• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun

Beberapa bulan belakangan aku lagi sering bereksperimen dengan membuat natural dye. Kalau kalian belum ngerti apa itu natural dye, aku jelasin sesingkat-singkatnya. Natural dye atau pewarna alami adalah pewarna pada kain yang dibuat dari bahan alami, contoh buah, kulit buah, batang, daun, akar, bunga, alga, jamur, lumut, hingga bebatuan. Semua tanaman bisa dijadikan sumber pewarna alami, aku ulang lagi ya, SEMUA TANAMAN. Namun yang membedakan apakah tanaman itu worth untuk dijadikan pewarna alami adalah dari kestabilan warnanya. Jadi benar semua tanaman bisa digunakan tapi apakah warna yang dihasilkan itu stabil atau tidak, masih perlu kita observasi dan teliti. Warna yang stabil adalah warna yang awet lebih dari 2 tahun, sedangkan yang tidak stabil adalah warna yang perlahan akan memudar kurang dari 2 tahun. Nah, dari dasar tersebut kita jadi bisa memilah dan memilih tanaman apa yang cocok untuk digunakan untuk proyek jangka panjang atau jangka pendek. Misalnya nih kalau cuma mau hepi-hepi pakai pewarna alam buat bikin prakarya, bisa pakai tanaman yang tidak stabil warnanya, yaitu kol ungu, kunyit, bunga-bungaan. Kalau berencana untuk membuat proyek yang jangka panjang, misalnya membuat clothing line natural dye, kita harus memilih menggunakan tanaman yang pewarnanya stabil, misalnya mangrove (bakau), daun jati, mahoni, manggis, Indigofera, dan banyak lagi.

Kebunku tak hanya menanam tanaman pangan, tapi juga tanaman yang khusus dikenal sebagai tanaman sumber pewarna alam, yaitu magenta plant (truja), Indigofera tinctoria, dan Strobilanthes cusia. Sebenarnya masih ingin menambah kesumba, tanaman yang dikenal sebagai sumber pewarna merah, tapi apa daya lahanku terbatas. Aku sengaja menanamnya karena ingin memperkenalkan ke semua orang, kasih informasi biar tanaman-tanaman itu nggak dilupain, dan biar ditanam massal juga seperti halnya menanam cabe atau tomat.

Oke, cukup ya perkenalannya dengan natural dye. Kali ini aku mau berbagi tutorial seru-seruan membuat natural dye dari daun magenta plant (truja). Kenalan dulu sama ini tanaman ya. Kalau kalian hobi membuat ecoprint, sudah pasti sangat mengenal tanaman ini karena keunikannya, yaitu bisa menghasilkan warna merah kecoklatan ketika di-pounding (dipukul) untuk di cetak di kain. Aku nggak begitu suka membuat ecoprint jadi aku lebih memilih menggunakan daun magenta plant untuk dijadikan pewarna kain.


daun-truja


Magenta plant, dikenal dengan sebutan truja. Memiliki nama botani Dicliptera tinctoria (atau bisa juga Peristrophe bivalvis). Tanaman ini lebih dikenal di Vietnam, dan digunakan sebagai pewarna kain dan makanan. Hasil warnanya ungu magenta. Hampir sama dengan bunga telang ya, sama-sama edible, bedanya kalau bunga telang menggunakan bunganya sebagai pewarna makanan dan minuman, sedang magenta plant yang dipakai daunnya. 

Tanaman ini bandel banget, nggak ribet perawatannya, bisa ditanam di dataran tinggi maupun rendah, dan memperbanyaknya juga gampang banget. Tinggal kalian tancepin aja batang tuanya ke tanah, nanti akan mengeluarkan akar dan tumbuh.

natural-dye-magenta-plant



Let's go bikin natural dye!

- Petik daun magenta (secukupnya), kalau mau buat di kain yang panjang atau banyak bisa pakai daunnya lebih banyak. Berhubung aku cuma mau bikin untuk tutorial, aku cuma petik beberapa lembar saja (kurleb 15-20 daun)
- Cuci bersih lalu masukkan dalam air dan rebus hingga air sedikit menyusut
- Dalam keadaan panas atau hangat langsung masukkan kain yang sudah di-scouring dan di-mordan hingga kain berubah warna. Lama durasi kain dimasukkan ke larutan pewarna tergantung dari kalian ya. Kalau ingin warna lebih bold bisa agak lama dan diulang beberapa kali. 
- Angkat kain dan jemur

pewarna-alam-daun-truja

dyeing-daun-truja

Hasilnya!
Seperti yang sudah kuduga, hasil warna kain: ungu magenta. Waktu proses perebusan daun magenta plant, aku agak ragu karena air larutannya berwarna cokelat (sempat berpikir akan gagal). Padahal kalau lihat di Youtube, orang-orang bisa menghasilkan larutan warna ungu. Meski demikian ternyata ujung-ujungnya sama, tetap menghasilkan warna ungu di kain. 

Proses dyeing ini menyenangkan, walau menghabiskan waktu setengah harian. Ya namanya juga slow color ya, kegiatan slowing down yang kreatif. Wajib dicoba nih kalau kamu punya daun truja, jangan dibikin ecoprint terus. Atau mau pakai tanaman lain yang ada di sekitar rumah kalian? Bisa juga lho!

Kalau kamu tertarik membuat natural dye dan penasaran pengen belajar lebih lanjut tentang teknik dasarnya (seperti: apaan tuh di-scouring? apa tuh di-mordan? habis itu diapain?) aku bikin e-booknya nih. Cuss klik gambar dibawah ini ya!



Selamat mencoba dan bereksperimen!
6:21 PM No comments
Apa yang kamu lakukan ketika lagi mengalami kecemasan, penat, stres, atau burnout karena pekerjaan? Kalau aku pastinya pergi ke kebun mini belakang rumah dan berkegiatan disitu. Entah jalan-jalan berkeliling melihat beberapa tanaman, menyiram tanaman, atau sekedar melamun. Untungnya ada berbagai macam jenis tanaman yang kutumbuhkan. Mulai dari sayuran hijau, pohon buah dalam pot, bunga-bungaan, rimpang, dan yang tak kalah penting, tanaman aromatik. Berkebun dipercaya bisa membantu mengendurkan ketegangan sehingga badan menjadi lebih segar dan santai. Hal ini disebabkan karena munculnya efek relaksasi alami yang kuat saat kita berada di kebun ataupun taman, seperti aroma tanah yang segar setelah hujan atau tersiram air, sentuhan lembut pada bunga, warna hijau yang menyegarkan mata, dan aroma daun-daun aromatik yang menenangkan pikiran.

Aku punya 5 tanaman aromatik yang biasanya berhasil bikin mood-ku kembali oke sekaligus membantu meringankan kecemasan yang kualami beberapa waktu belakangan ini.


Jeruk purut
Ketika berada di kebun aku suka iseng memetik daun jeruk purut, meremasnya, kemudian mencium harumnya. Baunya sangat khas dan menyegarkan. Aku menanam jeruk purut di pot sedang, sengaja kubikin tabulampot. Daun jeruk purut juga sangat berguna buatku yang suka memasak tom yam.



Kayu putih
Iya ini daunnya berbau minyak kayu putih, mirip yang sering kita beli di apotik. Sebenarnya tanaman ini termasuk pohon besar berkayu tapi karena masih kecil jadi cuma kutanam di polybag saja untuk sementara. Kayu putih banyak jenisnya, untuk yang satu ini aku kurang tahu nama botaninya. Aku mendapatkannya dari seorang teman. Bibitnya kucabut dan kubawa sampai rumah. Tak disangka tetap bisa hidup dan cepat tumbuhnya. Beberapa kali aku menggunakan daun kayu putih ini untuk mandi dengan meremas beberapa helai daunnya dan dicampurkan ke air panas/hangat. Badan jadi enak banget, apalagi wanginya duh bikin candu. Bisa dibilang mandi dengan air hangat + daun kayu putih adalah perpaduan paling nikmat untuk aktivitas relaksasi setelah capek kerja. Oya kalau ada yang punya tanaman kayu putih ini dan tahu nama botaninya bisa kasi tahu aku ya di komen :)


Kemangi
Siapa sih yang nggak tahu kemangi? Biasanya ada di makanan sebagai lalapan, dicampur sambal, atau menjadi tambahan herb dalam masakan tertentu. Kalau di kebun orang luar/bule ada basil, kita punya kemangi buat aromaterapi. Baunya yang khas dan bikin kangen, atau malah bikin tiba-tiba laper :) Aku mendapatkan kemangi ini waktu jajan es buah di pinggir jalan. Tak sengaja tempatku menunggu pesanan es buah dibikin, ada beberapa rumput liar. Dan dengan rasa penasaran, mataku tertuju pada satu tanaman yang familiar yang tumbuh diantara rumput liar itu. Begitu keraguanku terjawab dengan mencium daunnya yang kupetik, langsung saja kucabut sampai akar dan membawanya pulang. Kemangi termasuk tanaman yang gampang banget tumbuh. Sangat cocok untuk pekebun pemula. Tanaman ini suka banget kalau daunnya sering dipetik, karena malah akan tambah rimbun.


Sereh
My all time favorite dan harus ada di kebun karena aku suka banget sama wanginya, dan selalu pakai ini untuk dibikin jamu atau teh. Sereh ini perawatannya sangat gampang, bisa ditanam di kondisi apapun meski lebih suka tempat yang sangat panas, dan manfaatnya banyak banget. Namun kalau pas lagi panen atau berada dekat tanaman sereh yang rimbun kamu harus hati-hati ya. Tanpa disadari ternyata daunnya lumayan tajam. Beberapa kali tanganku tak sengaja tersayat saat panen.


Rosemary
Tahun 2017 aku pernah menanam rosemary dan tumbuh sangat subur waktu itu (meskipun rosemary ini lebih suka daerah dingin sedang tempatku tinggal di dataran rendah). Kepercayaan diri yang tiada batas :D bikin aku menanamnya lagi tahun ini. Aku beli bibitnya secara online. Dari 5 bibit, sisa 2 saja. Lainnya mati :) Rosemary ini memang agak tricky untuk ditumbuhkan di dataran rendah tapi nggak ada salahnya kalau mau mencobanya. Aku seneng banget menyentuh daunnya, karena baunya akan menempel di tangan. Nggak perlu petik daun, tinggal pegang-pegang aja (ehhh..) trus tangannya sudah awet berbau harum khas rosemary seharian.

Pekebun pemula kadang lupa kalau tak hanya cabe, terong, bayam, sawi-sawian yang cocok dijadikan pilihan memulai berkebun, tanaman aromatik seperti yang kusebutkan di atas pun sangat mudah ditanam dan sangat cocok. Manfaatnya banyak, tak cuma bisa dikonsumsi sebagai minuman atau makanan, tapi juga aromaterapi atau untuk relaksasi. 

Next, mau coba tanam apa ya? Kamu punya ide?

3:56 PM No comments
Tahun ini aku punya hobi/kegiatan baru yaitu membuat natural dye from scratch! Benar-benar dari petikin daunnya trus direbus, dibikin larutan pewarna alam sampai menghasilkan kain dengan warna yang cantik. Banyak orang mempertanyakan kegiatan baruku ini dengan bilang "Kamu kan sudah dari 2011 berkecimpung di dunia craft, natural dye juga bukan barang baru untukmu, kenapa baru sekarang belajar bikinnya?" Aku juga sempat berpikir hal yang sama, kenapa ya nggak dari kemarin-kemarin? Kalau saja sudah dari dulu sekarang pasti sudah bisa bikin banyak hal dari ini. But wait, refleksi balik, "Dulu aku ngapain aja? Aku sibuk ngurusin ini itu yang juga nggak kalah penting," kutemukan jawabannya! Mungkin memang udah waktunya aku belajar tentang natural dye ini. Nggak ada yang terlambat, semua pas pada waktunya. 

Kain yang diwarnai dengan (natural dye) pewarna alam daun jambu biji

Kata 'terlambat belajar' kurang familiar untukku. Aku adalah orang yang senang belajar sesuatu yang baru, penasaran akan banyak hal, dan pekerjaanku dulu menuntutku untuk itu. Mulai dari jurnalistik, foto, video, membuat materi kreatif, belajar menyablon, menyulam, menjahit. Kegiatan itu pernah menjadi hal baru untukku di usia sekitar 23an. Bukan usia remaja. 

Dalam siklus kehidupannya, manusia terus mengalami peristiwa baru untuk yang pertama kalinya. Sejak bayi, kita pertama kali mengucapkan kata, pertama kali berjalan, pertama kali sekolah. Beranjak dewasa, kita pertama kali jatuh cinta, pertama kali merasakan bekerja, pertama kali memiliki anak, dan seterusnya. Anehnya ketika sudah berusia 30an keatas kita semakin enggan melakukan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya lagi. Mungkin ada ketakutan akan resiko yang bisa terjadi. Takut diejek, takut dengan masalah finansial, takut akan perubahan karena sudah nyaman, atau bisa juga takut merasa seperti buang-buang waktu kalau melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan dan keluarga.

Padahal melihat kenyataan yang ada di sekitar kita saat ini, hidup tak berhenti pada waktu sudah menikah. Tak berhenti pada waktu sudah punya anak. Tak berhenti pada waktu sudah punya pekerjaan tetap. Tak berhenti pada waktu sudah bercerai. Tak berhenti pada waktu tak lagi punya siapapun. Aku melihat keluarga dan teman sekelilingku yang memulai hidupnya dari nol lagi di usia yang juga tak lagi muda. Dan jangan salah, alam yang kita tinggali ini pun demikian, selalu memperbaharui diri. Usia bumi yang sudah ada ribuan tahun lebih pun ikut meremajakan diri lagi. Menggagalkan istilah 'terlalu tua untuk memulai kembali.' 

"When you stop growing, you start dying" quote inspiratif yang dipopulerkan oleh William S. Burroughs sangat mewakili kondisi ini dan mengubah cara pikirku. Melakukan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya itu ibarat bertumbuh. Setiap kamu belajar hal baru, setiap detik itu juga dirimu bertumbuh. Jika berhenti dan tak mau bertumbuh maka perlahan-lahan kita akan "mati". Kita jadi nggak punya apa-apa lagi untuk mengisi kebutuhan untuk bertumbuh. Melakukan hal baru dalam hidup memang selalu ada resiko yang akan didapatkan, namun bagiku resiko itu sepadan dengan perubahan yang kurasakan. Perlahan rasa percaya diri yang kembali muncul, penghargaan pada diri bahwa aku masih mampu, cara pandang yang tak melulu hanya disitu-situ saja, rasa bangga bisa mengalahkan ketakutan diri sendiri, dan jadi lebih memahami tentang diri sendiri. 

Kalau kamu, apakah punya sesuatu yang ingin dilakukan tapi takut untuk memulainya? Kusarankan segeralah mengerjakannya! Mungkin bisa dengan perlahan, sedikit demi sedikit. Aku dan kamu tak pernah terlambat belajar atau melakukan sesuatu, selama kita masih diberi hari baru :)

11:39 AM No comments

Aku pernah salah memperkirakan waktu panen. Kukira cabe besarku sudah matang, ternyata masih harus menunggu sampai berwarna merah meskipun panjangnya sudah hampir setelapak tangan. 

Cabe merah besar bisa dipanen setelah berumur 60 hingga 85 hari. Periode yang terasa sangat lama untukku yang terbiasa menanam sayur daun, yang hanya dalam 30 hari sudah bisa dipanen. Tidak mudah bersabar diri untuk tidak memetik cabenya. Ada keinginan sekaligus kecemasan dalam penantiannya. Ingin segera difoto terus dipamerkan di media sosial, ingin segera dipakai untuk memasak, cemas kalau tiba-tiba terkena hama atau hujan lalu buahnya busuk, cemas kalau tiba-tiba tanamannya mati mendadak, dan banyak lagi.

Belajar dari kesalahan, aku berusaha menahan diri dan menunggu sampai waktunya tiba. 

Menunggu untuk segelintir orang memang sangat menyebalkan. Baru menunggu 5 menit sudah gelisah, menunggu 10 menit perasaan makin tidak karuan, menunggu 30 menit sudah sibuk cek smartphone. Kalau menggunakan standar manusia sekarang. Sabar menunggu lama bahkan sampai berpuluh tahun itu mustahil karena pasti ada saja godaan untuk menyerah di tengah perjalanan. Alasan yang biasanya digunakan adalah keburu tua, nanti keburu mati, nanti keburu tertinggal dengan teman yang lain, dan banyak lagi. 

Bersabar pun melelahkan. Apalagi saat mengalami pergumulan yang sangat sulit. Seringkali juga jawaban Tuhan datang tak secepat yang kita inginkan. Tapi kita tidak sendirian, semua orang juga sedang dalam penantiannya masing-masing. Ada yang sudah sampai berpuluh tahun menunggu, bertahun-tahun menunggu, berbulan-bulan, bahkan mungkin baru beberapa minggu ini menunggu. Semua punya waktunya sendiri. 

Menunggu dan bersabar adalah dua kata yang saling berkaitan dan sama-sama butuh usaha untuk melakukannya. Sialnya kita juga tidak bisa memisahkan keduanya kalau mau berbuah.

Berefleksi dari prosesku berkebun, akhirnya aku menyadari bahwa ternyata caraku menunggu itu salah. Menunggu yang kulakukan adalah cenderung pasif atau diam. Memandangi dan mengunjungi tanamannya (hampir) setiap hari. Itu yang membuat waktunya terasa sangat lama dan panjang.

Coba kalau aku bergerak aktif. Mengalihkan perhatian dengan pekerjaan berkebun lain yang juga kusuka dan tak membosankan. Misalnya aku menunggu sembari menanam benih bunga matahari, merencanakan ulang tata letak kebun, atau belajar menyetek pohon anggur. Waktu menunggu akan lebih cepat. Tahu-tahu panen cabe. 

Fokus 'menungguku' yang salah. Membuat prosesnya tak menyenangkan. Keinginan kuat atau ambisi untuk segera mendapatkan hasil telah menutup mata. Sehingga lupa kalau masih ada banyak kegiatan membahagiakan yang bisa dilakukan sewaktu menunggu.

Jadi, apa kamu juga sedang dalam penantian sama seperti aku? Apa yang ingin kamu kerjakan selama proses menunggu? 
12:16 PM No comments
Apakah kamu tau shibori? Teknik pewarnaan kain khas Jepang yang menghasilkan motif-motif unik melalui proses pengikatan dan pencelupan. Kebanyakan kain shibori menggunakan pewarna alami biru indigo. Warna itu dihasilkan dari daun tanaman indigo yang diproses melalui fermentasi menjadi pasta atau serbuk. 

kain-shibori

Berkecimpung di dunia handmade dan seni wastra membuatku belajar tentang asal bahan pembuatan barang, termasuk tentang pasta indigo. Aku baru tahu bahwa ada banyak jenis tanaman indigo. Jepang menggunakan tanaman indigo jenis Persicaria tinctoria untuk membuat pewarna alami biru mereka. Indigo jenis ini cenderung mudah dibudidayakan di daerah yang sejuk dan dingin. 

Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia yang terkenal dengan iklim tropisnya? Apakah juga menggunakan indigo yang sama dengan Jepang? Kalau pastanya dibeli langsung dari Jepang ya bisa jadi, tapi kalau mau pakai tanaman indigo kita sendiri juga ada kok! Yups, tanaman indigo penghasil warna biru yang bisa hidup di tempat kita adalah Indigofera tinctoria. Berbeda dengan Persicaria tinctoria, tanaman indigo kita malah suka banget kalau kena panas. Sejarah keberadaan Indigofera tinctoria di Indonesia pun lumayan menarik, kamu bisa browsing sendiri ya, nggak aku ceritain karena aku mau share topik lain.

Isu yang mau kubahas adalah kerancuan informasi tentang Indigofera tinctoria. Selama ini Indigofera tinctoria sering disebut tanaman untuk pakan ternak padahal tanaman yang dimaksud salah. Kita menggunakan Indigofera tinctoria untuk membuat pewarna alami kain penghasil warna biru, sedangkan tanaman indigo yang sering digunakan untuk pakan ternak karena disebut-sebut memiliki kandungan protein tinggi adalah Indigofera zollingeriana. Tapi aku jadi pengen iseng kepikiran nyobain daun Indigofera zollingeriana untuk dijadikan pewarna, apa bisa muncul warna biru atau nggak (next yaaa).

Nah untungnya aku sudah pernah lihat dua tanaman itu di kebun indigo dan punya benih/bijinya. Aku jadi bisa kasih beberapa perbedaan mencolok biar kalian nggak tertipu, soalnya aku lihat di toko oren banyak yang pajang foto Indigofera tinctoria tapi benih yang dijual beda. Hal ini tentu merugikan teman-teman yang pengen beli indigo untuk pewarna kain ya nggak? Berikut perbedaan yang bisa kalian jadikan panduan:

Nama botaninya
Meskipun sama-sama termasuk suku polong-polongan (Fabaceae atau Leguminosae), sudah jelas nama botaninya berbeda. Indigo penghasil warna biru adalah Indigofera tinctoria, sedang tanaman yang digunakan untuk pakan ternak adalah Indigofera zollingeriana. Orang-orang juga sering menyebut Indigofera tinctoria sebagai tarum, nila.

Bentuk daun
Bentuk daun kedua tanaman itu beda. Kalau tinctoria bentuknya cenderung bulat-bulat atau oval, sedang zollingeria agak besar dan melancip di ujung. Kamu bisa lihat di 2 foto ini:

daun-indigofera-tinctoria
daun Indigofera tinctoria

daun-indigofera-zollingeriana
daun Indigofera zollingeriana

Bentuk dan warna bunganya
Bentuk bunga sebenarnya hampir mirip ya, tapi warnanya berbeda. Bunga tarum berwarna ungu, sedang zollingeriana orange (agak merah?)

bunga Indigofera tinctoria


bunga Indigofera zollingeriana

Bentuk dan ukuran bijinya
Masuk dalam golongan polong-polongan tentu buahnya yang menghasilkan biji berbentuk seperti kacang polong versi kecil. Aku punya biji kedua tanaman tersebut dan terlihat untuk tinctoria kulit bijinya lebih kecil dari zollingeriana. 

biji-indigo
biji kecil: tinctoria, biji besar: zollingeriana

Bentuk tanamannya
Sebenarnya aku masih ragu dan butuh informasi tambahan yang lebih detail tentang ini. Namun waktu aku melihat mereka di kebun indigo, tanaman tarum (Indigofera tinctoria) adalah berupa semak atau perdu, sedangkan zollingeriana sudah berupa pohon kayu besar tinggi. Sayangnya aku nggak fotoin pohonnya, hanya sempat foto tarum.



Mudah kan mengenali mereka? Dua tanaman itu sedang kubudidayakan di kebun kecilku, semoga cepat besar dan bisa kasih kalian informasi lebih lengkap lagi tentang mereka. Sekarang jangan salah pilih lagi ya, indigo mana yang mau kamu gunakan. Apakah untuk pakan ternak atau untuk dijadikan pasta biru pewarna kain? Kalau kamu ada pertanyaan seputar tanaman indigo atau tanaman pewarna alami lainnya, bisa tulis di komentar :)






4:22 PM No comments
Akhir pekan kemarin adalah acara ke-4 aku diundang sebagai pengisi materi tentang bisnis kreatif setelah 2 tahun rehat selama pandemi. Acara itu dinamakan Kelas Berbagi yang diselenggarakan oleh Yayasan Kampung Halaman, dan aku mengisi materi tentang Berjualan Produk Digital. Jujur, kali ini aku sangat suka dengan pesertanya karena mereka terdiri dari banyak background dan profesi yang baru bagiku atau dengan kata lain aku belum pernah temui di acaraku. Biasanya peserta yang datang ke acaraku memiliki latarbelakang crafter, tapi khusus kali ini ada yang berlatarbelakangkan pegawai negeri, ibu rumah tangga, tenaga medis, dan banyak lagi. Oh yang tak kalah menarik juga, adalah tempat acara itu berlangsung yaitu di Aula Kubah Bambu-nya Weloveyou(th), kedai kopi milik Yayasan Kampung Halaman yang baru saja buka dan launching bulan Agustus 2022.

Produk digital memang bukan bisnis baru, akan tetapi bisa menjadi pilihan baru untuk teman-teman kreatif yang selama ini hanya menggantungkan penghasilannya dengan berjualan produk fisik. Kita tahu bahwa di tahun yang kurang jelas masa depannya ini, selalu ada kejutan yang tiba-tiba bikin kita senam jantung, ya nggak? Ada saja hal baru atau virus baru yang bikin kita was-was dengan situasi yang sudah hampir membaik ini. Bisnis adalah sesuatu yang nggak statis, terus bergerak mengikuti perkembangan jaman. Nah, kalau nggak mau ketinggalan, kita pun harus aktif, cepat beradaptasi, dan memiliki rencana lain jika sewaktu-waktu dibutuhkan agar bisnis kita juga tetap berjalan. Dan berjualan digital produk adalah salah satu rencana alternatif itu.

kelas berbagi jualan produk digital yayasan kampung halaman

workshop berjualan produk digital di etsy


Gimana, keren kan aulanya? Nantinya disini juga akan ada banyak acara atau kegiatan kreatif untuk anak remaja Yogyakarta. Senang sekali bisa diberi kesempatan untuk berbagi dan "curhat colongan" dengan banyak orang :) Di kesempatan mendatang mungkin akan ada banyak curhatan lainnya seputar bisnis kreatif, semoga ada yang mau mengundang lagi ya 😄😄😄


Cheers,
Lucia Berta
 


2:19 PM No comments
Ngomong-ngomong tentang kesehatan mental, aku punya unek-unek yang ingin kusampaikan. Pertama, aku senang dengan adanya fenomena bahwa anak muda milenial tidak lagi tabu membicarakan tentang kesehatan mental. Iya benar, itu bukan hal yang tabu, dan harus bisa menjadi kesadaran dan bahan percakapan sehari-hari di masyarakat umum. Akan tetapi, ada juga yang bikin aku gemes karena adanya hal yang kurang tepat tentang kesehatan mental, yaitu populernya penggunaan istilah "healing" dengan diasosiasikan kegiatan jalan-jalan atau rekreasi. Hmm aku pikir kurang tepat ya, kalau kau merasa jenuh atau burnout karena pekerjaan, dan ingin jalan-jalan agar pikiran kembali fresh itu lebih cocok disebut refreshing. Dari pengertian refreshing dan healing saja sudah berbeda.  

Refreshing adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menyegarkan kondisi tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh padatnya aktivitas yang menguras banyak tenaga tubuh maupun tenaga pikiran, sehingga kondisi tubuh dan pikiran menjadi lebih segar yaitu dengan cara menghibur diri, sedangkan healing adalah lebih mengarah pada penyembuhan/upaya pemulihan luka batin.  


Contoh lagi, yaitu bangga berkoar-koar kalau dirinya memiliki gangguan mental padahal belum pernah periksa, atau hanya mendiagnosis diri (self-diagnosis) sendiri tanpa ilmu yang mumpuni. Ini sungguh TETOT (X) besar ya. Banyaknya fenomena selebritis anak muda yang announce kalau diri mereka mengalami mental illness, trus pengikutnya juga ikut melakukan hal yang sama tanpa ada bukti dari catatan seorang profesional (psikolog atau psikiater) tidak bisa kita jadikan pembenaran. Memiliki gangguan mental itu berat dan capek lho gengs, bukan sesuatu yang menyenangkan dan membanggakan. Seorang penyintas akan lebih bersyukur kalau dia nggak perah mengalami gangguan tersebut eh yang sama sekali nggak kena gangguan itu malah kepingin, kan bikin gemes ya :(

Nah lain cerita kalau kalian merasa ada sesuatu yang dirasa tidak menyenangkan pada diri sendiri, daripada self-diagnosis, mending pergi ke psikolog atau psikiater untuk mencari tahu lebih lanjut apa sih yang sedang terjadi pada diri kalian. Jangan salah ya, nggak semua konsultasi psikologi itu mahal, ada juga kok yang affordable misalnya di Puskesmas, dan ada juga yang bisa dicover sama BPJS. Cari infonya sebanyak mungkin di daerah kalian tinggal ya karena biasanya infonya berbeda. Kalau ada lagi yang protes: "Pernah pergi ke psikolog tapi psikolognya judgemental banget bikin males". Yes, aku tahu dan tidak menyangkal kalau memang ada banyak psikolog yang judgemental (suka menghakimi orang lain) dan bikin kapok datang kesitu, bahkan temanku juga banyak yang mengalami hal itu. Sebagai manusia biasa yang banyak kurangnya, semuanya sama termasuk seorang psikolog. Itulah pentingnya kita untuk cari info atau mencoba di beberapa psikolog agar bisa tahu psikolog mana yang cocok dan bisa bikin nyaman.

Masih ingin tahu info lebih banyak tentang kesehatan mental dan istilah-istilahnya? Untungnya jaman sekarang semua informasi bisa didapat dengan mudah. Ada banyak sekali lho lembaga konsultasi psikologi yang memiliki media sosial dan sering banget berbagi pengetahuan seputar kesehatan mental, nah mending kita ikuti saja sosial medianya karena lebih valid dan info yang diberikan sesuai dengan ilmunya.

Oke, lanjut dengan pembahasan sebenarnya untuk artikel ini. Kali ini aku mau bagi-bagi printable gratis yaitu berupa jurnal. Jurnal ini khusus untuk kalian yang sedang berjuang atau mengalami anxiety disorder. 

Menulis jurnal harian memiliki banyak manfaat, diantaranya untuk kesehatan mental kita. Dengan menulis kita jadi mampu untuk mengekspresikan perasaan atau emosi, mengenali apa yang sedang dirasakan dalam diri dan masih banyak lagi. Nah berdasarkan hal itu aku mencoba membuat jurnal kecemasan sederhana yang bisa dikerjakan sendiri tiap hari. Jurnal ini berisi lembar kerja yang bisa membantu kalian/penyintas Anxiety Disorder untuk menulis apa yang sedang dirasakan, mengenali trigger yang sering muncul, dan mengubah pola pikir serta perilaku menjadi lebih sehat dan positif.

Lembar kerjanya aku adaptasi dan sederhanakan dari teori CBT (Cognitive Behavioral Therapy) agar mudah dipahami oleh masyarakat awam. CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang juga disebut dengan terapi perilaku kognitif adalah salah satu bentuk psikoterapi yang berfokus pada pikiran dan perilaku seseorang. Terapi ini bertujuan untuk mengubah atau melatih cara berpikir dan  cara bertindak. Sebagai contoh, pemikiran yang tidak tepat tersebut seperti berfikir bahwa seseorang tidak dihargai oleh kelompok tertentu sehingga membuat individu tersebut menjauhi kelompok yang belum tentu benar-benar tidak menghargainya. Dengan memberikan terapi kognitif, diharapkan seseorang mampu merespon pemikiran yang kurang tepat tersebut dengan lebih rasional, sehingga pemikiran dan perilaku mereka lebih efektif.

ISINYA APA SAJA?
Anxiety Journal yang kubikin ini ada 7 tema lembar kerja, yaitu:
1. Worry Journal, adalah lembar kerja dimana bisa kalian kerjakan setiap hari untuk mengetahui kecemasan yang datang dan bagaimana cara kalian menanganinya
2. Triggers & Symptoms, adalah lembar kerja yang membantu kalian menuliskan dan mengenali apa saja trigger (pemicu) yang sering muncul dan membuat kalian cemas, serta apa yang kalian lakukan jika kecemasan itu muncul 
3. Worry Helpers, adalah lembar kerja yang membantu kalian menuliskan kegiatan apa saja yang bisa membuat kalian rileks selama mengalami kecemasan
4. Fear and Avoidance, adalah lembar kerja yang membantu kalian mengenali dan memberi peringkat situasi yang membuat kalian ketakutan dan ingin menghindarinya
5. Positive Self-Talk, adalah lembar kerja yang membantu kalian mengubah pola pikir dan kebiasaan dalam mengungkapkan perkataan negatif menjadi positif
6. Unhelpful Thoughts, adalah lembar kerja yang membantu kalian menyadari perasaan negatif yang muncul dalam situasi tertentu yang sebenarnya tidak realistis sehingga perasaan negatif itu harus diubah menjadi pemikiran yang realistis
7. Habit Trackers: mood tracker, meal tracker, sleep tracker, dan exercise tracker
Adalah lembar kerja yang bisa membantu kalian melacak (tracking) perilaku atau kebiasaan dan perasaan setiap harinya, seperti mood, tidur, olahraga, dan makan. Diharapkan dengan pola perilaku sehari-hari yang kita lacak tersebut dapat memunculkan disiplin diri untuk mengubahnya menjadi kebiasaan baik. Ada tertulis: "Dalam hidup yang sehat terdapat jiwa yang sehat juga," hal inilah yang mendasari pembuatan habit tracker ini :)

DISCLAMER DULU YA: Jurnal ini bukan sebagai pengganti kalian untuk tidak datang ke psikolog, tetapi hanya sebagai tambahan (yang tidak wajib tentunya) selama kalian konseling ke psikolog. Kalau kalian suka healing selama proses pengobatan/konseling dengan menulis jurnal tetapi terkadang tidak tahu apa yang ingin kalian tulis mengenai kecemasan kalian, jurnal ini bisa digunakan sebagai pemantiknya.

BAGAIMANA CARA MENGGUNAKANNYA?
Jurnal ini bisa kalian gunakan dengan 2 cara yaitu: 1) diprint di kertas berukuran A4 lalu diisi manual menggunakan pulpen, dan 2) bisa digunakan secara digital yaitu menggunakan tablet atau ipad. 

Untuk penggunaan dengan tablet atau ipad, kalian butuh aplikasi untuk membukanya (annotate app) dan stylus atau apple pencil. Pada jurnal ini juga sudah disertai dengan hyperlinks sehingga memudahkan kalian pengguna tablet atau ipad untuk membuka tiap section yang kalian langsung ingin kerjakan.

anxiety journal free download

kesehatan-mental-anak-milenial

jurnal untuk gangguan kecemasan



Cara mengunduhnya tinggal klik di link ini: Anxiety Journal atau klik gambar Get Free Printables di sisi kanan template blog ini. Tolong diingat ya kalau jurnal ini PERSONAL USE ONLY jadi jangan diperjualbelikan. Terima kasih, semoga bisa membantu proses pemulihan kalian :)


Cheers,
Lucia Berta


1:19 PM No comments
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose