• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun

Kalau kalian sudah membaca artikelku sebelumnya yang berjudul "Selling Digital Product: Ide Produk Digital yang Bisa Menghasilkan Passive Income" (bisa baca disini selengkapnya), aku sudah sempat berjanji untuk memberikan tips dan trik tentang apa lagi yang harus dilakukan untuk mulai membuat produk digital. Awalnya bingung mau menulis darimana karena sewaktu aku googling, ternyata sudah ada banyak sekali blog yang sudah membahasnya, yaitu peralatan dan aplikasi yang digunakan untuk membuat produk digital. Pas banget memang aku mau membahas peralatan dan aplikasi yang harus disiapkan pada bagian 2 ini. Sempat kepikiran untuk tidak meneruskan artikelnya tetapi aku merasa perlu untuk ulas juga, bedanya kali ini akan berbagi sesuai dengan pengalaman dan sudut pandangku ya. So, here it is, pengalamanku dalam mempersiapkan peralatan dan aplikasi yang perlu disiapkan untuk membuat produk digital. Disclaimer: aku tidak terlalu ahli menggambar dan mendesain, jadi tips ini bisa banget untuk kamu yang juga sama seperti aku dan punya semangat untuk memaksimalkan semua yang kita punya ;p

selling-digital-product


Peralatan yang dibutuhkan
Tentu saja kalau mau bikin dokumen digital (printable) kita perlu komputer atau laptop, dan wacom atau tablet untuk menggambar. Nah, kalau belum punya wacom atau tablet, nggak usah beli dulu. Kamu harus tahu apakah dengan membeli tablet atau wacom akan worthy atau nggak (kalau kamu memang benar-benar nggak bisa gambar tetapi maksa :( ). Jangan sampai malah sia-sia nggak pernah dipakai karena kamu menyerah nggak bisa menggambar. Jujur itu yang sempat kualami haha, nggak sampai tablet sih tapi aku beli stylus yang bisa kupakai untuk menggambar di smartphone-ku. Stylus itu akhirnya jarang terpakai karena ternyata aku hanya bisa menggambar itu-itu saja, nggak ada perkembangan. Awalnya menggebu mau bikin ilustrasi yang nantinya akan kujadikan art print atau wall art, tetapi nggak jadi. Nggak putus asa sampai sini, aku searching produk digital lain yang bisa kubikin tanpa menggambar, aku pun menemukan notepad, paper template, dan planner. Ketiga produk itu ternyata juga oke banget peminatnya, yang jualan juga banyak. Senangnya lagi, aku hanya membuatnya menggunakan Microsoft Office (ms publisher, ms word, dan ms power point)! Irit banget bukan? 

Tips 1 peralatan yang dibutuhkan: pastikan dulu apa produk yang mau kamu bikin, searching di beberapa marketplace atau tanya dengan teman atau kenalan yang kebetulan juga berjualan produk digital, baru peralatan pendukung itu bisa kamu beli. Kalau masih bisa mengakali atau memaksimalkan apa yang kita punya, itu akan lebih baik.

Aplikasi yang dibutuhkan
Kalau kamu ilustrator atau bisa gambar, selanjutnya kamu akan butuh aplikasi buat menggambar, edit dan lain-lain. Aplikasi yang paling sering digunakan adalah menggunakan corel, procreate, ibispaint, medibang, picsart, dan masih banyak lagi. Bisa juga photoshop jika kamu mau jualan produk digital dengan foto hasil jepretanmu sendiri. Beberapa aplikasi desain yang populer dan gratis juga sudah ada banyak yang bisa dipakai untuk kamu yang sama sekali nggak ngerti desain, yaitu salah satunya Canva. Canva sangat mempermudah hidup kita dalam membuat semua hal yang berbau produk digital karena template-nya lengkap banget, apa aja ada mulai dari kartu nama, feeds instagram, logo, hingga resume (CV). Nah, kalau kamu seperti aku mau bikin paper template dan planner, kamu bisa pakai Microsoft Office yang sudah tersedia di laptop atau komputer.

Tips 2 aplikasi yang dibutuhkan: coba pakai semua aplikasi desain gratis biar kamu tahu mana aplikasi yang lebih mudah dan nyaman untuk membuat produkmu.

Ukuran produk yang dibikin
Ukuran sangat penting dalam pembuatan produk digital terutama printable ya, karena salah ukuran maka berujung fatal (ngeblur, atau terlalu besar jadinya nggak bisa diupload). Setelah kamu tahu mau bikin apa, coba juga cari tahu biasanya yang jual produk sama dengan punyamu kebanyakan menggunakan ukuran berapa. Biasanya tidak ada standard khusus tetapi suka-suka penjualnya saja yang ingin memberikan banyak varian ukuran. Misalnya jika kamu mau bikin wall art/wall print, rata-rata ukuran yang diperlukan dari yang kecil A6, A5, A4, sampai A3 (ukuran Internasional ya), tetapi ada juga yang memberikan ukuran lain. Hal itu nggak masalah kalau kamu juga bisa ikut sediakan, ya sediakan saja, asal dalam deskripsi ukuran produkmu jelas agar pembeli tidak salah mengeprint dan tidak ngeblur hasilnya.

Tips 3 ukuran produk yang dibikin: banyak lihat deskripsi produknya kompetitor biar ngerti ukuran yang dibutuhkan atau yang paling dicari.

Payment method/ metode pembayaran
Metode pembayaran ini yang akan berkaitan dengan marketplace yang kamu pilih untuk menjual produkmu, karena setiap marketplace memiliki ketentuannya sendiri-sendiri. Contohnya yang aku tahu dari pengalamanku berjualan di Teespring dan Etsy (Etsy itu apa dan enak tidak jualan di Etsy, bisa baca artikelku yang membahas tentang berjualan di Etsy disini). Pembayaran di Teespring ada 2 metode yaitu menggunakan Paypal dan Payoneer, karena aku sudah nggak mau pakai Paypal jadi saat itu aku harus bikin Payoneer. Mirip dengan Paypal sih tetapi uang adminnya lebih sedikit daripada Paypal :p Oya FYI, Paypal dan Payoneer adalah rekening virtual yang menyediakan jasa transfer dan pembayaran secara online. Nanti sistemnya jika ada uang penjualan akan diberikan oleh pihak marketplace ke paypal atau payoneer kamu, nah dari paypal itu baru akan ditransferkan lagi ke rekening bank yang kamu punya. Biasanya ada syarat tertentu, salah satunya biaya admin, jadi uang yang bisa kamu dapatkan akan dikurangi beberapa persen untuk biaya gitu. Belum lagi akan lama cair ke rekening bank kamu karena harus dalam jumlah tertentu (ada minimalnya, cmiiw). Lalu untuk Etsy, mereka menggunakan Paypal dan kartu kredit. Nah aku nggak punya kartu kredit jadi aku pakai Jenius sebagai gantinya dan bisa kok. Kalau pakai Jenius, si pihak marketplace akan langsung transfer ke rekening Jenius kamu dan dari pihak Jeniusnya nggak ada potong uang admin. Bisa langsung dicairkan uangnya sama seperti kalau kamu transfer ke antar bank. Lebih ringkas daripada pakai Paypal atau Payoneer.

Tips 4 payment method: pelajari dengan benar metode pembayaran yang kamu pilih ya, apakah mau pakai Paypal, Payoneer, Jenius, atau rekening virtual lainnya, dan pelajari plus minusnya. Usahakan juga jika mengisi data penting untuk kepentingan ini jangan menggunakan data palsu.

Memilih marketplace yang cocok dengan produkmu
Sudah jadi produknya, sekarang jualannya dimana? Bisa jualan di website sendiri tetapi jangan lakukan kalau kamu belum punya banyak pelanggan loyal ya karena akan berat di ongkos websitenya. Hal yang paling mudah dan murah yang bisa kamu lakukan adalah berjualan di marketplace yang bisa menjual produk digital. Marketplace yang akan kusebutkan ini memang dari luar negeri karena di Indonesia aku belum menemukan yang bisa menjual produk digital, eh ada sih, Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak, tapi belum terlalu heboh jualan disitu. Apalagi konsumen orang Indonesia sepertinya juga belum bisa menerima pembelian produk digital (printables). Ada banyak marketplace tetapi kamu juga harus memilih mana yang cocok dengan jualanmu karena pasarnya berbeda. Berikut beberapa marketplace yang bisa kamu pilih diantara sekian banyak yang tidak tersebut disini:

selling-digital-product

Creative Market
Produk yang banyak dijual disini adalah font, instagram templates, product mockup, vector graphic, dan masih banyak lagi.

Spoonflower
Kalau kamu suka membuat gambar berpola (pattern) disinilah tempat yang cocok. Kamu bisa jual desainmu untuk nanti dibikin menjadi kain, wallpaper, sarung bantal dan lain-lain oleh pihak Spoonflower. Kamu tidak perlu membuatnya menjadi kain atau produk fisik lainnya tetapi hanya menjual desainmu saja.

Teespring, Redbubble, Teepublic, dll
Semua yang kusebut hampir sama yaitu situs Print-On-Demand yang sistem kerjanya kamu bikin desain entah gambar atau tulisan lalu memilih untuk diaplikasikan di banyak benda yaitu jaket, kaos, wall art, dll. Lalu nanti kamu akan disuruh mendisplay produk yang sudah kamu bikin di tokomu sendiri. Setiap ada pembeli yang membeli produk dari tokomu maka otomatis pihak situs tersebut akan membuatkannya untukmu dan langsung mengirimkannya pada pembeli. Kamu nggak perlu susah produksi dan mengirimkannya karena semua sudah ditangani pihak situs tersebut. Kamu akan mendapatkan uang dari hasil penjualan yang sudah dikurangi biaya penanganan oleh situs tersebut. Aku pernah membuat toko di Teespring tetapi tidak laris terjual karena aku tidak tahu pasarnya siapa, dan Teespring juga tidak membantu untuk memberikan traffic pengunjung alias kita sendiri yang harus cari traffic dan pembeli. 

Etsy
Adalah marketplace andalan para maker, crafter, dan desainer. Varian penjualan banyak, ada penjualan produk fisik dan digital, komplit banget. Pasarnya pun lebih beragam dari orang muda sampai nenek-nenek. Etsy juga memiliki komunitas untuk para penjual di Etsy sehingga kamu bisa bertukar info atau bertanya seputar tips pengalaman berjualan dengan sesama penjual. Setelah mencoba banyak marketplace aku lebih cocok untuk berjualan di Etsy, dan sekarang sudah punya 2 toko (FYI, kamu bisa bikin lebih dari 2 toko di Etsy menggunakan sistem pembayaran (rekening bank) yang sama). Kamu bisa baca pengalamanku berjualan di Etsy di artikel ini.

Masih banyak lagi marketplace yang bisa kamu coba dan searching yang belum aku sebutkan disini. Intinya kamu jangan takut untuk mencari tahu dan mencoba semuanya agar tahu mana yang lebih cocok dan nyaman untuk kamu gunakan. 

Tips 5 memilih marketplace yang cocok: pelajari semua ketentuan setiap marketplace karena ada hal-hal tentang pembayaran yang berbeda, tentang produk yang boleh dijual, dll. Lihat dan pelajari kompetitor yang menjual produk setipe (cek toko sebelah). Perbedaan plus minus marketplace banyak diulas di Youtube oleh orang-orang yang menjadi sellernya jadi jika masih ragu bisa cek dulu.

Hal-hal yang penting sudah aku bagikan semua, saatnya mulai bikin produk dan berjualan! Kalau ada yang masih ingin ditanyakan seputar berjualan produk digital jangan segan untuk menulis di kolom komentar ya. Selamat mencoba!


Cheers,
Lucia Berta


11:14 AM No comments
Tidak bisa dipungkiri kalau kegiatan Work From Home di masa pandemi ini membuat perubahan yang besar pada gaya hidup keseharian kita. Mulai dari yang biasanya selalu berdandan untuk pergi ke kantor, menjadi tidak lagi memiliki mood untuk berdandan ketika akan bekerja di rumah tepatnya di depan laptop. Hingga kebiasaan (kurang baik) ngemil dengan rebahan sambil menonton film seharian pun kita lakukan berulang tanpa sadar. Hasilnya tentu membuat gaya hidup baru kita menjadi amburadul. Nah, kalau sudah seperti itu tentunya harus diubah lagi dong ya kebiasaannya. 

Apa yang bisa kita lakukan selama proses mengubah kebiasaan buruk atau membiasakan hal yang positif? Kalian bisa lakukan cara ini:

Tetapkan tujuan
Untuk apa sih kalian harus berubah? Apakah demi kesehatan? Atau sedang berjuang untuk tujuan tertentu? Kita bisa menuliskan tujuan yang ingin kita capai dan tempel ke tempat yang sering kita lihat sebagai pengingat (contoh: tembok kamar, meja kerja, dll)

Cari sesuatu yang dapat menjadi motivasi
Melakukan kegiatan dengan ditemani atau memakai sesuatu yang membuat kita semakin termotivasi itu sangat menyenangkan, ya nggak? Nah gunakan saja hal tersebut untuk menaikkan semangat kita. Misalnya agar lebih semangat ikut senam setiap hari kita bisa memakai pakaian olahraga/senam favorit yang baru dibeli kemarin.

Hindari sesuatu yang dapat membuat kita mudah tergoda
Kalau kalian termasuk tipe orang yang mudah terganggu oleh benda/tempat/teman yang membuat proses mengubah kebiasaan itu gagal, usahakan untuk menghindar untuk sementara waktu. 

Komitmen
Ketika kita mulai menyerah/capek/hilang fokus/tidak punya mood, ingat lagi komitmen yang sudah kita bikin dari awal. Proses yang dilalui sudah sampai sejauh ini masa harus berhenti? Yuk kita coba lagi!




Beri reward untuk diri sendiri
Agar proses lebih menyenangkan, kita bisa memberikan reward (penghargaan) untuk diri sendiri setiap kali kita berhasil membuat satu tujuan tercapai. 

Menggunakan habit tracker
Habit tracker adalah metode untuk mencatat kebiasaan setiap harinya. Contohnya, aku ingin mengubah kebiasaan buruk atau ingin membuat kebiasaan baru yang baik secara konsisten, nah aku bisa menggunakan habit tracker untuk mencatat dan melacak keseharianku itu. Diharapkan dengan pelacakan itu aku jadi semakin terbiasa melakukan kegiatan yang ingin aku terapkan. Penggunaan habit tracker ini sangat efektif juga untuk membuat kita semakin fokus pada tujuan, dan dapat menjadi evaluasi setiap bulannya.

Apakah kalian mau mencoba mengubah kebiasaan baru? Atau ingin mencoba meraih tujuan dalam sebulan ini? Aku memiliki alat yang bisa kalian gunakan untuk menemani proses kalian, yaitu Habit Tracker Planner! Kalian bisa mendapatkan secara gratis, but for personal use only ya. Kalian bisa langsung print dan gunakan. Bisa disimpan di buku agenda, tempel di tembok kamar, atau di meja kerja.


Cara penggunaannya:
1. Tentukan month (bulan) kalian memulai proyeknya dengan mengisi nama bulannya, misal: Month: Agustus
2. Tentukan kebiasaan baru yang ingin kalian lakukan, misal:
Habit: Senam pagi setiap hari 
Habit: Menulis 1 artikel tiap hari
3. Bulatan pink adalah hitungan perhari (7 hari dalam 1 bulan) yang nanti akan kalian beri tanda "v" (centang) kalau kalan berhasil melakukannya hari itu, dan tanda "x" (silang) jika kalian melewatkan/tidak melakukannya pada hari itu.

Contoh:


Mulai kebiasaan baca buku di bulan Agustus, mulai hari Senin. Hari Senin berhasil baca buku kita centang bulatan pertama, Selasa juga berhasil dan kita centang lagi, sampai Rabu. Kamis ternyata ada acara jadi tidak sempat baca buku jadi kita kasih tanda silang untuk bulatan ke-4, begitu seterusnya sampai 1 bulan lamanya.


Free printable HABIT TRACKER: klik DISINI 


Selamat berproses ya!
Lucia Berta
 
12:30 PM No comments
Pandemi ini pingin punya pendapatan sampingan dengan berjualan. Akhirnya mulailah berjualan dari nol. Semua sudah disiapkan dengan baik, ya produksinya, logo usahanya, dan lain sebagainya. Mulai promo juga melalui semua media sosial, bahkan ke tempat saudara dan teman. Tapi semuanya ternyata tidak berjalan baik, sepi nggak ada pembelian. Sebulan lewat, dua bulan lewat, tiga bulan, bahkan hampir empat bulan belum menunjukkan tanda-tanda produk akan terbeli. Kegelisahan mulai muncul dalam diri, capek mengalami situasi yang tidak kunjung baik, suara batin pun berkali-kali berseru "Apakah aku memang tidak berbakat jualan?", "Apakah harus tutup saja?". Nah, pernahkah kalian ada diposisi tersebut? atau malah sedang berada diposisi itu sekarang? 

awal-buka-usaha-tapi-masih-stagnan

Pengalaman awal berbisnis yang stagnan itu tidak hanya kalian yang mengalami, tetapi ada banyak, termasuk aku. Hasilnya ada yang sudah putus asa dan akhirnya menutup usaha, ada juga yang malah sukses besar. Berikut aku akan memberikan tips untuk kalian yang sedang merasakan kondisi tersebut berdasarkan pengalaman yang juga aku pernah miliki. Harap diingat tips ini bukan untuk menaikkan penjualan ya tapi lebih pada sikap kita dalam menghadapi situasi tersebut.

Keep going, jangan putus asa
Jangan dibilang klise karena memang kenyataannya seperti itu. Kalau kalian yakin dengan bisnis kalian ya jangan menyerah. Pernah nggak kalian lihat (di sekitar atau di media sosial) ada penjual jajanan yang sepi pembeli tapi dia tiap hari tetap mau berjualan tanpa menyerah. Meskipun mungkin dalam sehari cuma ada 1 orang yang beli (itupun kalau beruntung). Itulah semangat yang harus kita juga miliki. Menjadi wirausahawan itu tidak mudah, dari awal pun sudah kita ketahui bukan? Yakinlah, ada waktunya orang kenal dengan usaha kita dan mau membelinya. Kesabaran dan ketekunan itu sangat diperlukan.

Konsisten
Memperkenalkan usaha kita ke masyarakat umum agar mereka bisa tahu apa yang kita jual itu butuh konsistensi. Orang akan susah mengingat jika kita tidak konsisten. Contoh sederhananya, dalam grup whatsapp-ku ada banyak teman yang berbisnis, mereka mempromosikan jualan mereka masing-masing di grup tapi hanya 2 orang saja yang lebih mudah kuingat dan diingat teman yang lain karena konsistensinya dalam mempromosikan produk A, bukan random produk A, B, C, dan D. Terlalu banyak yang dipromosikan dan tidak satu tema itu bikin orang tidak mudah mengingatnya, dan kita sendiri juga jadi nggak tahu target pasarnya untuk siapa saja. Misal kita berjualan sembako, tentu yang banyak kita promosikan adalah beras, minyak goreng, telur, dll bukan ditambah juga mempromosikan furnitur, baju, atau sepatu. Ketika kita konsisten, orang akan lebih mudah mengingatnya, atau bahkan tiba-tiba akan dikenal menjadi nama belakang kita nanti, seperti contohnya Rudi Sembako, atau Yanti Beras :D Itu tandanya konsistensi kita sudah berhasil, tinggal tunggu saja mereka beralih membeli produk kita karena ingat nama belakang yang mereka beri tersebut. Keuntungan mendapatkan nama itu tentu menjadi sarana marketing gratis buat kita.

awal-buka-usaha-tapi-masih-stagnan


Mau belajar dengan siapa saja dan apa saja
"Kok produkku belum juga dibeli sih? padahal harganya lebih murah daripada si A, tapi si A malah laris terus". Nah, ya kita belajar dong kepada si A jangan sok gengsi. Kalau si A tidak mau berbagi ilmu atau kita tidak kenal, ya kita cari dengan memperhatikan produk si A, apakah yang membuatnya berbeda? apakah kualitasnya lebih baik? apakah cara memasarkannya lebih tepat? dan lain sebagainya, cobalah mengobservasi saingan-saingan kita dan cari tahu keunggulan mereka. 

Masih belum berhasil? Kita belajar lagi dong. Kali ini kita coba kulik kekurangan yang kita miliki, misalnya kita belum tahu segmen pasar untuk produk kita, nah coba cari ilmu dengan teman yang ahli dibidang marketing, cari buku dan artikel tentang bisnis/usaha, atau tonton video yang berisi tips marketing. Jangan malas untuk belajar karena menjadi wirausaha bukan sekedar menjual produk/jasa, ada banyak hal penting yang perlu kita ketahui kalau usaha kita mau tetap langgeng. 

Jangan takut gagal, terus mencoba, dan miliki banyak strategi bisnis
Banyak wirausahawan sukses yang akhirnya menjadi motivator dan memberikan "rahasia sukses" mereka dalam bentuk pelatihan dan buku. Setiap rahasia yang dilakukan mereka itu berbeda-beda, tetapi apakah ada jaminan juga untuk 100% cocok dengan kita dengan mencoba sesuai dengan salah satu rahasia itu? Nggak kan? Oleh karena itu kita coba saja semua dan disesuaikan dengan target serta produk kita. Memiliki banyak strategi tentang apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan penjualan itu lebih menguntungkan karena bisa melihat mana yang lebih berhasil untuk usaha kita dan mana yang tidak cocok. Kalau tidak berhasil dengan cara A, kita masih bisa pakai cara B, C, D, E, dll.

Contohnya, aku sendiri pernah tidak berani mencoba strategi bisnis dengan membeli iklan untuk usahaku karena takut keluar banyak uang dan belum tentu produkku akan laris terjual. Aku mempertimbangkannya hingga sebulan sambil melihat perkembangan penjualanku. Ketika memang benar-benar tidak ada perubahan, aku beranikan diri untuk membeli iklan dan memantapkan diri akan kehilangan uang. Aku melihat hasil iklan tersebut sangat bagus dalam mendatangkan traffic konsumen tapi disisi lain penjualan belum sesuai harapanku. Akhirnya aku menghentikan iklan tersebut ketika sudah memenuhi target budget-ku dan aku mencoba strategi lainnya. Strategi baru yang kulakukan adalah lebih giat posting di media sosial, mencoba menggunakan aplikasi yang sedang tren, dan lain sebagainya. Akhirnya jadi tidak takut lagi sih mencoba strategi baru karena memang konsekuensinya akan ada kerugian tetapi juga bisa menjadi bahan evaluasi penting kedepannya.  

Berdoa
Bukan sok religius, tetapi karena memang apapun yang kita lakukan harus diiringi dengan doa bukan? Kalau sudah rajin berdoa tetapi tetap tidak berhasil bagaimana? Ya nggak papa, terus saja berdoa. Setidaknya doa itu adalah untuk menguatkan hati kita untuk tetap bisa konsisten dan yakin bahwa usaha yang kita kerjakan ini tidak sia-sia. Tidak terjerumus dengan bisikan negatif untuk menyerah/putus asa, atau bisikan bahwa kita orang yang selalu gagal/tidak mampu. Jangan sampai ya, tetap berpikiran positif dan kuat dalam doa.


Sekarang masih berkata akan menyerah? Hmm lebih baik coba lagi saja dulu, masih ada 100 lebih cara yang belum pernah kita coba bukan? ;) selamat berproses!


Cheers,
Lucia Berta

11:06 AM No comments

Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan yang tidak kalah cantik dan menarik. Berbeda dengan bunga yang penuh warna, dekorasi dengan daun justru membuat nuansa menjadi terlihat alami dengan dominasi warna earth tone. Beberapa orang menyebut gaya dekorasi ini sebagai gaya rustic, yaitu penataan desain rumah atau interior yang menitikberatkan pada kesan alami. Selain gampang dan bahannya mudah didapat, ada beberapa dekorasi gaya rustic yang tidak membuat kantong kita jebol karena biayanya tergolong murah. Nah ini beberapa inspirasi dekorasi gaya rustic yang low budget dan mudah kita bikin juga.

Gantung daun bersama ranting
Hiasan seperti ini bisa kita letakkan di tengah ruangan sehingga bisa menjadi fokus utama dari dekorasi yang ada. Tetap usahakan tidak berlebihan dengan menggunakan banyak jenis daun, melainkan optimalkan saja dengan satu jenis daun. Oya hiasan cantik ini dibikin oleh salah satu jasa dekor yang terkenal di Jogja, yaitu Padekor.

5-ide-gaya-dekorasi-rustic-yang-low-budget


Selipkan pada hiasan yang berbentuk geometri
Masih ide dari hiasan yang dibuat oleh Padekor, dengan menggunakan hiasan berbentuk geometri yang dijadikan seolah-olah vas untuk daun. 

5-ide-gaya-dekorasi-rustic-yang-low-budget


Kokedama 
Kokedama merupakan metode cara menanam dari Jepang, yaitu "koke" yang berarti lumut, dan "dama" yang berarti bola. Menanam dengan teknik ini dilakukan tanpa pot, tetapi menggunakan media tanam tanah yang dibuat menjadi bola tanah dan dibungkus lumut. Biasanya penempatan kokedama dilakukan dengan cara digantung. Cantik juga kan kalau ada sudut yang terdapat banyak gantungan kokedama seperti ini. Sekarang kalau mau pesan kokedama ada banyak shop yang khusus menjual tanaman yang juga menerima jasa pembuatan kokedama, jadi tidak perlu bingung mencari kokedama ini :)

5-ide-gaya-dekorasi-rustic-yang-low-budget


Tempelkan langsung pada dinding
Kalau tidak mau susah-susah, kalian juga bisa hanya menempelkan daun ke dinding menggunakan washi tape warna natural (hitam, putih, beige, dll). Sebarkan hingga memenuhi dinding, makin banyak jenis daunnya, makin menarik. Hiasan ini cocok untuk spot foto pada suatu acara tertentu. Sederhana, minimalis,  mudah, dan tetap terkesan elegan.

5-ide-gaya-dekorasi-rustic-yang-low-budget


Bunting flag daun
Ide terakhir adalah dibikin seperti bunting flag dengan menyusun dan mengikatkan tiap daun pada tali. Sama seperti ide sebelumnya, dekorasi seperti ini juga cocok digunakan untuk spot foto. 

5-ide-gaya-dekorasi-rustic-yang-low-budget


Sudah mulai dapat ide-ide baru untuk dekorasi gaya rustic yang ramah dikantong seperti ide diatas? Atau mau mencoba menggunakan 5 ide tersebut? Selamat mencoba!


Cheers,
Lucia Berta


Credit photos:
glasswingshop.com
ruffledblog.com
diys.com
Personal documentation (untuk foto padekor)

12:12 PM No comments
Bekerja dari rumah menjadi hal yang baru untuk beberapa orang yang sudah terbiasa bekerja di kantor dengan jam kerja yang tetap. Produktivitas selama di kantor tetap terjaga karena sedikitnya gangguan atau distraksi yang dihadapi selama bekerja. Bagaimana sekarang ketika harus bekerja dari rumah? Gangguan di rumah tentunya banyak banget, mulai dari rasa malas (pengennya nempel terus sama kasur), mainan hape, atau mungkin harus mengurus anak, mengerjakan pekerjaan rumah dan masih banyak lagi. Lalu tiba-tiba malamnya sebelum tidur kita merasa sangat capek dan kurang produktif. 

Bagi orang yang sudah terbiasa bekerja dari rumah, hal itu sudah pernah dirasakan, dan sekarang sudah bisa mengatasinya karena sudah tahu benar caranya. Aku juga termasuk dalam kelompok orang yang bekerja di rumah bahkan sebelum terjadi pandemi ini. Awalnya sangat sulit menghilangkan gangguan karena berasal dari diriku sendiri. Iya, malas dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu. 

Baca juga: 5 Cara Efektif Tetap Produktif Bekerja di Rumah

Sistem kerjaku tidak pernah terpatok pada waktu atau bisa dibilang tidak memberikan batasan jam kerja karena bisa saja tiba-tiba di malam hari (di luar jam kerja) aku harus mengurus sesuatu yang sangat penting (nasib jadi freelancer, ya kan). Nah kalau tidak ada jam kerja bagaimana aku bisa menyelesaikan semua pekerjaanku? 

Breaking down the goals into actionable steps 
Cara yang berhasil dan sering kugunakan adalah dengan memecah-mecah tujuan menjadi langkah-langkah kecil yang bisa dikerjakan dengan mudah tiap harinya. Aku kasih contoh, misalnya minggu ini aku sedang mengerjakan project: membuat produk baru yaitu notes mini. Aku lalu breakdown hal-hal kecil yang harus kukerjakan untuk membuat notes mini, dan bikin to do list tiap harinya untuk menyelesaikan hal-hal kecil itu.

Project minggu ini: bikin notes mini
To do list hari Senin:
- beli kertas untuk sampul dan isi notes
- mendesain sampul notes

To do list hari Selasa:
- kirim desain sampul dan bahan notes ke toko printing

To do list hari Rabu:
- cek hasil cetak notes mini

dan seterusnya.....

Dengan mengerjakan langkah-langkah kecil yang bisa kita kerjakan terlebih dahulu itu membuat kita lebih fokus dan bersemangat karena berhasil mengerjakan salah satu dari beberapa langkah untuk membuat notes mini. Tentu dengan mengerjakan secara konsisten akan lebih baik daripada ingin sekalian dikerjakan dari awal sampai akhir dalam satu hari tetapi waktu mau memulainya saja sudah merasa malas dan akhirnya menunda-nunda, jadinya nggak selesai tepat waktu deh. 

tips-how-to-get-things-done
Image by annmariephotography from Pixabay

Do the hardest task first (kerjakan tugas yang susah dulu)
Sebenarnya langkah ini masih berhubungan dengan langkah sebelumnya. Dengan mengerjakan tugas yang susah terlebih dahulu dan berhasil menyelesaikannya akan membuat kita menjadi percaya diri untuk dapat menyelesaikan tugas berikutnya yang lebih mudah.

Set your productive time (atur waktu produktif kamu)
Kita mungkin tidak bisa mengurangi gangguan selama berada di rumah tetapi kita bisa memilih waktu yang cocok untuk mengerjakannya, atau waktu dimana kita merasa bisa produktif. Contohnya, aku terbiasa untuk mengerjakan tugas pada malam hari karena bisa lebih berkonsentrasi setelah semua pekerjaan di rumah beres. 

Jauhkan hape selama bekerja
Godaan paling besar selama bekerja di rumah adalah scrolling, mainan hape! Yuk selama bekerja kita jauhkan dulu dari jangkauan. Memang bukan hal yang mudah untuk beberapa orang yang sudah kecanduan. Rasanya penasaran terus pengen nengok media sosial, ya nggak? Nah kalau begitu saatnya kita mengubah kebiasaan itu. Belajar untuk fokus mengontrol diri sendiri, jangan sampai malah terbalik, hidup kita yang dikontrol oleh media sosial.


Selamat mencoba ya!

Cheers,
Lucia Berta



12:44 PM No comments
Tepatnya bulan Februari aku mulai berkebun di rumah. Dari yang awalnya kupakai sebagai hobi dan sarana melepas stres, sekarang menjadi kegiatan ambisius yang kujadikan sebagai gaya hidup baruku. Pertama kalinya aku menanam, hal yang kupikirkan saat itu adalah yang penting tanahnya subur, pasti bisa tumbuh sendiri dengan baik. But wait, setelah tanaman mulai tumbuh besar ternyata ada banyak hal yang harus dipikirkan juga, seperti harus memupuk agar tumbuh lebih subur lagi dan berbuah lebat, ketika terserang hama serangga dan siput harus memikirkan cara untuk membasminya secara alami, memahami karakter tanaman yang cocok untuk musim dan cuaca tempat tinggal kita, dan masih banyak lagi. 

urban farming selama pandemi covid

Belajar lewat Youtube, baca artikel tentang menanam, baca buku tentang bercocok tanam, tanya-tanya teman yang juga suka menanam, kepoin pekebun kota (urban farmer) atau komunitas kolektif yang memberikan edukasi menanam setiap harinya, akhirnya itu semua kulakukan demi menjawab semua permasalahan yang muncul. 

Dari semua pengetahuan yang aku pahami dan praktikkan, akhirnya aku bisa merangkum 4 hal penting yang perlu diketahui dalam berkebun (kalaupun sudah terlanjur berkebun tapi melewatkan hal ini pun nggak papa sih karena aku juga telat memahaminya, tapi kita bisa secara perlahan memperbaiki dan menambah kekurangan informasi kita). Penting untuk diingat, mungkin beberapa pekebun yang lebih senior dibanding aku memiliki rangkuman yang berbeda, mungkin mereka punya lebih banyak hal yang harus diperhatikan. Nggak jadi masalah sih, bisa kita tambahkan saja, ya nggak? :)

sawi selada bibit tanaman yang mudah ditanam

Tanam sayuran daun yang mudah dulu untuk pemula (contoh: sawi, kangkung, bayam, dll)
Beberapa orang bilang, tanam cabe dan tomat cocok untuk pemula, tapi buatku dua tanaman itu agak tricky nanti pas tumbuh karena hama kutu putih dan hama yang menyebabkan daun cabe menjadi keriting akan datang dengan cepatnya dan bikin kalian pusing bagaimana cara mengatasi hama tersebut (meskipun nanti di daftar selanjutnya akan terjawab caranya), ujung-ujungnya malah kapok menanam. Tetapi jika kalian berhasil menanam sayuran daun dan bisa panen, kalian akan lebih bersemangat dan percaya diri untuk menanam tanaman jenis lainnya. Bukankah itu bisa menjadi awal yang bagus?

Nah, buatku tanaman sayur daun termasuk mudah untuk ditanam, memang akan masih ada hama menyerang seperti ulat dan siput tetapi aku masih bisa atasi daripada kutu putih yang ada di tanaman tomat, cabe, dan terongku :(

menjadi pekebun di masa pandemi covid 19

Siapkan kompos organik
Kalian ingin menanam secara organik? ya komposnya harus yang organik juga alias tidak berasal dari zat kimia yang berbahaya. Kompos sangat penting dalam bercocok tanam karena memberikan banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Kompos membuat tanah menjadi sehat, dan tanah yang sehat ini menjadi penting apalagi saat tanaman terserang hama. Nutrisi yang ada di dalam tanah akan membantu tanaman mengatasi si hama, sehingga hama pergi dan tanaman menjadi sehat kembali. Sama seperti daya imun tubuh kita bukan? kalau diibaratkan, kompos ini bisa menambah imun tanaman tersebut.

Selain kita bisa membeli kompos di toko-toko bahan pertanian, kita juga bisa membuatnya sendiri lho. Caranya mudah dan murah, kita tinggal mengumpulkan sampah daun kering yang biasa tergeletak manja di halaman rumah kita atau dengan mengumpulkan sampah dapur seperti sisa batang sayur bayam, cangkang telur, kulit bawang merah dan bawang putih, kulit-kulit sayuran dan masih banyak lagi. Sampah dapur dan sampah daun kering itu kita jadikan satu dan simpan, kalau mau dijadikan pupuk organik cair bisa langsung diberi air lalu simpan beberapa minggu/bulan, kalau mau dijadikan kompos bisa diberi tanah, sekam, atau kompos lama lalu disimpan. Kalian bisa cari banyak infomasi membuat kompos ini secara online. Aku juga mulai membuat kompos sendiri, dan keuntungan yang kudapat selain irit, aku menjadi lebih memperhatikan untuk memilih dan memilah sampah. 

Menanam dengan sistem tumpang sari
Awal berkebun aku memutuskan untuk hanya menanam sayur saja, tetapi hal tersebut ternyata salah. Aku ternyata juga butuh tanaman bunga untuk menarik lebah, kupu-kupu sehingga bisa membantu penyerbukan tanaman buah, lalu untuk mengusir hama datang aku juga butuh tanaman rimpang seperti jahe, kunir, kunyit, temulawak untuk melindungi tanaman sayur kita dari hama yang tidak tahan baunya. Nah disini akhirnya aku sadar bahwa kita butuh menanam lebih dari satu jenis tanaman (pertanaman campuran) pada satu area lahan bertanam kita atau dikenal dengan istilah tumpang sari. Tanaman sayur, buah, bunga, apotik hidup semuanya merupakan satu kesatuan yang bisa memberikan manfaat pada satu sama lainnya. Kalaupun belum bisa menanam semua itu karena keterbatasan lahan, nggak jadi masalah kok, mungkin bisa ada 1-2 "perwakilan" dari beberapa jenis tersebut seperti yang aku miliki sekarang juga sudah cukup.

FYI, info tambahan yang menarik untuk aku beritahukan juga, yaitu sepertinya tanaman bunga favorit para pekebun adalah marigold (bunga tahi ayam) karena selain bisa menarik lebah, kupu-kupu, dan serangga lainnya, serta mengusir hama lewat baunya yang tidak disukai, kata salah satu pekebun panutanku, si marigold ini juga bisa mengatasi hama yang ada di akar (dalam tanah) tanaman yang ada disebelahnya. Salah satu bunga yang wajib ditanam bukan? aku akhirnya juga menanam banyak bibit marigold hahaha.

tanaman apotik hidup dan bunga wajib ditanam

Selanjutnya yang paling akhir tapi nggak kalah penting adalah mengerti karakteristik setiap tanaman dan jangan memaksakan.
Ketika kalian membeli benih, usahakan untuk membaca informasi pada bungkus benihnya atau mencari informasi terlebih dahulu tentang tanaman yang akan kalian tanam. Hal ini penting karena setiap tanaman memiliki karateristik dan kebutuhan yang berbeda-beda, misalnya ada yang suka dengan air yang banyak, ada yang senang di cuaca yang dingin, dan masih banyak lagi. Kalau kita tahu karakteristik mereka, itu akan memudahkan kita dalam merawatnya. Jangan sampai juga kita memaksakan tanaman tersebut untuk tumbuh di lingkungan/area yang bukan menjadi habitat tanaman tersebut. Aku ingat ada pekebun senior yang aku suka dan sering kepoin proses berkebunnya, dia mencoba memaksa untuk menanam bunga tulip dari Belanda di Indonesia, ya mungkin bisa sih tumbuh tapi yang dia perlihatkan akhirnya nggak maksimal hasilnya, kulihat juga repot untuk merekayasa perawatannya agar cocok dengan kondisi di Indonesia, seperti perawatan yang juga dilakukan oleh pekebun senior tersebut, yaitu dengan menaruhnya di dalam kulkas, menggunakan media tanam yang khusus, dan masih banyak lagi. Nah, kalau belum mau ribet mending cari tanaman yang lain deh, kan masih banyak juga tanaman cantik yang ada di Indonesia. Akan tetap kalau mau bereksperimen atau mencoba biar nambah ilmu ya silakan saja :)

Bagaimana sudah tertarik untuk berkebun? atau buat yang sudah berkebun, adakah yang kalian lewatkan dari 4 hal tersebut? Selamat berkebun ya!


Cheers,
Lucia Berta
9:13 PM 4 comments
Bisa ikut pameran/bazaar di luar negeri. Terdengar sangat menggiurkan bukan? apalagi untuk kita yang entrepenuer. Selain bisa menaikkan gengsi produk kita, bisa sekalian jalan-jalan juga. Wah siapa sih yang nggak mau? Pengalamanku ikutan bazaar di luar negeri adalah di tahun 2004 di Malaysia. Saat itu serius kita (aku dan temenku berdua saja) cuma iseng aja ikutan, dan itu juga pakai duit sendiri alias independen, bukan undangan atau perwakilan yang ditunjuk pemerintah. Kok bisa senekat itu? entahlah. Dulu yang kupikirkan hanya ongkos pulang pergi sama makan selama disana, karena kebetulan temenku punya temen yang bisa ditebengi menginap. Nggak disangka disana kita kemana-mana juga diantar jemput teman dan panitia bazaarnya hahaha baik banget nggak sih panitianya, kita jadi merasa istimewa :)

Baca juga: Pertama Kali Bazaar di Malaysia

Aku mendapat pengalaman seru dengan bazaar pertamaku di luar negeri, hal itu yang akhirnya bikin aku ketagihan untuk melakukannya lagi. Tahun 2016 aku ke Malaysia lagi untuk ikutan bazaar handmade sebuah komunitas anak muda yang memang concern dengan art and craft. Waktu itu aku pergi bersama timku, kita berempat. Nah, sekarang aku mulai cerita dan kasih tips, gimana sih biar bisa ikutan bazaar di luar negeri dengan biaya sendiri?

independen bazaar malaysia merchandise majalah

Disclaimer: berdasarkan pengalamanku sendiri ya, dan semoga masih relate dengan jaman milenial ini :)

Cari dan kepoin informasi lengkap
Sebelum daftar untuk ikutan, pastilah kita cari tahu info dahulu dimana ada bazaar yang bisa kita ikuti. Aku mendapatkan info dari Instagram, aku sengaja cari dengan ketik hashtag gitu, dan memang sengaja memilih di negara yang dekat saja yaitu Malaysia. Aku mulai telusuri dan kepoin beberapa akun produk handmade crafter Malaysia, yang akhirnya mengantarkanku pada akun organizer bazaarnya. Pelajari informasi tentang bazaar mereka termasuk syarat-syarat pendaftarannya. Kadang ada perbedaan ketentuan seleksi penerimaan tenants. Hah ada seleksi? kebanyakan yang aku temukan, iya, jadi kalian harus benar-benar bisa mempresentasikan produk kalian dengan baik (pakai foto yang oke, isi kelengkapan dengan profesional, dll) jadi kalian harus benar-benar pelajari ya, jangan sampai terlewat.

Tips mendaftar menjadi tenant:
- Persiapkan katalog produk kalian. Mulai bikin portfolio atau katalog. Bikin semenarik mungkin!
- Perhatikan tanggal hari H bazaarnya. Aku lebih suka tanggal yang masih lama, misal rentang waktu 1-2 bulanan, jadi kalau lolos seleksi kita masih bisa bersiap-siap mengumpulkan uang.
- Cek popularitas bazaarnya, hal ini penting karena kalau acara mereka terkenal di negaranya dan banyak yang ikutan, bisa dipastikan bukan tipu-tipu, dan sesuai dengan pasar yang kita inginkan untuk produk kita. Jangan sampai kita jualan merchandise handmade anak muda tapi malah sampai sana terdampar di bazaar random yang nggak jelas. Ya, memang kalau rejeki pasti terjual tetapi disini kita nggak cuma akan mementingkan itu, kita juga butuh koneksi/networking dengan komunitasnya (dan ini keuntungannya akan lebih banyak, nggak sekedar uang).
- Cek lokasi bazaar. Aku sangat memperhatikan lokasi karena nanti pasti akan memikirkan hotel dan transportasi yang dekat dengan lokasi bazaar.

Siapkan biaya pendaftaran bazaar dan harian selama stay disana
Kalau sudah lolos seleksi, selanjutnya yang kita pikirkan adalah biayanya. Biaya yang harus kita keluarkan nggak cuma biaya pendaftaran, tetapi masih ada banyak yang perlu kita siapkan, contohnya: biaya bikin pasport, biaya hotel/homestay, biaya makan, transport selama disana, transport pesawat pulang pergi.

Mulai dari biaya pendaftaran, berikut hal yang harus diperhatikan:
- Jika biaya pendaftaran sangat mahal, kita bisa patungan aja sama temen yang mau ikutan, atau bisa menerima titip jual produk mereka dengan imbalan patungan biaya pendaftaran.
- Metode pembayaran. Biasanya mereka memberikan pilihan pembayaran dengan metode paypal, transfer antarbank, atau metode lain yang familiar dipakai di negara mereka. Kalau kalian tidak bisa menggunakan metode mereka atau tidak punya paypal, coba komunikasikan pada mereka, tanyakan apakah bisa dengan metode lain misalnya pakai western union atau apapun itu. Banyak-banyak berkomunikasi dengan panitia ya. Aku juga gitu kok, malah hampir tiap hari whatsappan atau kirim email sama mereka.

Nggak kalah penting:
- Cek selalu biaya tiket pesawat, syukur-syukur bisa dapat yang murah. Biasanya acara bazaar mereka diadakan pada waktu weekend (sabtu-minggu), nah kita jangan ambil yang mepet banget misalnya jumat/sabtu berangkat dan nanti senin pulang. Aku memilih berangkat 2-3 hari sebelum hari H. Misalnya berangkat hari rabu dan pulang senin, jadi akan ada disana selama kurleb 7 hari (semingguan). Nggak kelamaan? nggak, justru hal ini akan menguntungkan bagi kita karena:
1. kita jadi punya waktu untuk cek lokasi bazaar, survey transport, dll di hari sebelumnya
2. harga tiket bisa dapat yang lebih murah

Wah kalau lama disana berarti biaya harian nambah dong? iya benar, tapi aku punya tips lagi untuk mengatasinya, yaitu:
1. Cari motel yang dekat atau murah atau biasanya untuk backpacker, bisa cari lewat aplikasi.
2. Bawa teman atau tim jadi bisa patungan untuk makan dan transport. Waktu aku dan tim di Malaysia, kita selalu makan 1 porsi untuk bersama karena ternyata porsi mereka banyak, dan transport pun kita pakai Uber (lebih direkomendasikan daripada taksi) yang lebih murah dan praktis.
3. Karena kita masih punya banyak waktu, jadi sekalian aja kita bikin workshop selama disana, lumayan nanti uang yang masuk bisa buat tambahan modal harian, dan kita juga ada kegiatan selama menunggu hari H (atau bisa dibilang sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui). Bagaimana bisa bikin workshop, brandku kan belum terkenal disana? dan ribet pasti. Nggaklah! nah kukasi tips lagi, setelah ada pengumuman lolos, aku langsung cari akun organizer yang khusus untuk workshop handmade di Instagram. Cari yang sudah kredibel dan coba saja dikontak melalui email. Perkenalan dulu trus kasih tahu kegiatan kita selama di Indonesia (workshop-workshop yang kita lakukan, dll), dan menawarkan kerjasama untuk membuatkan workshop kita pas disana. Jadwalnya tentu bisa kita sesuaikan dengan tanggal kita ada disana. Atau kalau tidak bisa kasih workshop, kita bisa lakukan hal lain yang bisa menghasilkan atau hanya untuk sekedar mencari koneksi, misalnya cari concept store yang bisa kita tawarin kerjasama untuk titip produk kita di toko mereka, dll. Pokoknya tetap coba banyak hal yang menguntungkan bagi kita selama disana ;) 

Baca pengalaman workshop kami di Malaysia yang ditulis oleh Shia Lynn (organizer workshop kami yang sangat baik banget) disini: Mini Book Binding Workshop by Folksy Press at The Artsy Craftsy Studio

boo binding workshop notes malaysia shop handmade craft

Menjalin koneksi sebanyak-banyaknya
Aku dan tim merasa sangat beruntung selama ikutan bazaar di Malaysia, karena selain bisa menjalin pertemanan dengan panitia bazaar dan organizer workshop, kami juga mendapat teman baru dari sesama peserta bazaar, pengunjung/pembeli produk kami yang akhirnya jadi teman juga, dan peserta workshop.

Kebetulan timku anak-anaknya rame, suka banget ketemu orang baru dan hal-hal seputar handmade dan bazaar, jadi sebelum kita berangkat, kita semua sempat kepoin peserta bazaar lain yang akan berjualan disana. Kita pun sudah punya daftar peserta yang pengen kita datangi, yang kita lihat di Instagram. Benar saja, sampai disana bukannya jaga booth jualan, eh kami malah main berkunjung ke tiap booth bahkan jajan/beli produk mereka haha. Nah karena kami "terlihat sangat antusias dan bersahabat" seperti itu, malah jadi menarik peserta lain untuk ganti mengunjungi booth kami, bahkan kami diajak juga untuk datang ke studio mereka setelah bazaar selesai.

friends visit studio travel tips

Tujuan kita ikut bazaar ke luar negeri akhirnya bukan hanya sekedar untuk untung dan rugi penjualan, tetapi menjalin banyak relasi dan teman. Kalau cuma lihat untung rugi sih tentu secara nominal uang rugi banget dan nggak balik modal. Tetapi dari kenekatan ini kami jadi punya banyak pengalaman dan networking untuk kelangsungan bisnis kita selanjutnya. Jadi, mulai tertarik atau memikirkan kemungkinan untuk nekat ikut acara bazaar di luar negeri juga? Yuk!! Semoga info ini bermanfaat :) :)


Cheers,
Lucia Berta

10:47 AM No comments
Apakah kalian suka menggambar? atau bikin kaligrafi? kolase? bikin komik? dan ingin sekali menjual karyamu dalam bentuk stiker, notes, kartu ucapan, dan masih banyak lagi? Bagaimana kalau kalian mulai bikin bisnis stationery atau merchandise kalian sendiri? Bukan hal yang mustahil, caranya mudah sekali lho! Aku akan bagikan prosesnya dari mulai produksi sampai penjualan, apa saja yang penting untuk kalian siapkan, dan bagaimana mengakali agar terlihat profesional meskipun budgetnya terbatas ;)

stationery pin merchandise notes stiker diy tape brooch

Folksy Press, sebuah bisnis kreatif yang aku dirikan, pernah menjual produk handmade karya teman-teman ilustrator dan kolase. Produk yang kami jual berupa produk stationery, yaitu notes, stiker, notepad, kartu ucapan, art print, zine, pouch, totebag, dan lain sebagainya. Kami membuat produk dengan budget sendiri dan terbatas (tentunya) dengan hasil yang nggak main-main. Keluar masuk toko printing, toko alat tulis dan kertas, ngobrol ngalor ngidul tentang toko printing yang oke, kertas yang oke, sudah menjadi keseharian tim kami. Nah, sekarang giliran kalian yang harus tahu gimana sih "rahasia dibalik dapur" bikin produk stationery dengan brand sendiri.

Desain
Untuk kalian yang sudah punya banyak karya tentu tidak akan menjadi masalah untuk memilih karya mana yang akan kalian jadikan produk. Karya ilustrasi/kolase/kaligrafimu itu nantinya akan ditempatkan pada produk, nah proses ini tentu melibatkan ketrampilan untuk mendesain (apakah akan didesain menjadi sampul notes, kartu pos, atau stiker), kalaupun kalian tidak bisa mendesain atau tidak memiliki aplikasinya, kalian bisa minta tolong didesainkan di toko printing asalkan sudah berbentuk soft file (pdf, jpg, dll). Jangan lupa untuk mencantumkan nama brand atau logo kalian juga agar produk lebih mudah dikenali oleh orang-orang 

Bahan Produk
Kertas, banyak sekali jenisnya, untuk beberapa produk yang berbeda mungkin bisa menggunakan jenis kertas yang berbeda, misalnya mau bikin notes dan art print. Kertas yang tepat penting sekali untuk kita perhatikan karena kualitas karya kita yang dicetak di kertas akan menentukan bagus tidaknya produk kita (contohnya: kertas yang dipakai ternyata tidak bisa menyerap tinta dengan baik jadinya karya kita yang dicetak hasilnya tidak sesuai dengan karya aslinya), belum lagi untuk fungsi penggunaan produk tersebut (contohnya: kertas yang digunakan untuk produk notes harus agak tebal agar tidak mudah sobek kalau tiap kali dibuka tutup, dll). Kalau kita masih awam, bagaimana kita bisa tahu? Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah survey dulu dengan membeli produk stationery orang lain yang kita sukai kertasnya dan bisa mencari kertas yang sama yang digunakan oleh produk itu. Untuk mengetahui kualitas bahan produk yang lain pun kadang aku suka membeli beberapa produk teman yang memang aku suka bahannya. Pokoknya jangan menyerah mencari bahan yang cocok untuk budget dan produk kalian ya, kalau perlu banyaklah mencoba dan bereksperimen sampai benar-benar dapat karena kualitas produk itu yang akan menambah nilai jual kita.

Proses Produksi
Ada dua pilihan untuk memproduksi produk kalian, yaitu sepenuhnya diserahkan ke pihak printing atau jasa layanan dari mulai desain sampai jadi sebuah produk, atau dikerjakan sendiri/handmade (misalnya: pas bikin notes, kita ke printing hanya untuk cetak sampul, lalu kita potong sendiri dan beli kertas untuk isinya, lalu kita kerjakan dengan memotong, mengisi kertas, dan menjilidnya sendiri). Plus minusnya menggunakan dua pilihan itu tentu ada, kalau penasaran, tidak masalah jika mencoba keduanya dan bandingkan mana yang lebih nyaman untuk kalian dan sesuai dengan budget (lagi).

enamel bros pin asesoris indie merchandiise artprint belanja

Tentukan Harga
Dulu sebelum aku mengenal hitungan harga, aku biasanya hanya menyesuaikan dengan harga yang ada di pasaran saja, misalnya: harga notes teman yang ukurannya sama dengan punya kita dikasi harga Rp 15.000, kita melihat harga itu dirasa masih dapat keuntungan, akhirnya kita juga pakai harga itu. Nah, sebenarnya ada rumus hitungan untuk harga produk yang akhirnya aku gunakan untuk produk-produk baru. Kurang lebih rumusnya seperti ini (bisa dikurangi atau ditambah sesuai prioritas kalian):

Rumus Umum Menentukan Harga Jual:
Bahan baku + tenaga kerja (15-25% dari biaya bahan baku) + biaya operasional (10-20% dari biaya bahan baku) + resiko (10% dari biaya bahan baku) + keuntungan (30-50% dari biaya bahan baku) = biaya total. Biaya total itu lalu dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan (misalnya biaya total Rp 100.000 : 10 buah (produk yg didapat dari produksi bahan baku tersebut)) = Rp. 10.000, nah maka harga perproduk tersebut adalah Rp 10.000.

Tips: Biasanya untuk rumusnya masih aku masukan tambahan konsinyasi 30% dari bahan baku. Kenapa ditambah konsinyasi dan kenapa harus 30%?
1. Nanti saat kita menjual produk kita kalau kita titip jual ke tempat lain/toko pasti harga kita akan dikurangi untuk sistem konsinyasi (kecuali kalau perjanjian kerjasama kalian, pihak toko boleh menambah harga sendiri untuk keuntungan mereka)
2. Kenapa 30%? selama aku titip jual ke beberapa toko di Indonesia, rata-rata prosentasi konsinyasi yang ditawarkan toko berbeda-beda, biasanya mulai dari 20-30%. Disini aku ambil prosentase yang paling tinggi yaitu 30% meskipun mungkin di toko itu hanya diambil 25%.

Foto Produk
Nah ini segmen yang nggak kalah penting. Foto produk yang bagus akan lebih banyak membuat konsumen langsung tertarik melihat produk kalian. Hal ini berlaku juga untuk produk yang sebenarnya sederhana. Aku pernah melihat ada produk notes yang sampulnya sangat keren tetapi fotonya tidak menarik, disandingkan dengan produk notes sederhana yang saking sederhananya bahkan sampul cuma berupa tulisan, nggak ada ilustrasinya, tetapi lebih eye catching fotonya, otomatis orang-orang bahkan diriku cenderung akan penasaran dan tertarik dengan produk sederhana tersebut.

Waduh pengen juga foto produkku oke tapi aku nggak punya kamera bagus dan nggak punya budget untuk sewa studio. Hmm aku sama sekali nggak pernah sewa studio hanya untuk foto produk yang kecil-kecil. Bahkan aku lebih sering foto pakai hape doang nggak pakai kamera. Cara fotonya gimana yang seperti itu? Mudah banget, kalian hanya cari tempat terang dan alas menggunakan kain polos atau kertas warna warni polos. Oya aku sempat bikin cara foto agar terlihat profesional di artikel blogku yang sudah lama banget aku tulis, dan bahkan sampai sekarang aku masih aplikasikan. 

Baca juga: Cara Foto Produk yang Murah Meriah Tapi Tetap Terlihat Profesional

ilustrasi gambar ilustrator drawing majalah foto produk fotografi

Jual Produk
Setelah selesai foto dan diedit saatnya kita berjualan. Mau dijual kemana nih? Apakah lewat online? Tokopedia? Shopee? atau titip ke toko-toko stationery offline? Dijual di Indonesia atau terbuka juga untuk luar Indonesia? Jika kalian hanya ingin dijual di Indonesia, kalian perlu mempelajari e-commerce yang cocok untuk kalian (apakah tokopedia, shopee, buka lapak, dll?) atau mau pakai website sendiri? atau mau dititip jual ke teman yang punya toko? atau toko-toko handmade yang ada di kotamu? Nah kalau mau dititip di toko jangan segan dan malu untuk bertanya dan menawarkan produk kalian duluan ya. Biasanya toko-toko itu nggak pernah kasih woro-woro kalau mereka menerima titipan produk, jadi kita yang harus aktif. Tanyakan apakah bisa titip jual dan sistemnya bagaimana (apakah ada potongan konsinyasi atau mereka akan beli putus), jangan lupa juga siapkan MOU (lembar kesepakatan kerjasama) agar sama-sama enak dan lebih aman tentunya, karena ketentuan tiap toko berbeda.

Kalau dijual di luar negeri juga gimana? Bisa sih tapi kalian harus cari tahu banyak hal. Misalnya kalian bisa memilih e-commerce Etsy nah disitu ada beberapa ketentuan kalau kamu mendaftar sebagai tenant, misalnya harus punya paypal, harus punya kartu kredit, belum lagi nanti produk yang terjual akan dipotong berapa cents untuk Etsy. Wow banyak sekali ya syaratnya, iya pastinya. Belum lagi nanti pengiriman barang kamu ke luar negeri, masih ada beberapa aturan lagi dan setiap negara berbeda-beda. Kalau ribet begini kenapa untuk teman yang lain yang berjualan ke luar negeri santai aja? Itu ada dong tipsnya dan panjang sekali kalau dikupas, kapan-kapan saja ya kita kupas bersama.

Untuk kalian yang newbie dan baru mau mulai, mending difokusin dulu untuk konsumen di Indonesia. Perkuat brand produk kalian dan tetap semangat belajar hal baru tentang entrepenuership. Selamat mencoba berwirausaha :)



Cheers,
Lucia Berta 




10:35 PM 4 comments
Tahun 2020 merupakan tahun terberat terutama bagi kita semua yang ada di dunia bernama bumi ini. Iya, kalian pasti juga tahu yang kumaksud, wabah covid-19. Semua orang panik, takut, dan cemas karena kejadian-kejadian mengerikan itu ada dan nyata sedang kita hadapi bersama. Hal itu sangat wajar, tetapi kita juga harus tetap tenang agar bisa selalu waspada.

anxiety picture

"Bagaimana bisa tenang? Tiap mendengarkan berita tentang covid-19 pasti badanku langsung terasa sakit, rasa-rasanya seperti aku juga sedang sakit terkena corona". Itu yang kini selalu aku dengar dari orang-orang, *psikosomatis. Banyak orang yang akhirnya mengalami psikosomatis, yaitu efek dari rasa sakit psikis yang akhirnya mempengaruhi tubuh. Biasanya kalau kita stres, hal itu berdampak rasa nyeri tertentu pada tubuh. Misalnya pada perut jadi mules, kepala jadi pusing, tenggorokan tiba-tiba menjadi sakit, dan masih banyak lagi, yang kalau nanti diperiksakan ke dokter, rasa sakit itu tidak terdeteksi sebagai suatu penyakit.

Selain psikosomatis, banyak juga yang akhirnya mengalami kecemasan berlebihan (anxiety). Nah, banyak bermunculan kan penyakit psikis kita kalau kita tidak bisa tenang dan mencoba untuk tidak stres. Aku tahu kondisi saat ini sedang berat, tetapi kita benar-benar harus kuat dan sehat (baik mental dan jasmani) untuk bisa melalui ini semua.

Aku pun sempat mengalami kecemasan, tetapi karena kecemasan itu pernah juga aku rasakan sebelumnya (sebelum ada kejadian covid-19 ini) jadi aku sudah tahu "how to treat myself" atau dengan kata lain, apa yang harus kulakukan saat kecemasan itu muncul. Apakah kalian juga sedang mengalami hal yang sama? kecemasan? Untuk beberapa kasus berat yang memang sudah harus ditolong dengan bantuan psikolog, kalian bisa langsung kontak pelayanan psikologi yang banyak ditawarkan saat ini melalui online. Tetapi jika kalian merasa yakin masih bisa kalian handle (masih ringan), yuk sini aku bantu. Aku akan membagi cara yang selama ini kulakukan selama mengalami kecemasan yang mungkin bisa kalian praktikkan di rumah. 

kelola kecemasan selama pandemi covid 19

Dari 5 cara tersebut bisa diambil garis besarnya bahwa pengelolaan kecemasanku didasarkan kepada: aku butuh waktu untuk bisa "take a deep breath" sendirian, kemudian berusaha untuk hanya fokus pada hal-hal positif, lalu melepaskan semua hal yang menjadi pikiran kita ke orang lain agar bisa merasa lega dan nyaman kembali. Semua perasaan itu aku dapatkan dari melakukan rincian kegiatan seperti yang tertulis diatas.

Nah kalau kalian sendiri, apa perasaan yang ingin kalian dapatkan saat melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu? Apakah ingin menjadi lebih legowo? lebih bisa menerima kenyataan yang sedang terjadi agar kita bisa melanjutkan hidup? atau ingin bisa kuat sehingga bisa melaluinya dengan baik? Kalian bisa saja melakukan hal yang berbeda dengan kegiatanku diatas. Lakukan apa yang bisa membuat kalian tenang dan nyaman saat mengelolanya, dan sesuai perasaan apa yang ingin kalian dapatkan. 

Aku yakin kalian pasti akan dapat menemukan sendiri cara yang bisa diandalkan ketika kecemasanmu muncul kembali. Selamat berlatih mengelolanya ya :) 


Cheers,
Lucia Berta
2:29 PM No comments
Saat pertama kali aku mengenal blogging pada tahun 2009, keinginanku memulai menulis blog adalah karena ingin menjadi seorang DIY blogger. Aku suka sekali bebikinan dan ingin share di blog, udah itu saja. Tahun 2017 aku mulai tahu bahwa ternyata menjadi DIY blogger bisa menghasilkan. Wow dunia memang sudah berubah ya, yang dulunya hobi bisa jadi profesi. Apalagi makin kesini sudah banyak orang kreatif yang berlomba menjadi blogger profesional.

tips menjadi diy blogger

"Enak ya jadi blogger bisa dapat produk gratisan, kemana-mana dibayarin", begitu kira-kira yang sering kudengar. Hmm kalau dibilang enak sih ya enak kalau memang hobi atau kesukaannya, tapi kadang ada nggak enaknya juga. Sama seperti pekerjaan lainnya, menjadi blogger juga butuh kerja keras yang jarang terlihat oleh para pengikutnya. Kesulitan seperti mengalami creative block disaat udah dekat deadline-nya, nggak punya uang buat modal bikin konten, eksekusi konten yang gagal dan harus diulang beberapa kali, dan masih banyak lagi. 

Meskipun sekarang aku tidak lagi mengklaim diri sendiri sebagai DIY blogger, tetapi membuat tutorial DIY masih sering aku lakukan. Selama "merasakan perjalanan" menjadi DIY blogger dengan membuat konten-konten tutorial, aku belajar banyak hal. Tentunya hal tentang apa saja yang akan kita alami selama menjadi blogger. Nah, berikut hal-hal yang perlu kalian ketahui jika ingin menjadi DIY blogger juga (semoga bisa memberikan kalian sedikit pandangan dan persiapan ya).

Budget membuat tutorial
Bebikinan tentu membutuhkan uang untuk membeli alat dan bahan. Kalian akan banyak mengeluarkan uang untuk membeli perintilan yang nantinya sisa material itu (bisa juga) nggak lagi digunakan. Nah untuk mengakali hal ini kalian bisa menentukan budget per tutorial, dan lebih memberikan anggaran untuk material yang kiranya akan digunakan lagi agar tidak ada penyesalan ketika beli banyak bahan ujung-ujungnya nggak kepakai lagi. Contohnya: aku beli banyak lem fox putih karena banyak tutorialku yang akan menggunakan lem tersebut, sehingga nggak mubazir, sering dipakai, dan nggak sedikit-sedikit beli (yang malah jatuhnya lebih mahal). Jangan lupa juga untuk mulai berinvestasi pada material dasar seperti gunting, lem tembak, mesin jahit atau perlengkapan jahit, perkakas tukang, dll, karena cepat atau lambat, ketika tutorial kalian semakin oke dan eksplorasi pembuatan semakin meningkat, kalian akan membutuhkan banyak material khusus.

Luangkan waktu
Tentunya kalau kita mau membuat konten, kita harus bisa dan mau meluangkan waktu. Lama waktu yang dibutuhkan berdasarkan keefektifan kinerja kalian, bisa cuma beberapa jam atau bisa juga seharian. Untuk tutorial yang butuh waktu panjang bisa memakan waktu berhari-hari, contoh misalnya bikin karpet pompom, atau keramik. Meskipun mungkin tutorial yang akan aku bikin prediksinya hanya menghabiskan waktu yang singkat, tetapi aku tetap menjadwalkan satu hari itu full untuk bikin konten.

rustic daun hiasan wedding

cara menjadi blogger

Trial and error (hasil akhir kadang tidak sesuai keinginan)
Yess, aku selalu berhadapan dengan hal ini. Antara apa yang sudah aku konsepkan dan coba ternyata tidak sesuai dengan keinginan alias gagal. Kalau sudah begini ya mau nggak mau kita coba bikin lagi, dan mendokumentasikannya lagi. Memang akan membuang waktu, membuang material, dan bikin males, tetapi tetap semangat aja daripada nggak ada konten hahaha. Keuntungan dari kegagalan ini kita jadi tahu trick untuk membuatnya lebih oke lagi. Biasanya kalau gagal sekali dua kali aku rehat dulu sambil memikirkan cara atau mencari tahu trick-nya gimana, trial and error terus ya jangan mudah menyerah.

Ide dan kreativitas
Harap diingat kalau tidak ada yang original di dunia ini, semua hal kita dapatkan dari hasil terinspirasi. Masalah ide membuat tutorial, bagus kalau kalian bisa bikin tutorial yang tidak sama atau belum pernah dibikin orang-orang (baik dari luar negeri atau di Indonesia), tetapi kalau semisal memiliki ide untuk bikin versi kita sendiri dari tutorial yang sudah ada itupun juga masih oke. Contohnya punyaku sendiri, kalau kalian lihat dibeberapa postingan tutorial, kalian pasti tidak asing dengan tutorial tersebut karena pasti sudah pernah melihatnya entah di Instagram, Youtube, atau Pinterest yang gudangnya kreativitas. Nah yang bikin tutorial itu menjadi baru lagi dan menarik, karena aku bikin versiku sendiri, berbeda dengan versi yang sudah ada. Karena bagaimanapun juga, nggak hanya aku, kalau kalian cari, kalian akan menemukan banyak tutorial membuat sesuatu yang sama teknisnya (step by step-nya) tetapi dengan material berbeda sesuai versi pembuatnya.

Tetap perbanyak ide dan inspirasi dengan membaca majalah atau melihat video atau blog berisi diy tutorial ya, biar tetap update juga dengan hal-hal yang sedang populer. Kalau suka membaca majalah diy tutorial dari luar negeri, kalian bisa coba membaca Mollie Makes, majalah yang semuanya berisi artikel DIY yang lucu-lucu. Rekomen banget deh!

Cari karaktermu sendiri
Di dunia ini banyak sekali orang yang suka bebikinan dan bisa dibilang mungkin ada yang sudah "tingkat dewa" kreativitasnya, jadi agar orang lebih mengenal bikinanmu ada baiknya punya karakter sendiri. Misalnya lebih spesifik pada tutorial recycle saja, atau tutorial murah yang bisa dibikin oleh ibu dan anak (sasaran pembacanya), dan masih banyak lagi.

Pahami langkah-langkah pembuatan
Hal ini tidak kalah penting karena waktu kita mendokumentasikannya menggunakan foto, kita harus tahu benar mana langkah-langkah yang penting untuk diperlihatkan dengan jelas, jangan sampai kelupaan. Misalnya: pada langkah tutorial tali yang harus diikat, foto yang menunjukkan pengikatan tali tersebut harus ada karena jika tidak ada, orang-orang akan bingung dan mempertanyakan kenapa tiba-tiba hasilnya bisa berbeda. Begitu juga saat mendokumentasikan dengan video ya.

Proses pembuatan
Nggak perlu cemas kalau cuma punya hape untuk foto, yang penting foto kamu jelas, terang, dan dan menarik. Hal ini bisa diakali dengan kondisi sewaktu pembuatan tutorial. Mulai dari background, pilih alas dengan material polos (contoh kain polos atau kertas polos) untuk membuat orang-orang yang melihat lebih fokus pada tangan dan barang yang sedang kamu bikin. Usahakan juga kalian membuat tutorial ditempat yang terang ya, kalau gelap kan susah orang lihatnya kecuali kalian bisa mengedit dan membuatnya menjadi lebih terang dan jelas. Aku sendiri biasanya mengerjakan tutorial saat siang hari di halaman belakang studioku, jadi nggak butuh tambahan lampu atau edit foto yang terlalu banyak.

Hampir ketinggalan nih yang nggak kalah penting, yaitu kita harus bikin contoh hasil tutorialnya dulu. Keuntungan dari bikin contoh, yakni selain jadi ngerti langkah mana yang akan memiliki banyak kesulitan (jadinya pas sedang divideoin atau difoto nggak kelamaan berkutat dengan tahap yang sulit tersebut alias nggak buang waktu pas hari H bikin konten), kita juga bisa menggunakan hasil akhir itu untuk cadangan kalau pas bikin tutorial ternyata malah gagal (hal ini pernah terjadi padaku haha jadi untuk pembelajaran selanjutnya saja).

Konsisten
Tidak ada keberhasilan yang terjadi secara instan, jadi tetaplah konsisten bikin tutorial kamu dan bagikan ke media sosial yang kamu miliki. Konsistensi ini penting karena selain bisa membuat orang-orang menjadi tahu bahwa kamu memiliki profesi sebagai DIY blogger (personal branding), kalau tutorialmu juga menarik, bukan hal yang mustahil untuk bisa "dilirik" banyak brand yang ingin menjadi sponsor alat dan bahan tutorial kalian.

cara merangkai bunga

Oke, ini dulu dari aku, semoga setelah baca tetap semangat untuk jadi DIY blogger ya haha. Mungkin kalian akan menemukan lebih banyak lagi dari pengalaman masing-masing nanti. Kerja keras menjadi kunci utama dari semua profesi yang ingin kalian ambil, jadi jangan disepelekan karena hasil tidak akan mengkhianati proses ;) Goodluck ya!


Cheers,
Lucia Berta

12:35 PM 2 comments
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose