• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun

Apa yang kamu lakukan ketika lagi mengalami kecemasan, penat, stres, atau burnout karena pekerjaan? Kalau aku pastinya pergi ke kebun mini belakang rumah dan berkegiatan disitu. Entah jalan-jalan berkeliling melihat beberapa tanaman, menyiram tanaman, atau sekedar melamun. Untungnya ada berbagai macam jenis tanaman yang kutumbuhkan. Mulai dari sayuran hijau, pohon buah dalam pot, bunga-bungaan, rimpang, dan yang tak kalah penting, tanaman aromatik. Berkebun dipercaya bisa membantu mengendurkan ketegangan sehingga badan menjadi lebih segar dan santai. Hal ini disebabkan karena munculnya efek relaksasi alami yang kuat saat kita berada di kebun ataupun taman, seperti aroma tanah yang segar setelah hujan atau tersiram air, sentuhan lembut pada bunga, warna hijau yang menyegarkan mata, dan aroma daun-daun aromatik yang menenangkan pikiran.

Aku punya 5 tanaman aromatik yang biasanya berhasil bikin mood-ku kembali oke sekaligus membantu meringankan kecemasan yang kualami beberapa waktu belakangan ini.


Jeruk purut
Ketika berada di kebun aku suka iseng memetik daun jeruk purut, meremasnya, kemudian mencium harumnya. Baunya sangat khas dan menyegarkan. Aku menanam jeruk purut di pot sedang, sengaja kubikin tabulampot. Daun jeruk purut juga sangat berguna buatku yang suka memasak tom yam.



Kayu putih
Iya ini daunnya berbau minyak kayu putih, mirip yang sering kita beli di apotik. Sebenarnya tanaman ini termasuk pohon besar berkayu tapi karena masih kecil jadi cuma kutanam di polybag saja untuk sementara. Kayu putih banyak jenisnya, untuk yang satu ini aku kurang tahu nama botaninya. Aku mendapatkannya dari seorang teman. Bibitnya kucabut dan kubawa sampai rumah. Tak disangka tetap bisa hidup dan cepat tumbuhnya. Beberapa kali aku menggunakan daun kayu putih ini untuk mandi dengan meremas beberapa helai daunnya dan dicampurkan ke air panas/hangat. Badan jadi enak banget, apalagi wanginya duh bikin candu. Bisa dibilang mandi dengan air hangat + daun kayu putih adalah perpaduan paling nikmat untuk aktivitas relaksasi setelah capek kerja. Oya kalau ada yang punya tanaman kayu putih ini dan tahu nama botaninya bisa kasi tahu aku ya di komen :)


Kemangi
Siapa sih yang nggak tahu kemangi? Biasanya ada di makanan sebagai lalapan, dicampur sambal, atau menjadi tambahan herb dalam masakan tertentu. Kalau di kebun orang luar/bule ada basil, kita punya kemangi buat aromaterapi. Baunya yang khas dan bikin kangen, atau malah bikin tiba-tiba laper :) Aku mendapatkan kemangi ini waktu jajan es buah di pinggir jalan. Tak sengaja tempatku menunggu pesanan es buah dibikin, ada beberapa rumput liar. Dan dengan rasa penasaran, mataku tertuju pada satu tanaman yang familiar yang tumbuh diantara rumput liar itu. Begitu keraguanku terjawab dengan mencium daunnya yang kupetik, langsung saja kucabut sampai akar dan membawanya pulang. Kemangi termasuk tanaman yang gampang banget tumbuh. Sangat cocok untuk pekebun pemula. Tanaman ini suka banget kalau daunnya sering dipetik, karena malah akan tambah rimbun.


Sereh
My all time favorite dan harus ada di kebun karena aku suka banget sama wanginya, dan selalu pakai ini untuk dibikin jamu atau teh. Sereh ini perawatannya sangat gampang, bisa ditanam di kondisi apapun meski lebih suka tempat yang sangat panas, dan manfaatnya banyak banget. Namun kalau pas lagi panen atau berada dekat tanaman sereh yang rimbun kamu harus hati-hati ya. Tanpa disadari ternyata daunnya lumayan tajam. Beberapa kali tanganku tak sengaja tersayat saat panen.


Rosemary
Tahun 2017 aku pernah menanam rosemary dan tumbuh sangat subur waktu itu (meskipun rosemary ini lebih suka daerah dingin sedang tempatku tinggal di dataran rendah). Kepercayaan diri yang tiada batas :D bikin aku menanamnya lagi tahun ini. Aku beli bibitnya secara online. Dari 5 bibit, sisa 2 saja. Lainnya mati :) Rosemary ini memang agak tricky untuk ditumbuhkan di dataran rendah tapi nggak ada salahnya kalau mau mencobanya. Aku seneng banget menyentuh daunnya, karena baunya akan menempel di tangan. Nggak perlu petik daun, tinggal pegang-pegang aja (ehhh..) trus tangannya sudah awet berbau harum khas rosemary seharian.

Pekebun pemula kadang lupa kalau tak hanya cabe, terong, bayam, sawi-sawian yang cocok dijadikan pilihan memulai berkebun, tanaman aromatik seperti yang kusebutkan di atas pun sangat mudah ditanam dan sangat cocok. Manfaatnya banyak, tak cuma bisa dikonsumsi sebagai minuman atau makanan, tapi juga aromaterapi atau untuk relaksasi. 

Next, mau coba tanam apa ya? Kamu punya ide?

3:56 PM No comments
Tahun ini aku punya hobi/kegiatan baru yaitu membuat natural dye from scratch! Benar-benar dari petikin daunnya trus direbus, dibikin larutan pewarna alam sampai menghasilkan kain dengan warna yang cantik. Banyak orang mempertanyakan kegiatan baruku ini dengan bilang "Kamu kan sudah dari 2011 berkecimpung di dunia craft, natural dye juga bukan barang baru untukmu, kenapa baru sekarang belajar bikinnya?" Aku juga sempat berpikir hal yang sama, kenapa ya nggak dari kemarin-kemarin? Kalau saja sudah dari dulu sekarang pasti sudah bisa bikin banyak hal dari ini. But wait, refleksi balik, "Dulu aku ngapain aja? Aku sibuk ngurusin ini itu yang juga nggak kalah penting," kutemukan jawabannya! Mungkin memang udah waktunya aku belajar tentang natural dye ini. Nggak ada yang terlambat, semua pas pada waktunya. 

Kain yang diwarnai dengan (natural dye) pewarna alam daun jambu biji

Kata 'terlambat belajar' kurang familiar untukku. Aku adalah orang yang senang belajar sesuatu yang baru, penasaran akan banyak hal, dan pekerjaanku dulu menuntutku untuk itu. Mulai dari jurnalistik, foto, video, membuat materi kreatif, belajar menyablon, menyulam, menjahit. Kegiatan itu pernah menjadi hal baru untukku di usia sekitar 23an. Bukan usia remaja. 

Dalam siklus kehidupannya, manusia terus mengalami peristiwa baru untuk yang pertama kalinya. Sejak bayi, kita pertama kali mengucapkan kata, pertama kali berjalan, pertama kali sekolah. Beranjak dewasa, kita pertama kali jatuh cinta, pertama kali merasakan bekerja, pertama kali memiliki anak, dan seterusnya. Anehnya ketika sudah berusia 30an keatas kita semakin enggan melakukan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya lagi. Mungkin ada ketakutan akan resiko yang bisa terjadi. Takut diejek, takut dengan masalah finansial, takut akan perubahan karena sudah nyaman, atau bisa juga takut merasa seperti buang-buang waktu kalau melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan dan keluarga.

Padahal melihat kenyataan yang ada di sekitar kita saat ini, hidup tak berhenti pada waktu sudah menikah. Tak berhenti pada waktu sudah punya anak. Tak berhenti pada waktu sudah punya pekerjaan tetap. Tak berhenti pada waktu sudah bercerai. Tak berhenti pada waktu tak lagi punya siapapun. Aku melihat keluarga dan teman sekelilingku yang memulai hidupnya dari nol lagi di usia yang juga tak lagi muda. Dan jangan salah, alam yang kita tinggali ini pun demikian, selalu memperbaharui diri. Usia bumi yang sudah ada ribuan tahun lebih pun ikut meremajakan diri lagi. Menggagalkan istilah 'terlalu tua untuk memulai kembali.' 

"When you stop growing, you start dying" quote inspiratif yang dipopulerkan oleh William S. Burroughs sangat mewakili kondisi ini dan mengubah cara pikirku. Melakukan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya itu ibarat bertumbuh. Setiap kamu belajar hal baru, setiap detik itu juga dirimu bertumbuh. Jika berhenti dan tak mau bertumbuh maka perlahan-lahan kita akan "mati". Kita jadi nggak punya apa-apa lagi untuk mengisi kebutuhan untuk bertumbuh. Melakukan hal baru dalam hidup memang selalu ada resiko yang akan didapatkan, namun bagiku resiko itu sepadan dengan perubahan yang kurasakan. Perlahan rasa percaya diri yang kembali muncul, penghargaan pada diri bahwa aku masih mampu, cara pandang yang tak melulu hanya disitu-situ saja, rasa bangga bisa mengalahkan ketakutan diri sendiri, dan jadi lebih memahami tentang diri sendiri. 

Kalau kamu, apakah punya sesuatu yang ingin dilakukan tapi takut untuk memulainya? Kusarankan segeralah mengerjakannya! Mungkin bisa dengan perlahan, sedikit demi sedikit. Aku dan kamu tak pernah terlambat belajar atau melakukan sesuatu, selama kita masih diberi hari baru :)

11:39 AM No comments

Aku pernah salah memperkirakan waktu panen. Kukira cabe besarku sudah matang, ternyata masih harus menunggu sampai berwarna merah meskipun panjangnya sudah hampir setelapak tangan. 

Cabe merah besar bisa dipanen setelah berumur 60 hingga 85 hari. Periode yang terasa sangat lama untukku yang terbiasa menanam sayur daun, yang hanya dalam 30 hari sudah bisa dipanen. Tidak mudah bersabar diri untuk tidak memetik cabenya. Ada keinginan sekaligus kecemasan dalam penantiannya. Ingin segera difoto terus dipamerkan di media sosial, ingin segera dipakai untuk memasak, cemas kalau tiba-tiba terkena hama atau hujan lalu buahnya busuk, cemas kalau tiba-tiba tanamannya mati mendadak, dan banyak lagi.

Belajar dari kesalahan, aku berusaha menahan diri dan menunggu sampai waktunya tiba. 

Menunggu untuk segelintir orang memang sangat menyebalkan. Baru menunggu 5 menit sudah gelisah, menunggu 10 menit perasaan makin tidak karuan, menunggu 30 menit sudah sibuk cek smartphone. Kalau menggunakan standar manusia sekarang. Sabar menunggu lama bahkan sampai berpuluh tahun itu mustahil karena pasti ada saja godaan untuk menyerah di tengah perjalanan. Alasan yang biasanya digunakan adalah keburu tua, nanti keburu mati, nanti keburu tertinggal dengan teman yang lain, dan banyak lagi. 

Bersabar pun melelahkan. Apalagi saat mengalami pergumulan yang sangat sulit. Seringkali juga jawaban Tuhan datang tak secepat yang kita inginkan. Tapi kita tidak sendirian, semua orang juga sedang dalam penantiannya masing-masing. Ada yang sudah sampai berpuluh tahun menunggu, bertahun-tahun menunggu, berbulan-bulan, bahkan mungkin baru beberapa minggu ini menunggu. Semua punya waktunya sendiri. 

Menunggu dan bersabar adalah dua kata yang saling berkaitan dan sama-sama butuh usaha untuk melakukannya. Sialnya kita juga tidak bisa memisahkan keduanya kalau mau berbuah.

Berefleksi dari prosesku berkebun, akhirnya aku menyadari bahwa ternyata caraku menunggu itu salah. Menunggu yang kulakukan adalah cenderung pasif atau diam. Memandangi dan mengunjungi tanamannya (hampir) setiap hari. Itu yang membuat waktunya terasa sangat lama dan panjang.

Coba kalau aku bergerak aktif. Mengalihkan perhatian dengan pekerjaan berkebun lain yang juga kusuka dan tak membosankan. Misalnya aku menunggu sembari menanam benih bunga matahari, merencanakan ulang tata letak kebun, atau belajar menyetek pohon anggur. Waktu menunggu akan lebih cepat. Tahu-tahu panen cabe. 

Fokus 'menungguku' yang salah. Membuat prosesnya tak menyenangkan. Keinginan kuat atau ambisi untuk segera mendapatkan hasil telah menutup mata. Sehingga lupa kalau masih ada banyak kegiatan membahagiakan yang bisa dilakukan sewaktu menunggu.

Jadi, apa kamu juga sedang dalam penantian sama seperti aku? Apa yang ingin kamu kerjakan selama proses menunggu? 
12:16 PM No comments
Ngomong-ngomong tentang kesehatan mental, aku punya unek-unek yang ingin kusampaikan. Pertama, aku senang dengan adanya fenomena bahwa anak muda milenial tidak lagi tabu membicarakan tentang kesehatan mental. Iya benar, itu bukan hal yang tabu, dan harus bisa menjadi kesadaran dan bahan percakapan sehari-hari di masyarakat umum. Akan tetapi, ada juga yang bikin aku gemes karena adanya hal yang kurang tepat tentang kesehatan mental, yaitu populernya penggunaan istilah "healing" dengan diasosiasikan kegiatan jalan-jalan atau rekreasi. Hmm aku pikir kurang tepat ya, kalau kau merasa jenuh atau burnout karena pekerjaan, dan ingin jalan-jalan agar pikiran kembali fresh itu lebih cocok disebut refreshing. Dari pengertian refreshing dan healing saja sudah berbeda.  

Refreshing adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menyegarkan kondisi tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh padatnya aktivitas yang menguras banyak tenaga tubuh maupun tenaga pikiran, sehingga kondisi tubuh dan pikiran menjadi lebih segar yaitu dengan cara menghibur diri, sedangkan healing adalah lebih mengarah pada penyembuhan/upaya pemulihan luka batin.  


Contoh lagi, yaitu bangga berkoar-koar kalau dirinya memiliki gangguan mental padahal belum pernah periksa, atau hanya mendiagnosis diri (self-diagnosis) sendiri tanpa ilmu yang mumpuni. Ini sungguh TETOT (X) besar ya. Banyaknya fenomena selebritis anak muda yang announce kalau diri mereka mengalami mental illness, trus pengikutnya juga ikut melakukan hal yang sama tanpa ada bukti dari catatan seorang profesional (psikolog atau psikiater) tidak bisa kita jadikan pembenaran. Memiliki gangguan mental itu berat dan capek lho gengs, bukan sesuatu yang menyenangkan dan membanggakan. Seorang penyintas akan lebih bersyukur kalau dia nggak perah mengalami gangguan tersebut eh yang sama sekali nggak kena gangguan itu malah kepingin, kan bikin gemes ya :(

Nah lain cerita kalau kalian merasa ada sesuatu yang dirasa tidak menyenangkan pada diri sendiri, daripada self-diagnosis, mending pergi ke psikolog atau psikiater untuk mencari tahu lebih lanjut apa sih yang sedang terjadi pada diri kalian. Jangan salah ya, nggak semua konsultasi psikologi itu mahal, ada juga kok yang affordable misalnya di Puskesmas, dan ada juga yang bisa dicover sama BPJS. Cari infonya sebanyak mungkin di daerah kalian tinggal ya karena biasanya infonya berbeda. Kalau ada lagi yang protes: "Pernah pergi ke psikolog tapi psikolognya judgemental banget bikin males". Yes, aku tahu dan tidak menyangkal kalau memang ada banyak psikolog yang judgemental (suka menghakimi orang lain) dan bikin kapok datang kesitu, bahkan temanku juga banyak yang mengalami hal itu. Sebagai manusia biasa yang banyak kurangnya, semuanya sama termasuk seorang psikolog. Itulah pentingnya kita untuk cari info atau mencoba di beberapa psikolog agar bisa tahu psikolog mana yang cocok dan bisa bikin nyaman.

Masih ingin tahu info lebih banyak tentang kesehatan mental dan istilah-istilahnya? Untungnya jaman sekarang semua informasi bisa didapat dengan mudah. Ada banyak sekali lho lembaga konsultasi psikologi yang memiliki media sosial dan sering banget berbagi pengetahuan seputar kesehatan mental, nah mending kita ikuti saja sosial medianya karena lebih valid dan info yang diberikan sesuai dengan ilmunya.

Oke, lanjut dengan pembahasan sebenarnya untuk artikel ini. Kali ini aku mau bagi-bagi printable gratis yaitu berupa jurnal. Jurnal ini khusus untuk kalian yang sedang berjuang atau mengalami anxiety disorder. 

Menulis jurnal harian memiliki banyak manfaat, diantaranya untuk kesehatan mental kita. Dengan menulis kita jadi mampu untuk mengekspresikan perasaan atau emosi, mengenali apa yang sedang dirasakan dalam diri dan masih banyak lagi. Nah berdasarkan hal itu aku mencoba membuat jurnal kecemasan sederhana yang bisa dikerjakan sendiri tiap hari. Jurnal ini berisi lembar kerja yang bisa membantu kalian/penyintas Anxiety Disorder untuk menulis apa yang sedang dirasakan, mengenali trigger yang sering muncul, dan mengubah pola pikir serta perilaku menjadi lebih sehat dan positif.

Lembar kerjanya aku adaptasi dan sederhanakan dari teori CBT (Cognitive Behavioral Therapy) agar mudah dipahami oleh masyarakat awam. CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang juga disebut dengan terapi perilaku kognitif adalah salah satu bentuk psikoterapi yang berfokus pada pikiran dan perilaku seseorang. Terapi ini bertujuan untuk mengubah atau melatih cara berpikir dan  cara bertindak. Sebagai contoh, pemikiran yang tidak tepat tersebut seperti berfikir bahwa seseorang tidak dihargai oleh kelompok tertentu sehingga membuat individu tersebut menjauhi kelompok yang belum tentu benar-benar tidak menghargainya. Dengan memberikan terapi kognitif, diharapkan seseorang mampu merespon pemikiran yang kurang tepat tersebut dengan lebih rasional, sehingga pemikiran dan perilaku mereka lebih efektif.

ISINYA APA SAJA?
Anxiety Journal yang kubikin ini ada 7 tema lembar kerja, yaitu:
1. Worry Journal, adalah lembar kerja dimana bisa kalian kerjakan setiap hari untuk mengetahui kecemasan yang datang dan bagaimana cara kalian menanganinya
2. Triggers & Symptoms, adalah lembar kerja yang membantu kalian menuliskan dan mengenali apa saja trigger (pemicu) yang sering muncul dan membuat kalian cemas, serta apa yang kalian lakukan jika kecemasan itu muncul 
3. Worry Helpers, adalah lembar kerja yang membantu kalian menuliskan kegiatan apa saja yang bisa membuat kalian rileks selama mengalami kecemasan
4. Fear and Avoidance, adalah lembar kerja yang membantu kalian mengenali dan memberi peringkat situasi yang membuat kalian ketakutan dan ingin menghindarinya
5. Positive Self-Talk, adalah lembar kerja yang membantu kalian mengubah pola pikir dan kebiasaan dalam mengungkapkan perkataan negatif menjadi positif
6. Unhelpful Thoughts, adalah lembar kerja yang membantu kalian menyadari perasaan negatif yang muncul dalam situasi tertentu yang sebenarnya tidak realistis sehingga perasaan negatif itu harus diubah menjadi pemikiran yang realistis
7. Habit Trackers: mood tracker, meal tracker, sleep tracker, dan exercise tracker
Adalah lembar kerja yang bisa membantu kalian melacak (tracking) perilaku atau kebiasaan dan perasaan setiap harinya, seperti mood, tidur, olahraga, dan makan. Diharapkan dengan pola perilaku sehari-hari yang kita lacak tersebut dapat memunculkan disiplin diri untuk mengubahnya menjadi kebiasaan baik. Ada tertulis: "Dalam hidup yang sehat terdapat jiwa yang sehat juga," hal inilah yang mendasari pembuatan habit tracker ini :)

DISCLAMER DULU YA: Jurnal ini bukan sebagai pengganti kalian untuk tidak datang ke psikolog, tetapi hanya sebagai tambahan (yang tidak wajib tentunya) selama kalian konseling ke psikolog. Kalau kalian suka healing selama proses pengobatan/konseling dengan menulis jurnal tetapi terkadang tidak tahu apa yang ingin kalian tulis mengenai kecemasan kalian, jurnal ini bisa digunakan sebagai pemantiknya.

BAGAIMANA CARA MENGGUNAKANNYA?
Jurnal ini bisa kalian gunakan dengan 2 cara yaitu: 1) diprint di kertas berukuran A4 lalu diisi manual menggunakan pulpen, dan 2) bisa digunakan secara digital yaitu menggunakan tablet atau ipad. 

Untuk penggunaan dengan tablet atau ipad, kalian butuh aplikasi untuk membukanya (annotate app) dan stylus atau apple pencil. Pada jurnal ini juga sudah disertai dengan hyperlinks sehingga memudahkan kalian pengguna tablet atau ipad untuk membuka tiap section yang kalian langsung ingin kerjakan.

anxiety journal free download

kesehatan-mental-anak-milenial

jurnal untuk gangguan kecemasan



Cara mengunduhnya tinggal klik di link ini: Anxiety Journal atau klik gambar Get Free Printables di sisi kanan template blog ini. Tolong diingat ya kalau jurnal ini PERSONAL USE ONLY jadi jangan diperjualbelikan. Terima kasih, semoga bisa membantu proses pemulihan kalian :)


Cheers,
Lucia Berta


1:19 PM No comments
Bisa dibilang berkebun telah menyelamatkan hidupku. Tahun 2019 adalah salah satu tahun yang berat untukku, dimana tahun tersebut aku mengalami krisis tujuan hidup. Semua hal yang menjadi tujuan hidupku hilang, dan aku bingung mau ngapain lagi, mau bikin apa lagi, atau mau ngerjain apa lagi. Semua serba clueless hingga menyebabkan aku tidak percaya diri lagi, penghargaan diriku rendah, aku mulai menarik diri dari lingkungan, hingga aku (sadar) menjadi toxic (racun) untuk semua orang disekitarku dengan emosi diriku yang tidak stabil. Tahun 2019 juga merupakan tahun awal pandemi Covid-19 mulai populer. Semua harus di rumah untuk memutuskan rantai virus Covid-19. Dalam dua kondisi hebat yang sedang kualami saat itu muncul perasaan antara senang karena merasa seakan-akan Tuhan memberikanku waktu untuk bisa healing di rumah sementara waktu, dan perasaan cemas, takut, sedih karena akibat yang ditimbulkan dari adanya pandemi itu sangat menakutkan. 

coping-stress-dengan-berkebun

Beruntungnya aku sempat iseng menanam sayuran (dalam skala kecil/hobi saja). Kegiatan itu yang akhirnya aku teruskan untuk mengisi waktu di rumah. Dari sekedar ingin mencoba belajar menanam, malah akhirnya menjadi sarana meditasi dan mengelola stres. Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana prosesnya?

Ketika kita dalam keadaan stres atau kondisi kesehatan mental yang kurang baik, kita membutuhkan strategi yang bisa digunakan untuk mengelola stres tersebut dengan berusaha mengendalikan tekanan yang muncul dalam diri. Strategi tersebut sering dikenal dengan nama coping stress. Coping adalah sebuah cara dari individu dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan dari lingkungannya dan sebuah usaha untuk meminimalisir kesenjangan antara tuntutan diluar individu dengan kemampuannya. Dijelaskan juga oleh *Matheny (Safaria dan Saputra, 2012) bahwa coping adalah upaya yang bersifat sehat maupun tidak sehat, positif maupun negatif, usaha secara sadar maupun tidak sadar, untuk mencegah, menghilangkan, atau mengurangi stressor, atau memberikan ketahanan yang ditimbulkan oleh stres. Aktivitas seperti melakukan hobi atau sesuatu yang positif adalah termasuk dalam contoh strategi coping, dan berkebun juga bisa masuk dalam aktivitas tersebut.

Selama ini secara tidak sadar ternyata aku telah menggunakan aktivitas berkebun sebagai coping stres-ku (jika merujuk pada teori diatas). Inilah kenapa aku merasa banyak mengalami perubahan dalam mengelola emosi dan merasa lebih sehat secara jiwa daripada di tahun-tahun kemarin. Proses saat memegang tanah, memperhatikan tanaman yang sedang tumbuh, menyiram tanaman, berada di luar ruangan dengan badan terkena sinar matahari pagi, menghirup udara yang segar, dan semua hal menyenangkan selama berkebun itu dapat mengubah emosi negatif menjadi energi positif. Berkebun juga mengajakku untuk bisa menjadi diri sendiri dan mengekspresikan diri. Rasa penat dan overwhelmed yang sering dirasakan saat bekerja sering kali membuat tubuh dan pikiran capek, akhirnya kita tidak bisa meluangkan waktu untuk enjoy something of our own. Nah, dengan berkebun aku jadi bisa memiliki waktu untuk melakukan hal yang kusukai, dan tanaman itu tidak pernah menghakimi (nggak seperti society :p ) jadi kita bisa dengan santai menjadi diri sendiri.  

Kegiatan berkebun membuat kita dapat meregangkan tubuh walau sebentar. Peregangan itu sangat penting saat pundak, bahu, dan leher kita kaku ketika bekerja di depan laptop atau komputer seharian. Peregangan tubuh dikombinasikan dengan deep breathing bisa menjadi latihan mudah dan praktis yang bisa dilakukan sehari-hari untuk mengurangi tekanan pada tubuh. Secara otomatis hal tersebut juga membantu menaikkan mood dan membuat kita rileks. 

berkebun-sebagai-coping-stress

Bagaimana efek berkebun dalam diriku? Perubahan yang sangat bisa aku rasakan adalah aku bisa merasa kalem dalam menjalani hari. Perasaan negatif yang muncul bisa perlahan aku kelola dan ubah menjadi energi positif yang menghasilkan atau produktif. Berkebun juga mengajariku banyak hal tentang hidup, bahkan aku mulai bisa menghargai diriku sendiri dan bangga pada diri karena pencapaian-pencapaian kecil yang terjadi di kebun, misalnya: akhirnya bisa menumbuhkan tanaman tomat yang subur setelah berkali-kali gagal, bisa menikmati hasil panenan sendiri walau masih sedikit, dan masih banyak lagi. 

Sekarang berkebun (baik tanaman hias atau sayur) diminati oleh banyak orang, dan bahkan sudah menjadi gaya hidup baru dikarenakan situasi yang mewajibkan untuk (sebisa mungkin) berada di rumah sementara waktu. Hal ini tentunya sangat bagus mengingat kesehatan mental kita juga lumayan terguncang akibat dari pandemi Covid-19.  

Wow, tidak menyangka bukan? Keuntungan dari berkebun untuk kesehatan mentalku itu baru sedikit yang kuceritakan, dan dengan merasakan sendiri dari pengalaman tersebut aku sangat merekomendasikan kamu yang ingin mencoba berkebun untuk mengelola stres atau untuk self healing di masa pandemi seperti sekarang ini. Yuk!

Cheers,
Lucia Berta

*Sumber: Safaria, Triantoro dan Saputra, Nofrans Eka. (2012). Manajemen Emosi Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda. Jakarta: Bumi Aksara
3:14 PM No comments


Pernahkah kalian merasa overwhelmed dengan media sosial? Banyak hal yang diposting teman-teman di media sosial, yang secara tidak langsung membuat mental kita semakin down karena kita MERASA nggak bisa seproduktif mereka, atau kita sudah ikut produktif tapi belum bisa sekeren mereka hasilnya? Jujur aku pernah merasakan seperti itu. Melihat Instagramku yang dipenuhi postingan teman-teman yang produktif, membuatku merasa semakin terbebani. Akhirnya berusaha berpikir dengan keras tentang konten yang mau kubagikan. Malah jadi capek banget, serius. Semua dipikirin, nggak enjoy lagi. Takut salah, takut kurang menarik kontennya, semua pikiran negatif menyerang bersamaan. Padahal awalnya tuh seneng aja, semua konten kubuat dengan semangat dan passion menggebu. 

Nah, itulah yang membuatku memutuskan untuk berhenti dari Instagram. Aku capek. Memang awalnya berat, tetapi karena aku punya kegiatan menyenangkan lainnya yang saat ini selalu kukerjakan, yaitu berkebun dan mendesain, aku pun bisa dengan mudah lupa dengan media sosial. Aku benar-benar merasa hidup di hari ini, saat ini juga. Menikmati semua hal yang terjadi hari ini, atau yang lebih sering dibilang "mindful". Aku menghabiskan waktu di rumah berkumpul dengan keluarga, belajar memasak, berkebun, nonton drama Korea/Jepang atau film yang bagus, dan (tetap) belajar hal baru yaitu mendesain. You know what, hasilnya aku merasa lebih baik. Waktu seharian yang dulu habis kugunakan hanya untuk scrolling media sosial seharian dan mikirin konten sudah berubah. Aku seperti refresh, mulai dari awal lagi setelah lama beristirahat. 

Ketika aku sudah siap untuk kembali memiliki media sosial lagi, aku mulai dengan hanya melakukan apa yang kusenangi dan apa yang bisa bikin aku rileks. Tercetuslah bikin akun Instagram lagi dengan konten berkebun, dan dengan mengikuti orang-orang asing (bukan teman) yang suka berkebun juga. Aku merasa bebas saja untuk posting berkebun yang aku suka. Nggak ada beban untuk please other people, dan aku suka itu. 

Take a break and start something new, dua hal yang sangat penting dan aku tidak menyesal telah melakukan semua itu. Apakah kalian juga sedang berada dalam kondisi yang sama denganku, yuk istirahat dulu. Hidup nggak melulu tentang membagikan kehidupan kita di media sosial kok, tetapi menikmati kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Fokus saja pada apa yang kalian sukai dan inginkan, dan kalau itu adalah sesuatu yang baru, tidak ada salahnya kita mulai lakukan. Yuk! Selamat mencoba!

Cheers,
Lucia Berta
10:07 AM 1 comments
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose