu aku curhat tentang permasalahan Folksy ke temanku, temanku ini bilang kalau permasalahanku hampir mirip permasalahan GoGirl! waktu mereka juga masih 1-2 tahun berdiri. Alhasil googling dong tentang buku ini dan dapat deh. Buku ini bikin aku bersemangat untuk tetap berjuang demi Folksy, permasalahan apa pun yang datang pasti memiliki penyelesaiannya kalau kita memang punya passion untuk tetap mempertahankan impian kita, Thanks for this book, aku jadi banyak belajar tentang dunia permajalahan haha.

Kejutan dari timku, mereka ternyata membawa majalah Folksy dan memberikannya kepada Diana Rikasari, blogger favoritku sepanjang masa. Aku sudah jadi fansnya dari tahun 2009, ya sejak awal aku blogging, tetapi bukan fans yang terlalu rame buat kepoin atau stalking dia, cukup silent fans aja. Kejadian ini diluar pengetahuanku, aku tahu sih Diana Rikasari akan ke Jogja untuk jumpa fans, awalnya diajak timku buat datang tapi aku masih bimbang dan terlupakanlah hal itu karena masih ribet memikirkan Folksy (ya, bisa dibilang, pagi siang malam, setiap hari pikiranku di Folksy edisi spesial ini). Dan tiba-tiba saja tim memberikan foto seperti ini di chat grup Folksy, tentu saja hal ini bikin aku happy khan :) Thanks my creative 'Fashion and Style Editor', oh and my 'Creative Assistant' too :)


5:31 PM No comments
My crafting journey. Aku sudah mulai suka bebikinan sejak SMA, dulu pernah bikin kalung dari beads dan dijual, begitu pula sewaktu kuliah, tetapi hanya kugunakan sebagai aktivitas di waktu luang saja. Selesai kuliah, aku banyak bertemu orang yang terlibat di area seni, dari situ muncul keinginanku lagi untuk membuat suatu acara untuk anak muda. Berkenalan dengan banyak crafter muda Jogja yang sama-sama kayak aku suka craft. Tetapi bedanya mereka sudah mulai berbisnis dengan kerajinannya, sedangkan aku masih untuk hobi. Lulus kuliah, sembari apply sana sini, bikin event bikin ibuku gerah hahaha. Pengangguran tapi sok banyak acara, aku sih bebal aja (kadang).

Tahun 2011 Craft Carnival yang aku bikin bersama teman-teman di Magic Fingers Syndicate berhasil mencapai popularitasnya, hingga perlu membuatnya menjadi acara rutin setiap tahun. Dulu sempat bercita-cita membuat acara Craft Carnival itu sebagai "Renegade fair"-nya Jogja. Sampai akhirnya Craft Carnival berhenti di tahun ke-3, dan Magic Fingers Syndicate bubar karena kesibukan dari masing-masing personilnya. Percayalah, komunitas atau perkumpulan anak muda cepat atau lambat pasti akan bercerai berai, karena semua bertumbuh, semua memiliki kebutuhan yang harus diutamakan yaitu keluarga. Sudah tidak bisa lagi kita seenaknya nongkrong dan chit chat sana-sini semacam anak abg. It's about time, I guess.

Berhentinya Craft Carnival, membuat aku tidak punya alasan lagi untuk tidak bekerja. Mengerjakan Craft Carnival dan menjadi member MFS bagiku adalah pekerjaan dan identitasku karena aku dikenal banyak orang penting, media (koran, majalah), komunitas, dinas kota Jogja, dan semuanya. Aku menjadi penggangguran saat itu semua berhenti. Aku sempat bekerja dan bikin bisnis sendiri. Bisnisku sangat labil, tidak berdasarkan passion, tetapi hanya berdasar mood. Berkali-kali berganti nama dan jenis produk, dari mulai membuat sepatu, menyulam, menjahit, membuat asesoris, dan masih banyak lagi. Entah kenapa semuanya aku suka tetapi aku juga mudah bosan untuk mengerjakannya. Hingga aku merasa kesalahan terbesarku dalam berbisnis adalah hal itu, berganti produk, tidak konsisten, tidak fokus. Orang-orang seperti tidak kuberikan kesempatan untuk mengenal brandku karena begitu mereka mau order, aku sudah berganti produk jualannya haha. Marketing yang gagal.

Aku pernah capek dan berhenti untuk berkarya, bermodalkan networking selama aku dulu membangun jaringan di dunia craft aku mulai bekerja lagi. Jam kerja sangat fleksible, ini yang bikin aku kembali merasa menyia-nyiakan waktu luang. Lagi, aku membuat produk dan berbisnis sembari bekerja. Keberuntungan datang dan membuatku sibuk dan tidak memiliki waktu untuk bekerja haha. Aku berpikir, mungkin aku nggak cocok bekerja sama orang. Tetapi tetap aku kerjakan, hingga ide isengku muncul untuk membuat zine craft dan menjualnya di acara Jogja Zine fest tahun 2014. Awal responnya tidak terlalu spektakuler, biasa saja, bahkan aku sampai kelupaan membuat edisi selanjutnya. Entah kenapa akhirnya aku memilih untuk menghentikan semua bisnis labilku, menghentikan kerjaan menjahit, menyulam, dan semua ketrampilan yang aku bikin. Tidak hanya itu, aku pun juga resign, bertepatan dengan adanya event bazaar yang menjadi bazaar terakhirku menjual produk handmadeku. Setelah sudah tidak lagi bekerja dan tidak juga memiliki bisnis handmade yang dulu pernah menghantarku berjualan di Malaysia. Aku refreshing. Jadi pengangguran lagi sambil memikirkan apa yang benar-benar ingin kulakukan, yang aku nggak gampang bosan mengerjakannya, dan yang bisa bermodalkan jaringanku di dunia seni dan craft yang aku geluti selama ini. Tercetuslah untuk meneruskan edisi majalah yang sempat aku abaikan di tahun 2014 yaitu Folksy magazine. Yup aku akan serius menggarap majalah Folksy ini pikirku. 

Aku tidak pernah ikut komunitas jurnalistik, atau belajar tentang jurnalistik. Awal aku nekat menggarap majalah hanyalah karena aku suka membaca majalah (aku kurang suka baca buku, novel, seriusan lho!), aku susah mencari majalah yang isinya tentang apa aku sukai, dan aku ingin memperkenalkan teman-teman crafterku agar tetap menjadi sorotan jika popularitas craft suatu saat redup. 

Apa akan berubah lagi? menjadi labil lagi?
Tidak akan pernah! Jawabku pada diri sendiri. Aku mau fokus disini, aku mau tetap bertahan dengan folksy magazine. Aku tidak akan mengambil yang lain-lain lagi, cukup satu dulu karena tidak fokus menjadi kesalahanku dulu. Coba kalau dari dulu aku sudah fokus pasti sekarang aku juga sudah mulai merasakan kesuksesannya. Tidak, aku tidak menyesal, itu semua perjalananku untuk mencapai dan mendapatkan apa passionku selama ini, aku tidak akan menghilangkan sedikitpun kenangan selama perjalanan ini.

Cobaan terbesar dan terberat 
Kata orang musuh besar pada diri kita adalah diri kita sendiri, ya benar sekali. Aku pun merasakannya. Ada banyak ketololan diriku yang menjadi penyebab semuanya menjadi masalah besar untuk diriku. Aku sempat capek dengan semuanya, hingga aku merasa ingin berhenti dengan folksy magazine. Marah, kecewa, semuanya aku rasakan. Tetapi aku ingat dengan kalimat "jangan mengambil keputusan saat marah, karena kamu akan menyesalinya". Kalimat itu membuat aku menunda keputusanku untuk menghentikan bisnis majalahku, aku akan mengambil keputusan setelah aku tidak marah atau sedih atau kecewa lagi. Yang aku lakukan tentu melakukan semua hal yang bikin aku happy dulu dan melupakan masalahnya. Dan lagi, untung saja aku bisa menahan diri, aku akhirnya tidak jadi menghentikan bisnis majalahku. Meskipun sampai sekarang juga masih terpelosok dalam permasalahan tetapi aku akan pelan-pelan melangkah dan memperbaiki semua. Folksy pun tahun ini akan menginjak usia 2 tahun, masih terlalu dini untuk berhenti, ini baru langkah awal, biasa dengan adanya halangan atau masalah apapun. Yang harus aku lakukan hanyalah jangan berhenti dan tetap berjalan. 

Kesimpulannya?
Ada beberapa kata yang aku sadari banyak membantuku selama ini, selama tahun 2011-2016 ini yaitu: 

kamu harus memiliki kaki yang kuat agar bisa menopang dirimu sendiri, kamu tidak akan lagi bisa bersama-sama dengan sahabatmu untuk mencapai passionmu, kamu akan berjalan sendiri karena begitu kalian dewasa, ada banyak pilihan berbeda dan utama yang harus kita pilih masing-masing. Bersenang-senang bersama? bisa tapi tidak akan seperti saat kita remaja lagi. Just face it!

fokus dan konsisten, labil dan masih ambil banyak hal untuk kita kerjakan akan membuat kita tidak fokus dan capek sendiri. Memang ada baiknya sih karena kita jadi bisa sekalian mencari passion kita tuh apa tapi jangan kelamaan, it will waste your time. Saat temanmu sudah berhasil, kamu akan tetap statis berada disitu, nggak mau khan?

jangan mengambil keputusan saat marah, karena kamu akan menyesalinya, ya kau nanti akan merasakan sendiri perbedaannya, dan keuntungannya disini adalah akan sedikit pula hal yang akan kamu sesali

Perjuangkan passion kamu, aku dibilang orang tuaku sebagai anak yang bebal dan pemimpi, karena aku sangat ingin memiliki bisnis kreatif sendiri dan semua orang memandang keinginanku adalah khayalan. Ya caranya biar nggak dibilang khayalan, kita buktikan saja dengan hasilnya, jangan menyerah meskipun kamu terjatuh berkali-kali karena apa yang kamu awali harus kamu selesaikan. Belum punya passion? carilah tapi jangan kelamaan, kamu nanti akan jadi orang bingung dan menjadi orang yang bekerja secara terpaksa.

Keep on learning, aku bukan orang yang ahli di bidang yang aku geluti sekarang, aku bukan anak desain, bukan pula anak jurnalistik. Tapi aku yakin semuanya bisa aku lakukan dengan belajar, bisa belajar dengan bertanya teman, orang yang ahli dibidangnya, belajar pada pengalaman juga penting 

Humble. Aku banyak menemukan orang yang memiliki karya bagus sekali tetapi tidak memiliki attitude yang oke, dan itu membuatku tidak tertarik. Mereka pasti akan hilang dimakan jaman ketika orang tidak lagi memiliki simpati terhadapnya.

Cheers,
Lucia Berta
2:50 PM No comments
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose