Aku pernah salah memperkirakan waktu panen. Kukira cabe besarku sudah matang, ternyata masih harus menunggu sampai berwarna merah meskipun panjangnya sudah hampir setelapak tangan.
Cabe merah besar bisa dipanen setelah berumur 60 hingga 85 hari. Periode yang terasa sangat lama untukku yang terbiasa menanam sayur daun, yang hanya dalam 30 hari sudah bisa dipanen. Tidak mudah bersabar diri untuk tidak memetik cabenya. Ada keinginan sekaligus kecemasan dalam penantiannya. Ingin segera difoto terus dipamerkan di media sosial, ingin segera dipakai untuk memasak, cemas kalau tiba-tiba terkena hama atau hujan lalu buahnya busuk, cemas kalau tiba-tiba tanamannya mati mendadak, dan banyak lagi.
Belajar dari kesalahan, aku berusaha menahan diri dan menunggu sampai waktunya tiba.
Menunggu untuk segelintir orang memang sangat menyebalkan. Baru menunggu 5 menit sudah gelisah, menunggu 10 menit perasaan makin tidak karuan, menunggu 30 menit sudah sibuk cek smartphone. Kalau menggunakan standar manusia sekarang. Sabar menunggu lama bahkan sampai berpuluh tahun itu mustahil karena pasti ada saja godaan untuk menyerah di tengah perjalanan. Alasan yang biasanya digunakan adalah keburu tua, nanti keburu mati, nanti keburu tertinggal dengan teman yang lain, dan banyak lagi.
Bersabar pun melelahkan. Apalagi saat mengalami pergumulan yang sangat sulit. Seringkali juga jawaban Tuhan datang tak secepat yang kita inginkan. Tapi kita tidak sendirian, semua orang juga sedang dalam penantiannya masing-masing. Ada yang sudah sampai berpuluh tahun menunggu, bertahun-tahun menunggu, berbulan-bulan, bahkan mungkin baru beberapa minggu ini menunggu. Semua punya waktunya sendiri.
Menunggu dan bersabar adalah dua kata yang saling berkaitan dan sama-sama butuh usaha untuk melakukannya. Sialnya kita juga tidak bisa memisahkan keduanya kalau mau berbuah.
Berefleksi dari prosesku berkebun, akhirnya aku menyadari bahwa ternyata caraku menunggu itu salah. Menunggu yang kulakukan adalah cenderung pasif atau diam. Memandangi dan mengunjungi tanamannya (hampir) setiap hari. Itu yang membuat waktunya terasa sangat lama dan panjang.
Coba kalau aku bergerak aktif. Mengalihkan perhatian dengan pekerjaan berkebun lain yang juga kusuka dan tak membosankan. Misalnya aku menunggu sembari menanam benih bunga matahari, merencanakan ulang tata letak kebun, atau belajar menyetek pohon anggur. Waktu menunggu akan lebih cepat. Tahu-tahu panen cabe.
Fokus 'menungguku' yang salah. Membuat prosesnya tak menyenangkan. Keinginan kuat atau ambisi untuk segera mendapatkan hasil telah menutup mata. Sehingga lupa kalau masih ada banyak kegiatan membahagiakan yang bisa dilakukan sewaktu menunggu.
Jadi, apa kamu juga sedang dalam penantian sama seperti aku? Apa yang ingin kamu kerjakan selama proses menunggu?












