• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun

Beberapa bulan belakangan aku lagi sering bereksperimen dengan membuat natural dye. Kalau kalian belum ngerti apa itu natural dye, aku jelasin sesingkat-singkatnya. Natural dye atau pewarna alami adalah pewarna pada kain yang dibuat dari bahan alami, contoh buah, kulit buah, batang, daun, akar, bunga, alga, jamur, lumut, hingga bebatuan. Semua tanaman bisa dijadikan sumber pewarna alami, aku ulang lagi ya, SEMUA TANAMAN. Namun yang membedakan apakah tanaman itu worth untuk dijadikan pewarna alami adalah dari kestabilan warnanya. Jadi benar semua tanaman bisa digunakan tapi apakah warna yang dihasilkan itu stabil atau tidak, masih perlu kita observasi dan teliti. Warna yang stabil adalah warna yang awet lebih dari 2 tahun, sedangkan yang tidak stabil adalah warna yang perlahan akan memudar kurang dari 2 tahun. Nah, dari dasar tersebut kita jadi bisa memilah dan memilih tanaman apa yang cocok untuk digunakan untuk proyek jangka panjang atau jangka pendek. Misalnya nih kalau cuma mau hepi-hepi pakai pewarna alam buat bikin prakarya, bisa pakai tanaman yang tidak stabil warnanya, yaitu kol ungu, kunyit, bunga-bungaan. Kalau berencana untuk membuat proyek yang jangka panjang, misalnya membuat clothing line natural dye, kita harus memilih menggunakan tanaman yang pewarnanya stabil, misalnya mangrove (bakau), daun jati, mahoni, manggis, Indigofera, dan banyak lagi.

Kebunku tak hanya menanam tanaman pangan, tapi juga tanaman yang khusus dikenal sebagai tanaman sumber pewarna alam, yaitu magenta plant (truja), Indigofera tinctoria, dan Strobilanthes cusia. Sebenarnya masih ingin menambah kesumba, tanaman yang dikenal sebagai sumber pewarna merah, tapi apa daya lahanku terbatas. Aku sengaja menanamnya karena ingin memperkenalkan ke semua orang, kasih informasi biar tanaman-tanaman itu nggak dilupain, dan biar ditanam massal juga seperti halnya menanam cabe atau tomat.

Oke, cukup ya perkenalannya dengan natural dye. Kali ini aku mau berbagi tutorial seru-seruan membuat natural dye dari daun magenta plant (truja). Kenalan dulu sama ini tanaman ya. Kalau kalian hobi membuat ecoprint, sudah pasti sangat mengenal tanaman ini karena keunikannya, yaitu bisa menghasilkan warna merah kecoklatan ketika di-pounding (dipukul) untuk di cetak di kain. Aku nggak begitu suka membuat ecoprint jadi aku lebih memilih menggunakan daun magenta plant untuk dijadikan pewarna kain.


daun-truja


Magenta plant, dikenal dengan sebutan truja. Memiliki nama botani Dicliptera tinctoria (atau bisa juga Peristrophe bivalvis). Tanaman ini lebih dikenal di Vietnam, dan digunakan sebagai pewarna kain dan makanan. Hasil warnanya ungu magenta. Hampir sama dengan bunga telang ya, sama-sama edible, bedanya kalau bunga telang menggunakan bunganya sebagai pewarna makanan dan minuman, sedang magenta plant yang dipakai daunnya. 

Tanaman ini bandel banget, nggak ribet perawatannya, bisa ditanam di dataran tinggi maupun rendah, dan memperbanyaknya juga gampang banget. Tinggal kalian tancepin aja batang tuanya ke tanah, nanti akan mengeluarkan akar dan tumbuh.

natural-dye-magenta-plant



Let's go bikin natural dye!

- Petik daun magenta (secukupnya), kalau mau buat di kain yang panjang atau banyak bisa pakai daunnya lebih banyak. Berhubung aku cuma mau bikin untuk tutorial, aku cuma petik beberapa lembar saja (kurleb 15-20 daun)
- Cuci bersih lalu masukkan dalam air dan rebus hingga air sedikit menyusut
- Dalam keadaan panas atau hangat langsung masukkan kain yang sudah di-scouring dan di-mordan hingga kain berubah warna. Lama durasi kain dimasukkan ke larutan pewarna tergantung dari kalian ya. Kalau ingin warna lebih bold bisa agak lama dan diulang beberapa kali. 
- Angkat kain dan jemur

pewarna-alam-daun-truja

dyeing-daun-truja

Hasilnya!
Seperti yang sudah kuduga, hasil warna kain: ungu magenta. Waktu proses perebusan daun magenta plant, aku agak ragu karena air larutannya berwarna cokelat (sempat berpikir akan gagal). Padahal kalau lihat di Youtube, orang-orang bisa menghasilkan larutan warna ungu. Meski demikian ternyata ujung-ujungnya sama, tetap menghasilkan warna ungu di kain. 

Proses dyeing ini menyenangkan, walau menghabiskan waktu setengah harian. Ya namanya juga slow color ya, kegiatan slowing down yang kreatif. Wajib dicoba nih kalau kamu punya daun truja, jangan dibikin ecoprint terus. Atau mau pakai tanaman lain yang ada di sekitar rumah kalian? Bisa juga lho!

Kalau kamu tertarik membuat natural dye dan penasaran pengen belajar lebih lanjut tentang teknik dasarnya (seperti: apaan tuh di-scouring? apa tuh di-mordan? habis itu diapain?) aku bikin e-booknya nih. Cuss klik gambar dibawah ini ya!



Selamat mencoba dan bereksperimen!
6:21 PM No comments
Apakah kamu tau shibori? Teknik pewarnaan kain khas Jepang yang menghasilkan motif-motif unik melalui proses pengikatan dan pencelupan. Kebanyakan kain shibori menggunakan pewarna alami biru indigo. Warna itu dihasilkan dari daun tanaman indigo yang diproses melalui fermentasi menjadi pasta atau serbuk. 

kain-shibori

Berkecimpung di dunia handmade dan seni wastra membuatku belajar tentang asal bahan pembuatan barang, termasuk tentang pasta indigo. Aku baru tahu bahwa ada banyak jenis tanaman indigo. Jepang menggunakan tanaman indigo jenis Persicaria tinctoria untuk membuat pewarna alami biru mereka. Indigo jenis ini cenderung mudah dibudidayakan di daerah yang sejuk dan dingin. 

Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia yang terkenal dengan iklim tropisnya? Apakah juga menggunakan indigo yang sama dengan Jepang? Kalau pastanya dibeli langsung dari Jepang ya bisa jadi, tapi kalau mau pakai tanaman indigo kita sendiri juga ada kok! Yups, tanaman indigo penghasil warna biru yang bisa hidup di tempat kita adalah Indigofera tinctoria. Berbeda dengan Persicaria tinctoria, tanaman indigo kita malah suka banget kalau kena panas. Sejarah keberadaan Indigofera tinctoria di Indonesia pun lumayan menarik, kamu bisa browsing sendiri ya, nggak aku ceritain karena aku mau share topik lain.

Isu yang mau kubahas adalah kerancuan informasi tentang Indigofera tinctoria. Selama ini Indigofera tinctoria sering disebut tanaman untuk pakan ternak padahal tanaman yang dimaksud salah. Kita menggunakan Indigofera tinctoria untuk membuat pewarna alami kain penghasil warna biru, sedangkan tanaman indigo yang sering digunakan untuk pakan ternak karena disebut-sebut memiliki kandungan protein tinggi adalah Indigofera zollingeriana. Tapi aku jadi pengen iseng kepikiran nyobain daun Indigofera zollingeriana untuk dijadikan pewarna, apa bisa muncul warna biru atau nggak (next yaaa).

Nah untungnya aku sudah pernah lihat dua tanaman itu di kebun indigo dan punya benih/bijinya. Aku jadi bisa kasih beberapa perbedaan mencolok biar kalian nggak tertipu, soalnya aku lihat di toko oren banyak yang pajang foto Indigofera tinctoria tapi benih yang dijual beda. Hal ini tentu merugikan teman-teman yang pengen beli indigo untuk pewarna kain ya nggak? Berikut perbedaan yang bisa kalian jadikan panduan:

Nama botaninya
Meskipun sama-sama termasuk suku polong-polongan (Fabaceae atau Leguminosae), sudah jelas nama botaninya berbeda. Indigo penghasil warna biru adalah Indigofera tinctoria, sedang tanaman yang digunakan untuk pakan ternak adalah Indigofera zollingeriana. Orang-orang juga sering menyebut Indigofera tinctoria sebagai tarum, nila.

Bentuk daun
Bentuk daun kedua tanaman itu beda. Kalau tinctoria bentuknya cenderung bulat-bulat atau oval, sedang zollingeria agak besar dan melancip di ujung. Kamu bisa lihat di 2 foto ini:

daun-indigofera-tinctoria
daun Indigofera tinctoria

daun-indigofera-zollingeriana
daun Indigofera zollingeriana

Bentuk dan warna bunganya
Bentuk bunga sebenarnya hampir mirip ya, tapi warnanya berbeda. Bunga tarum berwarna ungu, sedang zollingeriana orange (agak merah?)

bunga Indigofera tinctoria


bunga Indigofera zollingeriana

Bentuk dan ukuran bijinya
Masuk dalam golongan polong-polongan tentu buahnya yang menghasilkan biji berbentuk seperti kacang polong versi kecil. Aku punya biji kedua tanaman tersebut dan terlihat untuk tinctoria kulit bijinya lebih kecil dari zollingeriana. 

biji-indigo
biji kecil: tinctoria, biji besar: zollingeriana

Bentuk tanamannya
Sebenarnya aku masih ragu dan butuh informasi tambahan yang lebih detail tentang ini. Namun waktu aku melihat mereka di kebun indigo, tanaman tarum (Indigofera tinctoria) adalah berupa semak atau perdu, sedangkan zollingeriana sudah berupa pohon kayu besar tinggi. Sayangnya aku nggak fotoin pohonnya, hanya sempat foto tarum.



Mudah kan mengenali mereka? Dua tanaman itu sedang kubudidayakan di kebun kecilku, semoga cepat besar dan bisa kasih kalian informasi lebih lengkap lagi tentang mereka. Sekarang jangan salah pilih lagi ya, indigo mana yang mau kamu gunakan. Apakah untuk pakan ternak atau untuk dijadikan pasta biru pewarna kain? Kalau kamu ada pertanyaan seputar tanaman indigo atau tanaman pewarna alami lainnya, bisa tulis di komentar :)






4:22 PM No comments
DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint. Apakah itu ecoprint? Kata eco berasal dari kata ekosistem (alam), sedangkan print adalah pengertian dari mencetak, jadi ecoprint bisa diartikan sebagai teknik memberi pola atau mencetak pada bahan atau kain menggunakan bahan alami (daun, bunga, batang, kulit, dll). Teknik ecoprint sendiri yang aku tahu ada 3 cara yaitu dengan cara dikukus (steam), dipukul (pounding), dan fermentasi. Kali ini aku memilih untuk membuat tutorial bikin ecoprint dengan teknik pounding karena aku baru saja dapat palu khusus ecoprint yang nyaman dipakai dan ringan. Biasanya orang-orang menggunakan palu yang kepalanya dari besi yang berat. Kalau berat tentu kita akan lebih cepat capek ketika memukul. 

tutorial-ecoprint-pounding-steam


Ecoprint adalah hal yang masih baru bagiku jadi aku juga masih bereksperimen dengan penggunaan alat dan bahannya. Kadang aku berhasil membuatnya dan kadang gagal. Kebetulan dalam video yang aku bikin, hasil akhirnya agak gagal karena tidak sesuai dengan yang aku inginkan, tetapi nggak papa video tetap berjalan alias the show must go on. Toh aku jadi ngerti apa saja yang bisa diperbaiki nanti waktu bikin lagi. Kalian penasaran dengan tutorialnya? Yuk kita tonton video berikut!



Alat dan bahan yang dibutuhkan:
- palu khusus ecoprint (kalian bisa beli online di instagram @sanggarwanimigunani untuk palu yang seperti punyaku)
- kain blacu yang sudah dimordan
- plastik bungkus yang lumayan tebal
- bunga dan daun, aku pakai bunga yang ada di kebunku saja, yaitu marigold dan bunga kenikir
- air tawas (ini tidak ada di video karena aku nggak pakai, tawas yang dicairkan dengan air untuk fiksasi/mengunci hasil pounding agar awet)

Aku juga sempat mencoba ecoprint di kertas. Kok bisa di kertas juga? Bisa dong! Kita bisa membuatnya di kain, kertas, dan kulit. Khusus untuk kertas, bahan kertas yang mudah menyerap lebih bagus. Aku menggunakan daun dan bunga dari bunga telang yang ada di kebunku juga. 

tutorial-ecoprint-pounding

Cantik ya hasilnya? Secara personal aku lebih suka dan memilih ecoprint di kertas. Aku menggunakan kertas khusus watercolor (untuk bunga telangnya) dan kertas hvs (untuk daun bunga telang) di foto di atas. Bisa dilihat kan perbedaan hasilnya. Lalu bagaimana dengan ecoprint di kulit hewan? Aku pernah bikin juga bersama teman-teman di Sanggar Wani Migunani dengan menggunakan teknik steam (kukus). Berikut foto bikin ecoprint di kulit domba yang pernah aku ikuti.

tutorial-ecoprint-pounding-steam

tutorial-ecoprint-pounding-steam

tutorial-ecoprint-pounding-steam



Kamu tertarik mau coba? 



Cheers,
Lucia Berta

12:46 PM No comments
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose