• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun

Beberapa bulan belakangan aku lagi sering bereksperimen dengan membuat natural dye. Kalau kalian belum ngerti apa itu natural dye, aku jelasin sesingkat-singkatnya. Natural dye atau pewarna alami adalah pewarna pada kain yang dibuat dari bahan alami, contoh buah, kulit buah, batang, daun, akar, bunga, alga, jamur, lumut, hingga bebatuan. Semua tanaman bisa dijadikan sumber pewarna alami, aku ulang lagi ya, SEMUA TANAMAN. Namun yang membedakan apakah tanaman itu worth untuk dijadikan pewarna alami adalah dari kestabilan warnanya. Jadi benar semua tanaman bisa digunakan tapi apakah warna yang dihasilkan itu stabil atau tidak, masih perlu kita observasi dan teliti. Warna yang stabil adalah warna yang awet lebih dari 2 tahun, sedangkan yang tidak stabil adalah warna yang perlahan akan memudar kurang dari 2 tahun. Nah, dari dasar tersebut kita jadi bisa memilah dan memilih tanaman apa yang cocok untuk digunakan untuk proyek jangka panjang atau jangka pendek. Misalnya nih kalau cuma mau hepi-hepi pakai pewarna alam buat bikin prakarya, bisa pakai tanaman yang tidak stabil warnanya, yaitu kol ungu, kunyit, bunga-bungaan. Kalau berencana untuk membuat proyek yang jangka panjang, misalnya membuat clothing line natural dye, kita harus memilih menggunakan tanaman yang pewarnanya stabil, misalnya mangrove (bakau), daun jati, mahoni, manggis, Indigofera, dan banyak lagi.

Kebunku tak hanya menanam tanaman pangan, tapi juga tanaman yang khusus dikenal sebagai tanaman sumber pewarna alam, yaitu magenta plant (truja), Indigofera tinctoria, dan Strobilanthes cusia. Sebenarnya masih ingin menambah kesumba, tanaman yang dikenal sebagai sumber pewarna merah, tapi apa daya lahanku terbatas. Aku sengaja menanamnya karena ingin memperkenalkan ke semua orang, kasih informasi biar tanaman-tanaman itu nggak dilupain, dan biar ditanam massal juga seperti halnya menanam cabe atau tomat.

Oke, cukup ya perkenalannya dengan natural dye. Kali ini aku mau berbagi tutorial seru-seruan membuat natural dye dari daun magenta plant (truja). Kenalan dulu sama ini tanaman ya. Kalau kalian hobi membuat ecoprint, sudah pasti sangat mengenal tanaman ini karena keunikannya, yaitu bisa menghasilkan warna merah kecoklatan ketika di-pounding (dipukul) untuk di cetak di kain. Aku nggak begitu suka membuat ecoprint jadi aku lebih memilih menggunakan daun magenta plant untuk dijadikan pewarna kain.


daun-truja


Magenta plant, dikenal dengan sebutan truja. Memiliki nama botani Dicliptera tinctoria (atau bisa juga Peristrophe bivalvis). Tanaman ini lebih dikenal di Vietnam, dan digunakan sebagai pewarna kain dan makanan. Hasil warnanya ungu magenta. Hampir sama dengan bunga telang ya, sama-sama edible, bedanya kalau bunga telang menggunakan bunganya sebagai pewarna makanan dan minuman, sedang magenta plant yang dipakai daunnya. 

Tanaman ini bandel banget, nggak ribet perawatannya, bisa ditanam di dataran tinggi maupun rendah, dan memperbanyaknya juga gampang banget. Tinggal kalian tancepin aja batang tuanya ke tanah, nanti akan mengeluarkan akar dan tumbuh.

natural-dye-magenta-plant



Let's go bikin natural dye!

- Petik daun magenta (secukupnya), kalau mau buat di kain yang panjang atau banyak bisa pakai daunnya lebih banyak. Berhubung aku cuma mau bikin untuk tutorial, aku cuma petik beberapa lembar saja (kurleb 15-20 daun)
- Cuci bersih lalu masukkan dalam air dan rebus hingga air sedikit menyusut
- Dalam keadaan panas atau hangat langsung masukkan kain yang sudah di-scouring dan di-mordan hingga kain berubah warna. Lama durasi kain dimasukkan ke larutan pewarna tergantung dari kalian ya. Kalau ingin warna lebih bold bisa agak lama dan diulang beberapa kali. 
- Angkat kain dan jemur

pewarna-alam-daun-truja

dyeing-daun-truja

Hasilnya!
Seperti yang sudah kuduga, hasil warna kain: ungu magenta. Waktu proses perebusan daun magenta plant, aku agak ragu karena air larutannya berwarna cokelat (sempat berpikir akan gagal). Padahal kalau lihat di Youtube, orang-orang bisa menghasilkan larutan warna ungu. Meski demikian ternyata ujung-ujungnya sama, tetap menghasilkan warna ungu di kain. 

Proses dyeing ini menyenangkan, walau menghabiskan waktu setengah harian. Ya namanya juga slow color ya, kegiatan slowing down yang kreatif. Wajib dicoba nih kalau kamu punya daun truja, jangan dibikin ecoprint terus. Atau mau pakai tanaman lain yang ada di sekitar rumah kalian? Bisa juga lho!

Kalau kamu tertarik membuat natural dye dan penasaran pengen belajar lebih lanjut tentang teknik dasarnya (seperti: apaan tuh di-scouring? apa tuh di-mordan? habis itu diapain?) aku bikin e-booknya nih. Cuss klik gambar dibawah ini ya!



Selamat mencoba dan bereksperimen!
6:21 PM No comments
Apa yang kamu lakukan ketika lagi mengalami kecemasan, penat, stres, atau burnout karena pekerjaan? Kalau aku pastinya pergi ke kebun mini belakang rumah dan berkegiatan disitu. Entah jalan-jalan berkeliling melihat beberapa tanaman, menyiram tanaman, atau sekedar melamun. Untungnya ada berbagai macam jenis tanaman yang kutumbuhkan. Mulai dari sayuran hijau, pohon buah dalam pot, bunga-bungaan, rimpang, dan yang tak kalah penting, tanaman aromatik. Berkebun dipercaya bisa membantu mengendurkan ketegangan sehingga badan menjadi lebih segar dan santai. Hal ini disebabkan karena munculnya efek relaksasi alami yang kuat saat kita berada di kebun ataupun taman, seperti aroma tanah yang segar setelah hujan atau tersiram air, sentuhan lembut pada bunga, warna hijau yang menyegarkan mata, dan aroma daun-daun aromatik yang menenangkan pikiran.

Aku punya 5 tanaman aromatik yang biasanya berhasil bikin mood-ku kembali oke sekaligus membantu meringankan kecemasan yang kualami beberapa waktu belakangan ini.


Jeruk purut
Ketika berada di kebun aku suka iseng memetik daun jeruk purut, meremasnya, kemudian mencium harumnya. Baunya sangat khas dan menyegarkan. Aku menanam jeruk purut di pot sedang, sengaja kubikin tabulampot. Daun jeruk purut juga sangat berguna buatku yang suka memasak tom yam.



Kayu putih
Iya ini daunnya berbau minyak kayu putih, mirip yang sering kita beli di apotik. Sebenarnya tanaman ini termasuk pohon besar berkayu tapi karena masih kecil jadi cuma kutanam di polybag saja untuk sementara. Kayu putih banyak jenisnya, untuk yang satu ini aku kurang tahu nama botaninya. Aku mendapatkannya dari seorang teman. Bibitnya kucabut dan kubawa sampai rumah. Tak disangka tetap bisa hidup dan cepat tumbuhnya. Beberapa kali aku menggunakan daun kayu putih ini untuk mandi dengan meremas beberapa helai daunnya dan dicampurkan ke air panas/hangat. Badan jadi enak banget, apalagi wanginya duh bikin candu. Bisa dibilang mandi dengan air hangat + daun kayu putih adalah perpaduan paling nikmat untuk aktivitas relaksasi setelah capek kerja. Oya kalau ada yang punya tanaman kayu putih ini dan tahu nama botaninya bisa kasi tahu aku ya di komen :)


Kemangi
Siapa sih yang nggak tahu kemangi? Biasanya ada di makanan sebagai lalapan, dicampur sambal, atau menjadi tambahan herb dalam masakan tertentu. Kalau di kebun orang luar/bule ada basil, kita punya kemangi buat aromaterapi. Baunya yang khas dan bikin kangen, atau malah bikin tiba-tiba laper :) Aku mendapatkan kemangi ini waktu jajan es buah di pinggir jalan. Tak sengaja tempatku menunggu pesanan es buah dibikin, ada beberapa rumput liar. Dan dengan rasa penasaran, mataku tertuju pada satu tanaman yang familiar yang tumbuh diantara rumput liar itu. Begitu keraguanku terjawab dengan mencium daunnya yang kupetik, langsung saja kucabut sampai akar dan membawanya pulang. Kemangi termasuk tanaman yang gampang banget tumbuh. Sangat cocok untuk pekebun pemula. Tanaman ini suka banget kalau daunnya sering dipetik, karena malah akan tambah rimbun.


Sereh
My all time favorite dan harus ada di kebun karena aku suka banget sama wanginya, dan selalu pakai ini untuk dibikin jamu atau teh. Sereh ini perawatannya sangat gampang, bisa ditanam di kondisi apapun meski lebih suka tempat yang sangat panas, dan manfaatnya banyak banget. Namun kalau pas lagi panen atau berada dekat tanaman sereh yang rimbun kamu harus hati-hati ya. Tanpa disadari ternyata daunnya lumayan tajam. Beberapa kali tanganku tak sengaja tersayat saat panen.


Rosemary
Tahun 2017 aku pernah menanam rosemary dan tumbuh sangat subur waktu itu (meskipun rosemary ini lebih suka daerah dingin sedang tempatku tinggal di dataran rendah). Kepercayaan diri yang tiada batas :D bikin aku menanamnya lagi tahun ini. Aku beli bibitnya secara online. Dari 5 bibit, sisa 2 saja. Lainnya mati :) Rosemary ini memang agak tricky untuk ditumbuhkan di dataran rendah tapi nggak ada salahnya kalau mau mencobanya. Aku seneng banget menyentuh daunnya, karena baunya akan menempel di tangan. Nggak perlu petik daun, tinggal pegang-pegang aja (ehhh..) trus tangannya sudah awet berbau harum khas rosemary seharian.

Pekebun pemula kadang lupa kalau tak hanya cabe, terong, bayam, sawi-sawian yang cocok dijadikan pilihan memulai berkebun, tanaman aromatik seperti yang kusebutkan di atas pun sangat mudah ditanam dan sangat cocok. Manfaatnya banyak, tak cuma bisa dikonsumsi sebagai minuman atau makanan, tapi juga aromaterapi atau untuk relaksasi. 

Next, mau coba tanam apa ya? Kamu punya ide?

3:56 PM No comments
Apakah kamu tau shibori? Teknik pewarnaan kain khas Jepang yang menghasilkan motif-motif unik melalui proses pengikatan dan pencelupan. Kebanyakan kain shibori menggunakan pewarna alami biru indigo. Warna itu dihasilkan dari daun tanaman indigo yang diproses melalui fermentasi menjadi pasta atau serbuk. 

kain-shibori

Berkecimpung di dunia handmade dan seni wastra membuatku belajar tentang asal bahan pembuatan barang, termasuk tentang pasta indigo. Aku baru tahu bahwa ada banyak jenis tanaman indigo. Jepang menggunakan tanaman indigo jenis Persicaria tinctoria untuk membuat pewarna alami biru mereka. Indigo jenis ini cenderung mudah dibudidayakan di daerah yang sejuk dan dingin. 

Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia yang terkenal dengan iklim tropisnya? Apakah juga menggunakan indigo yang sama dengan Jepang? Kalau pastanya dibeli langsung dari Jepang ya bisa jadi, tapi kalau mau pakai tanaman indigo kita sendiri juga ada kok! Yups, tanaman indigo penghasil warna biru yang bisa hidup di tempat kita adalah Indigofera tinctoria. Berbeda dengan Persicaria tinctoria, tanaman indigo kita malah suka banget kalau kena panas. Sejarah keberadaan Indigofera tinctoria di Indonesia pun lumayan menarik, kamu bisa browsing sendiri ya, nggak aku ceritain karena aku mau share topik lain.

Isu yang mau kubahas adalah kerancuan informasi tentang Indigofera tinctoria. Selama ini Indigofera tinctoria sering disebut tanaman untuk pakan ternak padahal tanaman yang dimaksud salah. Kita menggunakan Indigofera tinctoria untuk membuat pewarna alami kain penghasil warna biru, sedangkan tanaman indigo yang sering digunakan untuk pakan ternak karena disebut-sebut memiliki kandungan protein tinggi adalah Indigofera zollingeriana. Tapi aku jadi pengen iseng kepikiran nyobain daun Indigofera zollingeriana untuk dijadikan pewarna, apa bisa muncul warna biru atau nggak (next yaaa).

Nah untungnya aku sudah pernah lihat dua tanaman itu di kebun indigo dan punya benih/bijinya. Aku jadi bisa kasih beberapa perbedaan mencolok biar kalian nggak tertipu, soalnya aku lihat di toko oren banyak yang pajang foto Indigofera tinctoria tapi benih yang dijual beda. Hal ini tentu merugikan teman-teman yang pengen beli indigo untuk pewarna kain ya nggak? Berikut perbedaan yang bisa kalian jadikan panduan:

Nama botaninya
Meskipun sama-sama termasuk suku polong-polongan (Fabaceae atau Leguminosae), sudah jelas nama botaninya berbeda. Indigo penghasil warna biru adalah Indigofera tinctoria, sedang tanaman yang digunakan untuk pakan ternak adalah Indigofera zollingeriana. Orang-orang juga sering menyebut Indigofera tinctoria sebagai tarum, nila.

Bentuk daun
Bentuk daun kedua tanaman itu beda. Kalau tinctoria bentuknya cenderung bulat-bulat atau oval, sedang zollingeria agak besar dan melancip di ujung. Kamu bisa lihat di 2 foto ini:

daun-indigofera-tinctoria
daun Indigofera tinctoria

daun-indigofera-zollingeriana
daun Indigofera zollingeriana

Bentuk dan warna bunganya
Bentuk bunga sebenarnya hampir mirip ya, tapi warnanya berbeda. Bunga tarum berwarna ungu, sedang zollingeriana orange (agak merah?)

bunga Indigofera tinctoria


bunga Indigofera zollingeriana

Bentuk dan ukuran bijinya
Masuk dalam golongan polong-polongan tentu buahnya yang menghasilkan biji berbentuk seperti kacang polong versi kecil. Aku punya biji kedua tanaman tersebut dan terlihat untuk tinctoria kulit bijinya lebih kecil dari zollingeriana. 

biji-indigo
biji kecil: tinctoria, biji besar: zollingeriana

Bentuk tanamannya
Sebenarnya aku masih ragu dan butuh informasi tambahan yang lebih detail tentang ini. Namun waktu aku melihat mereka di kebun indigo, tanaman tarum (Indigofera tinctoria) adalah berupa semak atau perdu, sedangkan zollingeriana sudah berupa pohon kayu besar tinggi. Sayangnya aku nggak fotoin pohonnya, hanya sempat foto tarum.



Mudah kan mengenali mereka? Dua tanaman itu sedang kubudidayakan di kebun kecilku, semoga cepat besar dan bisa kasih kalian informasi lebih lengkap lagi tentang mereka. Sekarang jangan salah pilih lagi ya, indigo mana yang mau kamu gunakan. Apakah untuk pakan ternak atau untuk dijadikan pasta biru pewarna kain? Kalau kamu ada pertanyaan seputar tanaman indigo atau tanaman pewarna alami lainnya, bisa tulis di komentar :)






4:22 PM No comments
Tepatnya bulan Februari aku mulai berkebun di rumah. Dari yang awalnya kupakai sebagai hobi dan sarana melepas stres, sekarang menjadi kegiatan ambisius yang kujadikan sebagai gaya hidup baruku. Pertama kalinya aku menanam, hal yang kupikirkan saat itu adalah yang penting tanahnya subur, pasti bisa tumbuh sendiri dengan baik. But wait, setelah tanaman mulai tumbuh besar ternyata ada banyak hal yang harus dipikirkan juga, seperti harus memupuk agar tumbuh lebih subur lagi dan berbuah lebat, ketika terserang hama serangga dan siput harus memikirkan cara untuk membasminya secara alami, memahami karakter tanaman yang cocok untuk musim dan cuaca tempat tinggal kita, dan masih banyak lagi. 

urban farming selama pandemi covid

Belajar lewat Youtube, baca artikel tentang menanam, baca buku tentang bercocok tanam, tanya-tanya teman yang juga suka menanam, kepoin pekebun kota (urban farmer) atau komunitas kolektif yang memberikan edukasi menanam setiap harinya, akhirnya itu semua kulakukan demi menjawab semua permasalahan yang muncul. 

Dari semua pengetahuan yang aku pahami dan praktikkan, akhirnya aku bisa merangkum 4 hal penting yang perlu diketahui dalam berkebun (kalaupun sudah terlanjur berkebun tapi melewatkan hal ini pun nggak papa sih karena aku juga telat memahaminya, tapi kita bisa secara perlahan memperbaiki dan menambah kekurangan informasi kita). Penting untuk diingat, mungkin beberapa pekebun yang lebih senior dibanding aku memiliki rangkuman yang berbeda, mungkin mereka punya lebih banyak hal yang harus diperhatikan. Nggak jadi masalah sih, bisa kita tambahkan saja, ya nggak? :)

sawi selada bibit tanaman yang mudah ditanam

Tanam sayuran daun yang mudah dulu untuk pemula (contoh: sawi, kangkung, bayam, dll)
Beberapa orang bilang, tanam cabe dan tomat cocok untuk pemula, tapi buatku dua tanaman itu agak tricky nanti pas tumbuh karena hama kutu putih dan hama yang menyebabkan daun cabe menjadi keriting akan datang dengan cepatnya dan bikin kalian pusing bagaimana cara mengatasi hama tersebut (meskipun nanti di daftar selanjutnya akan terjawab caranya), ujung-ujungnya malah kapok menanam. Tetapi jika kalian berhasil menanam sayuran daun dan bisa panen, kalian akan lebih bersemangat dan percaya diri untuk menanam tanaman jenis lainnya. Bukankah itu bisa menjadi awal yang bagus?

Nah, buatku tanaman sayur daun termasuk mudah untuk ditanam, memang akan masih ada hama menyerang seperti ulat dan siput tetapi aku masih bisa atasi daripada kutu putih yang ada di tanaman tomat, cabe, dan terongku :(

menjadi pekebun di masa pandemi covid 19

Siapkan kompos organik
Kalian ingin menanam secara organik? ya komposnya harus yang organik juga alias tidak berasal dari zat kimia yang berbahaya. Kompos sangat penting dalam bercocok tanam karena memberikan banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Kompos membuat tanah menjadi sehat, dan tanah yang sehat ini menjadi penting apalagi saat tanaman terserang hama. Nutrisi yang ada di dalam tanah akan membantu tanaman mengatasi si hama, sehingga hama pergi dan tanaman menjadi sehat kembali. Sama seperti daya imun tubuh kita bukan? kalau diibaratkan, kompos ini bisa menambah imun tanaman tersebut.

Selain kita bisa membeli kompos di toko-toko bahan pertanian, kita juga bisa membuatnya sendiri lho. Caranya mudah dan murah, kita tinggal mengumpulkan sampah daun kering yang biasa tergeletak manja di halaman rumah kita atau dengan mengumpulkan sampah dapur seperti sisa batang sayur bayam, cangkang telur, kulit bawang merah dan bawang putih, kulit-kulit sayuran dan masih banyak lagi. Sampah dapur dan sampah daun kering itu kita jadikan satu dan simpan, kalau mau dijadikan pupuk organik cair bisa langsung diberi air lalu simpan beberapa minggu/bulan, kalau mau dijadikan kompos bisa diberi tanah, sekam, atau kompos lama lalu disimpan. Kalian bisa cari banyak infomasi membuat kompos ini secara online. Aku juga mulai membuat kompos sendiri, dan keuntungan yang kudapat selain irit, aku menjadi lebih memperhatikan untuk memilih dan memilah sampah. 

Menanam dengan sistem tumpang sari
Awal berkebun aku memutuskan untuk hanya menanam sayur saja, tetapi hal tersebut ternyata salah. Aku ternyata juga butuh tanaman bunga untuk menarik lebah, kupu-kupu sehingga bisa membantu penyerbukan tanaman buah, lalu untuk mengusir hama datang aku juga butuh tanaman rimpang seperti jahe, kunir, kunyit, temulawak untuk melindungi tanaman sayur kita dari hama yang tidak tahan baunya. Nah disini akhirnya aku sadar bahwa kita butuh menanam lebih dari satu jenis tanaman (pertanaman campuran) pada satu area lahan bertanam kita atau dikenal dengan istilah tumpang sari. Tanaman sayur, buah, bunga, apotik hidup semuanya merupakan satu kesatuan yang bisa memberikan manfaat pada satu sama lainnya. Kalaupun belum bisa menanam semua itu karena keterbatasan lahan, nggak jadi masalah kok, mungkin bisa ada 1-2 "perwakilan" dari beberapa jenis tersebut seperti yang aku miliki sekarang juga sudah cukup.

FYI, info tambahan yang menarik untuk aku beritahukan juga, yaitu sepertinya tanaman bunga favorit para pekebun adalah marigold (bunga tahi ayam) karena selain bisa menarik lebah, kupu-kupu, dan serangga lainnya, serta mengusir hama lewat baunya yang tidak disukai, kata salah satu pekebun panutanku, si marigold ini juga bisa mengatasi hama yang ada di akar (dalam tanah) tanaman yang ada disebelahnya. Salah satu bunga yang wajib ditanam bukan? aku akhirnya juga menanam banyak bibit marigold hahaha.

tanaman apotik hidup dan bunga wajib ditanam

Selanjutnya yang paling akhir tapi nggak kalah penting adalah mengerti karakteristik setiap tanaman dan jangan memaksakan.
Ketika kalian membeli benih, usahakan untuk membaca informasi pada bungkus benihnya atau mencari informasi terlebih dahulu tentang tanaman yang akan kalian tanam. Hal ini penting karena setiap tanaman memiliki karateristik dan kebutuhan yang berbeda-beda, misalnya ada yang suka dengan air yang banyak, ada yang senang di cuaca yang dingin, dan masih banyak lagi. Kalau kita tahu karakteristik mereka, itu akan memudahkan kita dalam merawatnya. Jangan sampai juga kita memaksakan tanaman tersebut untuk tumbuh di lingkungan/area yang bukan menjadi habitat tanaman tersebut. Aku ingat ada pekebun senior yang aku suka dan sering kepoin proses berkebunnya, dia mencoba memaksa untuk menanam bunga tulip dari Belanda di Indonesia, ya mungkin bisa sih tumbuh tapi yang dia perlihatkan akhirnya nggak maksimal hasilnya, kulihat juga repot untuk merekayasa perawatannya agar cocok dengan kondisi di Indonesia, seperti perawatan yang juga dilakukan oleh pekebun senior tersebut, yaitu dengan menaruhnya di dalam kulkas, menggunakan media tanam yang khusus, dan masih banyak lagi. Nah, kalau belum mau ribet mending cari tanaman yang lain deh, kan masih banyak juga tanaman cantik yang ada di Indonesia. Akan tetap kalau mau bereksperimen atau mencoba biar nambah ilmu ya silakan saja :)

Bagaimana sudah tertarik untuk berkebun? atau buat yang sudah berkebun, adakah yang kalian lewatkan dari 4 hal tersebut? Selamat berkebun ya!


Cheers,
Lucia Berta
9:13 PM 4 comments
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose