• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun

Yuk kita bahas lagi informasi tentang berjualan produk digital :) Oke, kalau kamu selalu membaca updatean blogku ini, tentu kamu sudah tahu kalau aku berjualan produk digital di Etsy. Ya, aku punya 2 toko di Etsy, yang satu sudah hampir 1,5 tahun ini, yang satu lagi baru 4 bulan jalan. Semuanya berjualan produk digital berupa digital notebook, jurnal, dan planner. Bagaimana penjualannya? Puji Tuhan selalu ada penjualan, bahkan selang seling, kadang hari ini produk yang terjual yang toko lama, besoknya yang di toko baru. 

Kali ini aku tidak akan membahas Etsy lagi, tetapi beralih pada marketplace luar negeri yang juga bisa digunakan untuk menjual produk digital. Aku sekaligus akan memberikan plus dan minus penjualan di marketplace tersebut dibandingkan dengan Etsy. Hmm sudah tidak sabar? Yuk langsung bahas saja! :)

Tahun lalu, tepatnya Desember 2021 aku menemukan informasi di grup Etsy bahwa ada marketplace bernama Design Bundles yang worth banget buat jualan produk digital. Nggak pakai babibu, aku segera coba mendaftar dan sekarang sudah menginjak 3 bulan berjualan di Design Bundles. Design Bundles adalah marketplace yang menjual produk digital mulai dari stiker, font, template, logo, desain, dan masih banyak lagi. Seperti ini nih tampilan websitenya:

berjualan di design bundles

how to sell digital product

Berbeda dengan Etsy, si Design Bundles ini sedikit unik (menurutku), dan traffic-nya juga nggak kalah kenceng sama Etsy (hmm atau malah lebih kenceng ya?). Keunikan yang harus kalian tahu tentang Design Bundles ini antara lain: 

Ada kurasi untuk buka toko
Ketika kita mengajukan buka toko di Design Bundles, mereka akan meminta portofolio link toko kita karena akan diverifikasi sebelum di approve (diterima). Lho gimana sih? Nah jadi sepertinya si Design Bundles ini segmen pasarnya udah jadi, dan mereka selektif banget untuk menerima toko baru (benar-benar dipilih), jadi mereka menyeleksi untuk mengetahui apakah toko baru yang apply tersebut produknya cocok dengan pasarnya si Design Bundles. Kalau cocok maka akan diterima, kalau tidak ya siap-siap saja ditolak. Cara seleksinya bagaimana? Ya kalau kita sudah punya toko di marketplace lain atau punya website sendiri maka akan diminta untuk menyertakan link-nya untuk dilihat mereka. Untungnya aku sudah punya Etsy, jadi aku berikan link toko Etsyku. Gila ya kurasinya hehe tapi aku suka nih yang kayak gini karena hampir dipastikan nggak ada saingan (penjual) yang random. Nah, kalau toko kamu lolos kurasi maka dalam waktu 3-7 hari akan ada pemberitahuan lewat email kalau kamu lolos dan bisa meneruskan untuk berjualan/membuka toko disitu.

Ada minimal harga jual
Ini nih yang paling asyik, mereka memberikan minimal harga produk kita. Jadi kita sudah diperingati nggak boleh jual produk dengan harga dibawah 4 dollar. Harga produk kita harus senilai 4 dollar ke atas. Kalau mau dijadikan dibawah 4 dollar, kamu harus bikin diskon nanti. Jadi upload dulu dengan harga 4 dollar lalu setelah diupload kamu bikin diskon deh, dengan demikian produkmu bisa dijual dibawah 4 dollar tetapi seakan-akan merupakan harga diskon :D. Sekali lagi aku suka nih yang kayak gini karena jadi bisa memberikan harga yang pantas untuk produk yang kita jual, selain itu bisa menghindari persaingan banting harga kalau ada produk kita yang setipe dengan penjual lain. Lalu bagaimana kalau nggak ada yang beli karena kemahalan? Hmm kurasa pasarnya sudah tahu ya range harga di Design Bundles jadi kalau memang suka produknya pasti dibeli tanpa komplain.

Memiliki 2 harga
Maksudnya gimana? Iya, jadi nanti produk kita dijual dengan 2 harga yaitu: premium license, dan corporate license. Premium license ini harga produk kita kalau produk itu akan digunakan untuk pribadi (personal use), sedangkan corporate license itu harga kalau pembeli ingin menggunakan produk kita untuk commercial use. Tentunya untuk corporate license ini harus kita beri harga yang lebih mahal karena sudah termasuk copyright, dan lain-lain.

Lalu kalau dibandingkan dengan Etsy gimana nih, plus dan minusnya?
Untuk kamu yang mau coba berjualan di Design Bundles, mungkin informasi ini bisa untuk bahan pertimbangan dan persiapan kamu.

Selain karena memiliki 3 keunikan yang sudah aku bahas di awal, yang juga bisa disebut sebagai keuntungan. Keuntungan yang lain yaitu:
1. Traffic-nya kenceng, terasa banget gaes dibanding Etsy. Aku berjualan Etsy dari 1,5 tahun yang lalu baru terjual di tahun pertama setelah buka toko, sedangkan di Design Bundles, produkku sudah terjual dalam waktu 3 bulan setelah buka toko. Itu pun aku nggak pakai promo apa-apa karena sebenarnya malah hampir kelupaan karena terlalu fokus ngurusin toko baruku di Etsy.

Email yang bikin kaget plus seneng di pagi hari

2. Nggak banyak potongan seperti di Etsy. Buat kalian yang belum tahu potongan yang dikenakan selama berjualan di Etsy, bisa baca artikelku disini: "JUALAN DI ETSY, WORTH IT NGGAK SIH?". Kalau di Design Bundles sistemnya adalah bagi pendapatan penjual 75 % : Design Bundles 25 %, atau bisa juga 50 % : 50 %. Upload atau posting produk tidak dikenai biaya, jadi hanya kalau terjual saja diminta 25%. Eh belum tahu ya nanti kalau kita ambil uangnya, apa masih ditarik biaya admin, karena aku belum menarik uang penjualanku.

Sedangkan untuk minusnya (yang aku rasakan, tapi tidak terlalu masalah juga untukku):
Payout (penarikan uang hasil penjualan) menggunakan Paypal atau Payoneer. Inginnya sih bisa menggunakan Jenius saja seperti di Etsy, tetapi ternyata hanya bisa menggunakan 2 sistem tersebut. Untungnya aku sempat membuat Payoneer sewaktu mencoba berjualan di Teespring :D yay! 

Oke, jadi kamu sudah tahu kan apa yang perlu kamu lakukan kalau mau buka akun di Design Bundles? Yap, bikin Paypal atau Payoneer dulu :D :D, habis itu siapin toko yang mau dijadikan portofolio. Kalau kamu sudah punya toko sih lebih enak, oya usahakan produk di toko yang kamu jadikan portofolio dengan produk yang akan kamu jual di Design Bundles itu sama ya, maksudnya misalnya aku, di Etsy jualan planner, ya yang aku tawarkan untuk dijual di Design Bundles ya planner juga.

Sekian dulu ulasanku mengenai berjualan produk digital di Design Bundles. Mungkin nanti akan ada update baru tentang ulasan ini karena aku baru jalan 3 bulan berjualan di Design Bundles, jadi tentunya masih akan ada kejutan-kejutan baru yang perlu ditambahkan :) Kalau kamu ada yang ingin bertanya seputar berjualan produk digital baik di Etsy atau Design Bundles, jangan segan-segan untuk menulis di kolom komentar atau email aku ya, aku akan dengan senang hati menjawabnya :)

Kalau kalian ingin coba berjualan di Design Bundles, aku kasih linknya berikut ya (klik di gambar) :)




Cheers,
Lucia Berta


3:22 PM 3 comments
Kalau kalian sudah membaca artikelku sebelumnya yang berjudul "Selling Digital Product: Ide Produk Digital yang Bisa Menghasilkan Passive Income" (bisa baca disini selengkapnya), aku sudah sempat berjanji untuk memberikan tips dan trik tentang apa lagi yang harus dilakukan untuk mulai membuat produk digital. Awalnya bingung mau menulis darimana karena sewaktu aku googling, ternyata sudah ada banyak sekali blog yang sudah membahasnya, yaitu peralatan dan aplikasi yang digunakan untuk membuat produk digital. Pas banget memang aku mau membahas peralatan dan aplikasi yang harus disiapkan pada bagian 2 ini. Sempat kepikiran untuk tidak meneruskan artikelnya tetapi aku merasa perlu untuk ulas juga, bedanya kali ini akan berbagi sesuai dengan pengalaman dan sudut pandangku ya. So, here it is, pengalamanku dalam mempersiapkan peralatan dan aplikasi yang perlu disiapkan untuk membuat produk digital. Disclaimer: aku tidak terlalu ahli menggambar dan mendesain, jadi tips ini bisa banget untuk kamu yang juga sama seperti aku dan punya semangat untuk memaksimalkan semua yang kita punya ;p

selling-digital-product


Peralatan yang dibutuhkan
Tentu saja kalau mau bikin dokumen digital (printable) kita perlu komputer atau laptop, dan wacom atau tablet untuk menggambar. Nah, kalau belum punya wacom atau tablet, nggak usah beli dulu. Kamu harus tahu apakah dengan membeli tablet atau wacom akan worthy atau nggak (kalau kamu memang benar-benar nggak bisa gambar tetapi maksa :( ). Jangan sampai malah sia-sia nggak pernah dipakai karena kamu menyerah nggak bisa menggambar. Jujur itu yang sempat kualami haha, nggak sampai tablet sih tapi aku beli stylus yang bisa kupakai untuk menggambar di smartphone-ku. Stylus itu akhirnya jarang terpakai karena ternyata aku hanya bisa menggambar itu-itu saja, nggak ada perkembangan. Awalnya menggebu mau bikin ilustrasi yang nantinya akan kujadikan art print atau wall art, tetapi nggak jadi. Nggak putus asa sampai sini, aku searching produk digital lain yang bisa kubikin tanpa menggambar, aku pun menemukan notepad, paper template, dan planner. Ketiga produk itu ternyata juga oke banget peminatnya, yang jualan juga banyak. Senangnya lagi, aku hanya membuatnya menggunakan Microsoft Office (ms publisher, ms word, dan ms power point)! Irit banget bukan? 

Tips 1 peralatan yang dibutuhkan: pastikan dulu apa produk yang mau kamu bikin, searching di beberapa marketplace atau tanya dengan teman atau kenalan yang kebetulan juga berjualan produk digital, baru peralatan pendukung itu bisa kamu beli. Kalau masih bisa mengakali atau memaksimalkan apa yang kita punya, itu akan lebih baik.

Aplikasi yang dibutuhkan
Kalau kamu ilustrator atau bisa gambar, selanjutnya kamu akan butuh aplikasi buat menggambar, edit dan lain-lain. Aplikasi yang paling sering digunakan adalah menggunakan corel, procreate, ibispaint, medibang, picsart, dan masih banyak lagi. Bisa juga photoshop jika kamu mau jualan produk digital dengan foto hasil jepretanmu sendiri. Beberapa aplikasi desain yang populer dan gratis juga sudah ada banyak yang bisa dipakai untuk kamu yang sama sekali nggak ngerti desain, yaitu salah satunya Canva. Canva sangat mempermudah hidup kita dalam membuat semua hal yang berbau produk digital karena template-nya lengkap banget, apa aja ada mulai dari kartu nama, feeds instagram, logo, hingga resume (CV). Nah, kalau kamu seperti aku mau bikin paper template dan planner, kamu bisa pakai Microsoft Office yang sudah tersedia di laptop atau komputer.

Tips 2 aplikasi yang dibutuhkan: coba pakai semua aplikasi desain gratis biar kamu tahu mana aplikasi yang lebih mudah dan nyaman untuk membuat produkmu.

Ukuran produk yang dibikin
Ukuran sangat penting dalam pembuatan produk digital terutama printable ya, karena salah ukuran maka berujung fatal (ngeblur, atau terlalu besar jadinya nggak bisa diupload). Setelah kamu tahu mau bikin apa, coba juga cari tahu biasanya yang jual produk sama dengan punyamu kebanyakan menggunakan ukuran berapa. Biasanya tidak ada standard khusus tetapi suka-suka penjualnya saja yang ingin memberikan banyak varian ukuran. Misalnya jika kamu mau bikin wall art/wall print, rata-rata ukuran yang diperlukan dari yang kecil A6, A5, A4, sampai A3 (ukuran Internasional ya), tetapi ada juga yang memberikan ukuran lain. Hal itu nggak masalah kalau kamu juga bisa ikut sediakan, ya sediakan saja, asal dalam deskripsi ukuran produkmu jelas agar pembeli tidak salah mengeprint dan tidak ngeblur hasilnya.

Tips 3 ukuran produk yang dibikin: banyak lihat deskripsi produknya kompetitor biar ngerti ukuran yang dibutuhkan atau yang paling dicari.

Payment method/ metode pembayaran
Metode pembayaran ini yang akan berkaitan dengan marketplace yang kamu pilih untuk menjual produkmu, karena setiap marketplace memiliki ketentuannya sendiri-sendiri. Contohnya yang aku tahu dari pengalamanku berjualan di Teespring dan Etsy (Etsy itu apa dan enak tidak jualan di Etsy, bisa baca artikelku yang membahas tentang berjualan di Etsy disini). Pembayaran di Teespring ada 2 metode yaitu menggunakan Paypal dan Payoneer, karena aku sudah nggak mau pakai Paypal jadi saat itu aku harus bikin Payoneer. Mirip dengan Paypal sih tetapi uang adminnya lebih sedikit daripada Paypal :p Oya FYI, Paypal dan Payoneer adalah rekening virtual yang menyediakan jasa transfer dan pembayaran secara online. Nanti sistemnya jika ada uang penjualan akan diberikan oleh pihak marketplace ke paypal atau payoneer kamu, nah dari paypal itu baru akan ditransferkan lagi ke rekening bank yang kamu punya. Biasanya ada syarat tertentu, salah satunya biaya admin, jadi uang yang bisa kamu dapatkan akan dikurangi beberapa persen untuk biaya gitu. Belum lagi akan lama cair ke rekening bank kamu karena harus dalam jumlah tertentu (ada minimalnya, cmiiw). Lalu untuk Etsy, mereka menggunakan Paypal dan kartu kredit. Nah aku nggak punya kartu kredit jadi aku pakai Jenius sebagai gantinya dan bisa kok. Kalau pakai Jenius, si pihak marketplace akan langsung transfer ke rekening Jenius kamu dan dari pihak Jeniusnya nggak ada potong uang admin. Bisa langsung dicairkan uangnya sama seperti kalau kamu transfer ke antar bank. Lebih ringkas daripada pakai Paypal atau Payoneer.

Tips 4 payment method: pelajari dengan benar metode pembayaran yang kamu pilih ya, apakah mau pakai Paypal, Payoneer, Jenius, atau rekening virtual lainnya, dan pelajari plus minusnya. Usahakan juga jika mengisi data penting untuk kepentingan ini jangan menggunakan data palsu.

Memilih marketplace yang cocok dengan produkmu
Sudah jadi produknya, sekarang jualannya dimana? Bisa jualan di website sendiri tetapi jangan lakukan kalau kamu belum punya banyak pelanggan loyal ya karena akan berat di ongkos websitenya. Hal yang paling mudah dan murah yang bisa kamu lakukan adalah berjualan di marketplace yang bisa menjual produk digital. Marketplace yang akan kusebutkan ini memang dari luar negeri karena di Indonesia aku belum menemukan yang bisa menjual produk digital, eh ada sih, Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak, tapi belum terlalu heboh jualan disitu. Apalagi konsumen orang Indonesia sepertinya juga belum bisa menerima pembelian produk digital (printables). Ada banyak marketplace tetapi kamu juga harus memilih mana yang cocok dengan jualanmu karena pasarnya berbeda. Berikut beberapa marketplace yang bisa kamu pilih diantara sekian banyak yang tidak tersebut disini:

selling-digital-product

Creative Market
Produk yang banyak dijual disini adalah font, instagram templates, product mockup, vector graphic, dan masih banyak lagi.

Spoonflower
Kalau kamu suka membuat gambar berpola (pattern) disinilah tempat yang cocok. Kamu bisa jual desainmu untuk nanti dibikin menjadi kain, wallpaper, sarung bantal dan lain-lain oleh pihak Spoonflower. Kamu tidak perlu membuatnya menjadi kain atau produk fisik lainnya tetapi hanya menjual desainmu saja.

Teespring, Redbubble, Teepublic, dll
Semua yang kusebut hampir sama yaitu situs Print-On-Demand yang sistem kerjanya kamu bikin desain entah gambar atau tulisan lalu memilih untuk diaplikasikan di banyak benda yaitu jaket, kaos, wall art, dll. Lalu nanti kamu akan disuruh mendisplay produk yang sudah kamu bikin di tokomu sendiri. Setiap ada pembeli yang membeli produk dari tokomu maka otomatis pihak situs tersebut akan membuatkannya untukmu dan langsung mengirimkannya pada pembeli. Kamu nggak perlu susah produksi dan mengirimkannya karena semua sudah ditangani pihak situs tersebut. Kamu akan mendapatkan uang dari hasil penjualan yang sudah dikurangi biaya penanganan oleh situs tersebut. Aku pernah membuat toko di Teespring tetapi tidak laris terjual karena aku tidak tahu pasarnya siapa, dan Teespring juga tidak membantu untuk memberikan traffic pengunjung alias kita sendiri yang harus cari traffic dan pembeli. 

Etsy
Adalah marketplace andalan para maker, crafter, dan desainer. Varian penjualan banyak, ada penjualan produk fisik dan digital, komplit banget. Pasarnya pun lebih beragam dari orang muda sampai nenek-nenek. Etsy juga memiliki komunitas untuk para penjual di Etsy sehingga kamu bisa bertukar info atau bertanya seputar tips pengalaman berjualan dengan sesama penjual. Setelah mencoba banyak marketplace aku lebih cocok untuk berjualan di Etsy, dan sekarang sudah punya 2 toko (FYI, kamu bisa bikin lebih dari 2 toko di Etsy menggunakan sistem pembayaran (rekening bank) yang sama). Kamu bisa baca pengalamanku berjualan di Etsy di artikel ini.

Masih banyak lagi marketplace yang bisa kamu coba dan searching yang belum aku sebutkan disini. Intinya kamu jangan takut untuk mencari tahu dan mencoba semuanya agar tahu mana yang lebih cocok dan nyaman untuk kamu gunakan. 

Tips 5 memilih marketplace yang cocok: pelajari semua ketentuan setiap marketplace karena ada hal-hal tentang pembayaran yang berbeda, tentang produk yang boleh dijual, dll. Lihat dan pelajari kompetitor yang menjual produk setipe (cek toko sebelah). Perbedaan plus minus marketplace banyak diulas di Youtube oleh orang-orang yang menjadi sellernya jadi jika masih ragu bisa cek dulu.

Hal-hal yang penting sudah aku bagikan semua, saatnya mulai bikin produk dan berjualan! Kalau ada yang masih ingin ditanyakan seputar berjualan produk digital jangan segan untuk menulis di kolom komentar ya. Selamat mencoba!


Cheers,
Lucia Berta


11:14 AM No comments
selling-digital-product

Tidak bisa dipungkiri adanya pandemi Covid-19 yang sudah mendunia ini mampu membuat kerugian luar biasa untuk sektor perekonomian semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Tantangan terbesar saat pandemi adalah berubahnya sistem penjualan pada industri kreatif global. Beberapa bisnis kreatif akhirnya kolaps dikarenakan tidak adanya sarana ajang jual beli seperti pameran yang biasanya diadakan di setiap kota di Indonesia akibat dari pembeli tidak mau mengambil risiko penularan Covid-19. Belum lagi penjualan yang menurun drastis akibat tingkat permintaan produk semakin rendah. Orang-orang lebih memprioritaskan untuk membeli produk kesehatan seperti vitamin, obat, dan masker dalam masa pandemi. Bisa dikatakan bisnis kreatif anak muda sedang kehilangan masa kejayaannya saat ini. Beberapa diantara mereka ada yang tetap berjuang untuk bertahan, tetapi tidak sedikit pula yang akhirnya harus rela gulung tikar. Padahal bisnis kreatif telah dinyatakan sebagai kekuatan baru dan garda terdepan pemulihan ekonomi nasional oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hal ini tentu memberikan tantangan besar untuk sektor ekonomi kreatif Indonesia.

Hidup terus berjalan, mau tidak mau semua orang harus bisa beradaptasi dan berdamai dengan kondisi pandemi yang belum juga berakhir. Berbagai cara dilakukan untuk tetap bisa berkarya dan kembali menjalankan roda perekonomian. Berjualan produk digital akhirnya tercetus menjadi salah satu solusinya. Masa pandemi ini adalah waktu yang tepat untuk mengubah strategi penjualan karya dengan mengubahnya menjadi produk digital. Keuntungan dari situasi ini sudah pasti orang-orang banyak berada di rumah sehingga memiliki banyak waktu untuk mempelajari hal baru atau melakukan hobi baru. Sistem online juga akan lebih dipilih untuk berbelanja berbagai peralatan dan kebutuhan.

Berjualan produk digital memang bukan strategi bisnis yang baru, tetapi selama beberapa tahun terakhir ini pasar produk digital mulai dilirik anak muda seiring dengan antusiasme pada bidang kewirausahaan digital. Sistem penjualan produk digital juga sudah mulai diperkenalkan di beberapa marketplace terkenal di Indonesia seperti Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak. Produk digital memberikan banyak keleluasaan anak muda untuk bisa terus berekspresi dan berkarya. 

Di Indonesia sendiri peluang untuk membuat dan menjual produk digital terutama produk kreatif masih besar. Pasar yang bisa dijangkau juga luas, bahkan konsumen dari luar negeri adalah pasar yang paling potensial. Jika kamu seorang yang kreatif atau suka membuat produk kreatif dan ingin mencoba peluang berjualan produk digital, tidak perlu merasa bingung dan pusing karena sekarang sudah sangat mudah sekali dilakukan. Kamu juga tidak membutuhkan banyak keahlian seperti misalnya untuk membuat website untuk menjual produk-produk digital. Seperti apa sih kemudahannya, apalagi untuk pemula? Yuk simak kelanjutan artikel ini!

selling-digital-product

Apa Itu Produk Digital? Secara sederhana, produk digital diartikan sebagai produk dengan wujud bukan fisik atau biasanya berbentuk elektronik yang diperjualbelikan secara daring (online) melalui media internet. Penggunaan produk digital diakses melalui perangkat digital (smartphone, tablet, PC desktop, laptop, dan lainnya). Beberapa produk digital yang sudah familiar di masyarakat umum antara lain: musik MP3, video MP4, kursus online, E-book, aplikasi smartphone, font, dan masih banyak lagi.

Keuntungan berjualan produk digital adalah tidak perlu membayar biaya untuk memproduksi dan mendistribusikan setiap produk. Produk yang dihasilkan juga tidak terbatas atau tidak akan pernah habis dibeli sampai kapanpun jika kamu tidak menghapus atau menghilangkan file-nya. Hal ini berarti kamu bisa membuat satu produk untuk dapat dibeli orang lain berkali-kali. Selain itu kamu juga tidak memerlukan banyak alat dan bahan untuk membuatnya atau melakukan pra-pembelian barang.

Keuntungan selanjutnya, adalah bisa memiliki pendapatan atau penghasilan pasif (passive income). Pemasukan atau pendapatan pasif (passive income) adalah penghasilan yang diperoleh seseorang dengan melakukan aktivitas seminim mungkin tanpa berperan aktif didalamnya. Selama ini saham menjadi salah satu pendapatan pasif yang biasanya lebih diminati dan dikenal, akan tetapi untuk beberapa jenis produk digital yang dijual juga bisa digunakan untuk mendapatkan penghasilan pasif. Sistemnya terjadi dengan adanya penjualan terus menerus meskipun kita hanya sekali membuat produk, dan penjualan itu bisa berlangsung 24 jam tanpa kita harus melakukan sesuatu yaitu bisa saja sewaktu kamu sedang tidur ada produkmu yang terjual.

Seperti halnya kehidupan yang memiliki dua sisi yaitu baik dan buruk, berjualan produk digital juga memiliki kerugian yang bisa saja kamu alami, salah satunya adalah permasalahan pencurian karya dan copyright (hak cipta). Dunia maya adalah dunia yang luas, ada banyak sekali karya digital yang dihasilkan dan diperjualbelikan di internet. Pencurian karya yang akhirnya diakui dan dijual orang lain bisa saja terjadi. Bahkan hal tersebut sudah menjadi mimpi buruk yang selalu dialami para kreator atau seniman.

Produk-produk Digital yang Bisa Jadi Passive Income
Produk digital yang sekarang bisa kita temui macamnya banyak sekali tak terhitung, mulai dari kursus online hingga jasa desain. Akan tetapi ada beberapa produk yang bisa menjadi pilihan anak muda yang hobi berketrampilan dan karya seni (art and handmade) sekaligus bisa digunakan sebagai investasi untuk mendapatkan penghasilan pasif. Produk digital ini adalah dokumen digital (printable) yang berupa sebuah karya, baik karya ilustrasi, gambar, desain, foto yang bisa diunduh dan dicetak sendiri. Produk yang termasuk dalam printable ini ada banyak, diantaranya: 
1. Artwork (karya seni)
Suka menggambar, atau bikin ilustrasi? Kamu bisa jual karyamu berbentuk digital yang diaplikasikan sebagai hiasan dinding, stiker, sampul buku, clip arts, komik digital, kartu ucapan, dan lain-lain. 

2. Desain
Kalau jago mendesain dan bikin template, kamu bisa jual desain logo, template CV (Curriculum Vitae), kartu nama, undangan, planners (perencana), template sosial media, template website/blog dan masih banyak lagi

3. Pattern / pola
Punya ketrampilan di bidang kerajinan tangan (seperti menjahit, merajut, menyulam) kamu bisa menjual pola rajutan, pola pakaian dan tas, pola quilting, pola sulaman, pola kain, dll.

4. Filter foto
Anak muda yang suka bermain media sosial dan swafoto tentu tidak asing dengan filter foto. Meskipun aplikasi edit foto yang banyak digunakan orang-orang sudah memiliki fitur filter foto secara gratis, tetapi masih ada juga yang lebih memilih untuk membeli filter foto tertentu yang disukainya.

5. Produk tulisan
Suka menulis atau memiliki tulisan tangan yang cantik? Kamu bisa menjual e-book, zine digital, font, dan karya tulisan untuk hiasan dinding.

6. Fotografi
Foto digital sangat diminati oleh orang-orang untuk dicetak dan digunakan sebagai hiasan dinding. Beberapa blogger atau penulis juga suka menggunakan foto untuk melengkapi karya tulisan mereka.

Pilihannya sangat banyak bukan? dan sebenarnya bisa kutulis lebih banyak lagi, tetapi memang kategori yang sudah kutulis tersebut yang lebih sering dijumpai dan lebih laku di beberapa marketplace luar negeri yang terkenal. Kalau sudah begini, kamu jadi nggak punya alasan lagi untuk tidak memulai membuat produk digital yang bisa dijual ;) 


Selling Digital Product Part 2 sudah bisa dibaca DISINI


Cheers,
Lucia Berta
10:11 AM 4 comments
Pandemi ini pingin punya pendapatan sampingan dengan berjualan. Akhirnya mulailah berjualan dari nol. Semua sudah disiapkan dengan baik, ya produksinya, logo usahanya, dan lain sebagainya. Mulai promo juga melalui semua media sosial, bahkan ke tempat saudara dan teman. Tapi semuanya ternyata tidak berjalan baik, sepi nggak ada pembelian. Sebulan lewat, dua bulan lewat, tiga bulan, bahkan hampir empat bulan belum menunjukkan tanda-tanda produk akan terbeli. Kegelisahan mulai muncul dalam diri, capek mengalami situasi yang tidak kunjung baik, suara batin pun berkali-kali berseru "Apakah aku memang tidak berbakat jualan?", "Apakah harus tutup saja?". Nah, pernahkah kalian ada diposisi tersebut? atau malah sedang berada diposisi itu sekarang? 

awal-buka-usaha-tapi-masih-stagnan

Pengalaman awal berbisnis yang stagnan itu tidak hanya kalian yang mengalami, tetapi ada banyak, termasuk aku. Hasilnya ada yang sudah putus asa dan akhirnya menutup usaha, ada juga yang malah sukses besar. Berikut aku akan memberikan tips untuk kalian yang sedang merasakan kondisi tersebut berdasarkan pengalaman yang juga aku pernah miliki. Harap diingat tips ini bukan untuk menaikkan penjualan ya tapi lebih pada sikap kita dalam menghadapi situasi tersebut.

Keep going, jangan putus asa
Jangan dibilang klise karena memang kenyataannya seperti itu. Kalau kalian yakin dengan bisnis kalian ya jangan menyerah. Pernah nggak kalian lihat (di sekitar atau di media sosial) ada penjual jajanan yang sepi pembeli tapi dia tiap hari tetap mau berjualan tanpa menyerah. Meskipun mungkin dalam sehari cuma ada 1 orang yang beli (itupun kalau beruntung). Itulah semangat yang harus kita juga miliki. Menjadi wirausahawan itu tidak mudah, dari awal pun sudah kita ketahui bukan? Yakinlah, ada waktunya orang kenal dengan usaha kita dan mau membelinya. Kesabaran dan ketekunan itu sangat diperlukan.

Konsisten
Memperkenalkan usaha kita ke masyarakat umum agar mereka bisa tahu apa yang kita jual itu butuh konsistensi. Orang akan susah mengingat jika kita tidak konsisten. Contoh sederhananya, dalam grup whatsapp-ku ada banyak teman yang berbisnis, mereka mempromosikan jualan mereka masing-masing di grup tapi hanya 2 orang saja yang lebih mudah kuingat dan diingat teman yang lain karena konsistensinya dalam mempromosikan produk A, bukan random produk A, B, C, dan D. Terlalu banyak yang dipromosikan dan tidak satu tema itu bikin orang tidak mudah mengingatnya, dan kita sendiri juga jadi nggak tahu target pasarnya untuk siapa saja. Misal kita berjualan sembako, tentu yang banyak kita promosikan adalah beras, minyak goreng, telur, dll bukan ditambah juga mempromosikan furnitur, baju, atau sepatu. Ketika kita konsisten, orang akan lebih mudah mengingatnya, atau bahkan tiba-tiba akan dikenal menjadi nama belakang kita nanti, seperti contohnya Rudi Sembako, atau Yanti Beras :D Itu tandanya konsistensi kita sudah berhasil, tinggal tunggu saja mereka beralih membeli produk kita karena ingat nama belakang yang mereka beri tersebut. Keuntungan mendapatkan nama itu tentu menjadi sarana marketing gratis buat kita.

awal-buka-usaha-tapi-masih-stagnan


Mau belajar dengan siapa saja dan apa saja
"Kok produkku belum juga dibeli sih? padahal harganya lebih murah daripada si A, tapi si A malah laris terus". Nah, ya kita belajar dong kepada si A jangan sok gengsi. Kalau si A tidak mau berbagi ilmu atau kita tidak kenal, ya kita cari dengan memperhatikan produk si A, apakah yang membuatnya berbeda? apakah kualitasnya lebih baik? apakah cara memasarkannya lebih tepat? dan lain sebagainya, cobalah mengobservasi saingan-saingan kita dan cari tahu keunggulan mereka. 

Masih belum berhasil? Kita belajar lagi dong. Kali ini kita coba kulik kekurangan yang kita miliki, misalnya kita belum tahu segmen pasar untuk produk kita, nah coba cari ilmu dengan teman yang ahli dibidang marketing, cari buku dan artikel tentang bisnis/usaha, atau tonton video yang berisi tips marketing. Jangan malas untuk belajar karena menjadi wirausaha bukan sekedar menjual produk/jasa, ada banyak hal penting yang perlu kita ketahui kalau usaha kita mau tetap langgeng. 

Jangan takut gagal, terus mencoba, dan miliki banyak strategi bisnis
Banyak wirausahawan sukses yang akhirnya menjadi motivator dan memberikan "rahasia sukses" mereka dalam bentuk pelatihan dan buku. Setiap rahasia yang dilakukan mereka itu berbeda-beda, tetapi apakah ada jaminan juga untuk 100% cocok dengan kita dengan mencoba sesuai dengan salah satu rahasia itu? Nggak kan? Oleh karena itu kita coba saja semua dan disesuaikan dengan target serta produk kita. Memiliki banyak strategi tentang apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan penjualan itu lebih menguntungkan karena bisa melihat mana yang lebih berhasil untuk usaha kita dan mana yang tidak cocok. Kalau tidak berhasil dengan cara A, kita masih bisa pakai cara B, C, D, E, dll.

Contohnya, aku sendiri pernah tidak berani mencoba strategi bisnis dengan membeli iklan untuk usahaku karena takut keluar banyak uang dan belum tentu produkku akan laris terjual. Aku mempertimbangkannya hingga sebulan sambil melihat perkembangan penjualanku. Ketika memang benar-benar tidak ada perubahan, aku beranikan diri untuk membeli iklan dan memantapkan diri akan kehilangan uang. Aku melihat hasil iklan tersebut sangat bagus dalam mendatangkan traffic konsumen tapi disisi lain penjualan belum sesuai harapanku. Akhirnya aku menghentikan iklan tersebut ketika sudah memenuhi target budget-ku dan aku mencoba strategi lainnya. Strategi baru yang kulakukan adalah lebih giat posting di media sosial, mencoba menggunakan aplikasi yang sedang tren, dan lain sebagainya. Akhirnya jadi tidak takut lagi sih mencoba strategi baru karena memang konsekuensinya akan ada kerugian tetapi juga bisa menjadi bahan evaluasi penting kedepannya.  

Berdoa
Bukan sok religius, tetapi karena memang apapun yang kita lakukan harus diiringi dengan doa bukan? Kalau sudah rajin berdoa tetapi tetap tidak berhasil bagaimana? Ya nggak papa, terus saja berdoa. Setidaknya doa itu adalah untuk menguatkan hati kita untuk tetap bisa konsisten dan yakin bahwa usaha yang kita kerjakan ini tidak sia-sia. Tidak terjerumus dengan bisikan negatif untuk menyerah/putus asa, atau bisikan bahwa kita orang yang selalu gagal/tidak mampu. Jangan sampai ya, tetap berpikiran positif dan kuat dalam doa.


Sekarang masih berkata akan menyerah? Hmm lebih baik coba lagi saja dulu, masih ada 100 lebih cara yang belum pernah kita coba bukan? ;) selamat berproses!


Cheers,
Lucia Berta

11:06 AM No comments
Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer, sebelum pandemi aja sudah susah, apalagi pas pandemi haha yess I feel you. Ada teman crafter dan pemilik bisnis keatif yang kemudian banting stir jualan produk yang lebih populer di masa pandemi ini, ada yang kukutan alias gulung tikar, tetapi ada juga yang tetap lancar bisnisnya nggak terpengaruh sedikitpun dengan adanya Covid-19. Apapun kondisi yang sedang dihadapi, ada baiknya kalau kita tetap terus mau belajar hal baru karena ternyata baru kerasa sekarang kan, semua hal bisa dalam sekejap berubah dan memaksa kita untuk beradaptasi dengan kondisi baru. Begitu pula dengan bisnis, ada saja yang terjadi dan mau tidak mau kita harus bisa gerak cepat menyesuaikan diri. Nah, sekarang siapa yang sedang berusaha berjuang dengan kondisi dan mulai berpikir untuk mencari tambahan penghasilan selama di rumah saja?

Berikut aku mau share beberapa ide bisnis kreatif yang bisa membantu kalian untuk memiliki tambahan penghasilan. Sebenarnya bisnis ini juga sudah ada sejak sebelum pandemi, tetapi belum terlalu populer, hingga akhirnya di masa sekarang ini malah terlihat menguntungkan. 

Jualan Produk Digital 
Buat kalian para fotografer yang gara-gara pandemi jadi nggak punya job fotoin orang atau event, mungkin bisa dicoba untuk menjual hasil fotografi kalian secara digital di beberapa ecommerce luar. Atau untuk kalian yang hobi desain bisa juga lho hobinya dipergunakan untuk jualan desain kalian di Teespring, Etsy, Creative Market, Design Bundles, dll. Segala macam produk digital seperti kartu ucapan, planner, memo, ebook, foto, scrapbook pattern, Instagram template, font, filter foto, dan masih banyak lagi itu bisa jadi sumber penghasilan juga. Nggak perlu banyak uang untuk memproduksi barang, kita hanya butuh aplikasi desain, kreativitas, dan internet. 


ide-bisnis-kreatif-selama-pandemi


Jualan Craft Kits
Selama pandemi orang banyak meluangkan waktu di rumah saja dan jadi bosan. Adanya craft kits itu sangat membantu orang-orang untuk tetap bisa berkegiatan ataupun jadi semakin terhibur. Nggak cuma sebagai hiburan, kadang malah jadi nambah ketrampilan lho, misalnya kalau ada craft kits bikin shibori, ecoprint, bikin boneka, dll. Selesai pandemi langsung jadi crafter nanti hahaha eh tapi bagus itu, bisa menambah penghasilan juga kalau sudah berhasil belajar dan akhirnya bikin banyak untuk dijual (balik modal deh). Craft kits ini juga penting banget untuk ibu-ibu yang masih memiliki anak kecil. Biasanya anak kecil rewel kalau sudah bosan di rumah, pinginnya jalan-jalan ke mall. Nah, dengan adanya craft kits jadi bisa menambah variasi bermain kan. Peluang jadi semakin besar nih, bisa menyasar ke pasar mana saja.

Jualan Kursus Online
Sudah banyak crafter yang mulai melakukan workshop daring (online), dan kita juga bisa kok kasih kursus online sesuai ketrampilan yang kita miliki. Misalnya kamu sebenarnya sudah punya pekerjaan di suatu perusahaan sebagai perencana keuangan atau apapun itu yang kamu sangat ahli dibidang tersebut, bisa banget kalau kamu bikin kursus konsultasi online tentang keuangan untuk keluarga muda, dan lain sebagainya. Maksimalkan saja apa yang kita bisa untuk "dijual". Contoh lainnya seperti aku, aku tahu kurang lebih tentang blogging, oleh karena itu aku juga membuka kursus membuat blog untuk pemula secara online. Kursus itu bisa dibikin privat (jumlah peserta 1-2 orang) ataupun kelompok (sesuai kebutuhan). Masa pandemi bikin orang banyak mencari kegiatan seru dan bermanfaat yang bisa mereka lakukan di rumah, jadi kursus-kursus ketrampilan sedang sangat banyak diminati.

Jasa Advertorial
Kalau ini khusus untuk para blogger ya. Selain adsense dan endorse, blogger juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari menulis konten berupa artikel/review untuk promoin suatu bisnis di blog atau disebut juga advertorial. Biasanya per-artikel ada biayanya sendiri, bisa 50.000 rupiah sampai 200.000 rupiah per-artikel tergantung rate card masing-masing blogger. Memangnya masih ada perusahaan yang mau promoin lewat blog? Masih dong, dan banyak kok, atau kalau nggak mau repot cari klien kalian juga bisa join ke jasa yang menghubungkan blogger/content creator dengan klien yang membutuhkan, seperti contohnya: Vira atau RajaBackLink (bukan promo ya).

Masih ada yang lain? Masih tentunya, tapi kali ini aku hanya memberikan 4 (empat) ide itu saja yang aku sendiri juga pernah lakukan (biar nggak dibilang omdo/omong doang :p). Nah, kira-kira kamu tertarik ide yang mana nih? atau kamu punya ide sendiri yang juga seru untuk dicoba? Bagi dong dengan komen disini :) 


Cheers,
Lucia Berta


2:49 PM No comments

Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majalah indie-ku yaitu Folksy Magazine. Nah, akan tetapi majalahku itu semua artikelnya memakai bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris, jadi sempat aku tunda jualan disitu dan membuat website sendiri yaitu folksypress.com untuk berjualan. Seiring tahun, sampai akhirnya Folksy Magazine juga sudah tutup/gulung tikar, aku masih nggak ngeh/lupa. Aku baru ingat saat aku cek email yang sudah lama banget. Awalnya sih pingin dibiarin aja karena sudah nggak punya produk/barang yang mau dijual saat itu, tapi setelah dipikir-pikir dan melihat Etsy yang sekarang aku jadi berubah pikiran. "Lho bisa nih jualan produk digital, dan lumayan juga!", akhirnya aku buka akun Etsy-ku untuk jualan.

Balik dulu sebelum meneruskan ceritaku, aku mau kasih penjelasan tentang apa sih Etsy itu? Etsy adalah marketplace luar negeri seperti Ebay, Amazon, atau kalau di Indonesia ada Shopee, Bukalapak, Tokopedia. Bedanya, Etsy ini fokusnya ke handmade dan vintage, sehingga Etsy sangat digemari oleh para crafter atau maker atau kolektor atau pecinta barang lawas di seluruh dunia. 

jualan-di-etsy-worth-it-nggak


Gratis nggak sih join Etsy? Gratis dong BIKIN AKUN sama BUKA TOKO-nya! Masalah bayar-bayarnya nanti di penjelasan ;)

Oke lanjut dulu ya sekarang, karena untuk tahu cara bikin akun di Etsy dan cara buka tokonya bisa kalian cari di Google, sudah ada semuanya. Banyak juga Etsy seller (panggilan penjual di Etsy) yang dari Indonesia juga bikin video di Youtube yang topiknya tentang Etsy dari A sampai Z.

Desember 2020 aku mulai membuka toko Etsy secara resmi dengan menjual produk digital yaitu stiker, memo pad, kartu ucapan, dan art print. Kebetulan memang aku suka merchandise ilustrasi gitu. Nah awalnya aku jual produknya Folksy Press, dan dua bulan nggak ada yang terjual. Kupikir, it's okay, mungkin karena masih dua bulan jadi belum ada yang kenal, atau belum menemukan pasarnya. Sambil terus jualan aku juga belajar dan mencari tahu kenapa sih susah jualan di Etsy, dan akhirnya aku menemukan beberapa video tentang tips berjualan di Etsy yang dibikin oleh seller Etsy dari luar negeri. Rata-rata mereka kasih tips yang hampir sama, yaitu: banyakin listing produk, tulis kata kunci yang lebih spesifik, perhatikan SEO, dan share akun Etsy kita ke semua media sosial. Setelah kuperiksa sepertinya strategiku salah, sainganku untuk produk yang mirip dengan Folksy itu banyak banget dan mereka juga sudah punya pembeli loyal. Oke akhirnya aku tutup lagi sementara akun Etsy-ku dan mulai dari awal lagi. Aku cari produk yang lebih spesifik karena aku ingin coba "memancing di kolam yang kecil" saja biar nggak banyak saingan. Bulan Februari 2021 aku ganti nama toko, bukan lagi Folksy Press, dan tidak lagi menjual produknya Folksy. Aku benar-benar bikin produk baru lagi dong, yang aku juga suka dan sampai bulan Maret ini aku sudah bisa menjual 3 produk :) Belum seberapa sih tapi sudah bikin happy banget. 

Ceritanya belum selesai sampai disitu ya karena belum menjawab pertanyaan di judul artikel ini. Itu tadi baru "pemanasan", sekarang proses selama berjualannya akan kuceritakan juga. Ada beberapa crafter yang aku temukan di Youtube, mereka membuat video tentang keluh kesah berjualan di Etsy. Mereka bilang jualan di Etsy itu rugi, nggak worth it karena kita dikenai banyak potongan biaya dari Etsy, sehingga keuntungan bersihnya cuma sedikit. Bahkan nggak sedikit juga teman-teman crafterku yang tutup toko karena hal itu. Iya, bisa dibilang itu benar sekali. Aku sempat kaget (karena aku dari awal malas baca tentang potongan-potongan biaya di Etsy :p ), ada potongan biaya yang akan dikenakan untuk kita dari awal kita upload produk (atau namanya add listing), trus nanti kalau produk kita terjual, kita juga akan dipotong biaya transaksi plus pajak (ppn 10%), dipotong juga auto renew listing plus pajak (ppn 10%), dipotong lagi untuk processing fee plus pajak (ppn 10%), nah kalau produknya bukan digital dan butuh dikirim pakai pos maka nanti akan dipotong lagi biaya shipping plus pajak (10%), sampai nanti ditransfer ke rekening kita dipotong lagi untuk biaya deposit 28.000 rupiah (fiuuuh...banyak banget kan). Oh ya gara-gara masalah ini aku sempat berdiskusi sama Ajeng Poyeng yang sama-sama jualan produk digital di Etsy. Dia akhirnya bikin artikel khusus perhitungan biaya di Etsy nih yang bisa jadi patokan kita untuk menentukan harga. Baca artikelnya Ajeng disini: Berapa dan apa saja biaya dan Pajak di Etsy (digital listing).

Apakah sudah menjawab pertanyaannya? Eits belum dong, aku mau kasih penjelasan lagi tentang plus dan minusnya berjualan di Etsy selama 4 (empat) bulan yang aku jalani. Tentunya 4 bulan belum ada apa-apanya, dan mungkin bisa berubah ya tapi tetap kuceritakan untuk memberikan tambahan informasi.

Plus (enaknya) jualan di Etsy:
1. Bisa jualan produk digital, jadi nggak perlu print produk dan kirim lagi. Sangat bikin irit dan nggak ribet karena pembeli nanti tinggal download sendiri, akan otomatis dikasih file digital kita setelah selesai membayar.
2. Bisa memiliki pasar yang luas karena pembeli dari berbagai negara
3. Traffic-nya Etsy kenceng banget di Google (nanti akan kujelaskan keuntungannya ya)
4. Kalau sudah dapat pasar yang sesuai niche akan kelarisan banget (bisa terus-terusan)
5. Produk handmade yang kalian jual akan lebih dihargai 

Minus (nggak enaknya) jualan di Etsy:
1. Banyak potongan biaya (seperti yang sudah aku sampaikan ya)
2. Saingan banyak karena penjual Etsy berasal dari berbagai negara, jadi harus pinter-pinter cari celahnya
3. Kalau kalian jualan produk yang harus dikirim, pengiriman dari Indonesia ke luar negeri itu termasuk mahal. Memang untuk ongkir (biaya kirim) ditanggung sama pembeli, tetapi pasti ada juga pembeli yang akan mikir lagi kalau harga produk kita malah lebih murah daripada biaya kirimnya

Oke, sampai di jawaban dari pertanyaan: jualan di Etsy, worth it nggak sih? Kalau aku pribadi sih tergantung dari kita sendiri, tujuan atau visi dan misi bisnis kita apa. Apakah kita mau mencoba berjualan untuk pasar luar? atau sudah senang jualan di Indonesia saja? Siap nggak kalau kita coba Etsy? dll.

Perlu diketahui juga kalau:
- Traffic Etsy itu kencang di pencarian Google, dan kita bisa menggunakan keuntungan itu untuk menjaring pasar (kalau memang selanjutnya kita akan menyasar pasar Internasional), kalau sudah punya/dapat pasarnya, kita bisa pelan-pelan bikin website sendiri dan mengarahkan konsumen loyal kita untuk membeli produk lewat website kita sendiri. Ini strategi yang aku juga lihat di beberapa Etsy seller.

- Jualan di Etsy itu jangan dijadikan pendapatan utama untuk sementara kalau dirasa Etsy kita belum terlalu rame/menguntungkan. Buatku walaupun terjual 2-3 produk lumayanlah dapat receh-receh buat nambahin uang jajan, sambil menyiapkan strategi bikin website sendiri. 

Kalau mau diseriusin gimana? Bisa! kan banyak juga seller yang sukses jualan di Etsy. Kalau begitu, kita harus mau bekerja keras, nggak putus asa, dan banyak belajar dari seller senior yang sudah lebih berpengalaman. 

Mau mulai mencoba buka toko di Etsy? Harus dong biar nambah pengalaman. Selamat mencoba ya, kalau ada yang mau ditanyakan bisa langsung komen di artikel ini :) 

NOTE: Kalau kalian mau coba buka toko di Etsy, aku punya tawaran menarik nih, aku bagi-bagi 40 listings GRATIS buat kalian. Lumayan kan jadi nggak harus bayar listing sebesar $0.2 x 40 listings. Caranya gampang saja, klik link DISINI ya untuk membuka toko pertama kalian :) Dan harap diingat kalau kalian sudah harus siap untuk membuat toko ya, kalau hanya sampai di step mendaftar membuat akun, listing tersebut tidak bisa dipakai.

Cheers,
Lucia Berta



9:37 PM 22 comments
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose