How To Start Your Stationery Shop (Online)
Apakah kalian suka menggambar? atau bikin kaligrafi? kolase? bikin komik? dan ingin sekali menjual karyamu dalam bentuk stiker, notes, kartu ucapan, dan masih banyak lagi? Bagaimana kalau kalian mulai bikin bisnis stationery atau merchandise kalian sendiri? Bukan hal yang mustahil, caranya mudah sekali lho! Aku akan bagikan prosesnya dari mulai produksi sampai penjualan, apa saja yang penting untuk kalian siapkan, dan bagaimana mengakali agar terlihat profesional meskipun budgetnya terbatas ;)
Folksy Press, sebuah bisnis kreatif yang aku dirikan, pernah menjual produk handmade karya teman-teman ilustrator dan kolase. Produk yang kami jual berupa produk stationery, yaitu notes, stiker, notepad, kartu ucapan, art print, zine, pouch, totebag, dan lain sebagainya. Kami membuat produk dengan budget sendiri dan terbatas (tentunya) dengan hasil yang nggak main-main. Keluar masuk toko printing, toko alat tulis dan kertas, ngobrol ngalor ngidul tentang toko printing yang oke, kertas yang oke, sudah menjadi keseharian tim kami. Nah, sekarang giliran kalian yang harus tahu gimana sih "rahasia dibalik dapur" bikin produk stationery dengan brand sendiri.
Desain
Untuk kalian yang sudah punya banyak karya tentu tidak akan menjadi masalah untuk memilih karya mana yang akan kalian jadikan produk. Karya ilustrasi/kolase/kaligrafimu itu nantinya akan ditempatkan pada produk, nah proses ini tentu melibatkan ketrampilan untuk mendesain (apakah akan didesain menjadi sampul notes, kartu pos, atau stiker), kalaupun kalian tidak bisa mendesain atau tidak memiliki aplikasinya, kalian bisa minta tolong didesainkan di toko printing asalkan sudah berbentuk soft file (pdf, jpg, dll). Jangan lupa untuk mencantumkan nama brand atau logo kalian juga agar produk lebih mudah dikenali oleh orang-orang
Bahan Produk
Kertas, banyak sekali jenisnya, untuk beberapa produk yang berbeda mungkin bisa menggunakan jenis kertas yang berbeda, misalnya mau bikin notes dan art print. Kertas yang tepat penting sekali untuk kita perhatikan karena kualitas karya kita yang dicetak di kertas akan menentukan bagus tidaknya produk kita (contohnya: kertas yang dipakai ternyata tidak bisa menyerap tinta dengan baik jadinya karya kita yang dicetak hasilnya tidak sesuai dengan karya aslinya), belum lagi untuk fungsi penggunaan produk tersebut (contohnya: kertas yang digunakan untuk produk notes harus agak tebal agar tidak mudah sobek kalau tiap kali dibuka tutup, dll). Kalau kita masih awam, bagaimana kita bisa tahu? Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah survey dulu dengan membeli produk stationery orang lain yang kita sukai kertasnya dan bisa mencari kertas yang sama yang digunakan oleh produk itu. Untuk mengetahui kualitas bahan produk yang lain pun kadang aku suka membeli beberapa produk teman yang memang aku suka bahannya. Pokoknya jangan menyerah mencari bahan yang cocok untuk budget dan produk kalian ya, kalau perlu banyaklah mencoba dan bereksperimen sampai benar-benar dapat karena kualitas produk itu yang akan menambah nilai jual kita.
Proses Produksi
Ada dua pilihan untuk memproduksi produk kalian, yaitu sepenuhnya diserahkan ke pihak printing atau jasa layanan dari mulai desain sampai jadi sebuah produk, atau dikerjakan sendiri/handmade (misalnya: pas bikin notes, kita ke printing hanya untuk cetak sampul, lalu kita potong sendiri dan beli kertas untuk isinya, lalu kita kerjakan dengan memotong, mengisi kertas, dan menjilidnya sendiri). Plus minusnya menggunakan dua pilihan itu tentu ada, kalau penasaran, tidak masalah jika mencoba keduanya dan bandingkan mana yang lebih nyaman untuk kalian dan sesuai dengan budget (lagi).
Tentukan Harga
Dulu sebelum aku mengenal hitungan harga, aku biasanya hanya menyesuaikan dengan harga yang ada di pasaran saja, misalnya: harga notes teman yang ukurannya sama dengan punya kita dikasi harga Rp 15.000, kita melihat harga itu dirasa masih dapat keuntungan, akhirnya kita juga pakai harga itu. Nah, sebenarnya ada rumus hitungan untuk harga produk yang akhirnya aku gunakan untuk produk-produk baru. Kurang lebih rumusnya seperti ini (bisa dikurangi atau ditambah sesuai prioritas kalian):
Rumus Umum Menentukan Harga Jual:
Bahan baku + tenaga kerja (15-25% dari biaya bahan baku) + biaya operasional (10-20% dari biaya bahan baku) + resiko (10% dari biaya bahan baku) + keuntungan (30-50% dari biaya bahan baku) = biaya total. Biaya total itu lalu dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan (misalnya biaya total Rp 100.000 : 10 buah (produk yg didapat dari produksi bahan baku tersebut)) = Rp. 10.000, nah maka harga perproduk tersebut adalah Rp 10.000.
Tips: Biasanya untuk rumusnya masih aku masukan tambahan konsinyasi 30% dari bahan baku. Kenapa ditambah konsinyasi dan kenapa harus 30%?
1. Nanti saat kita menjual produk kita kalau kita titip jual ke tempat lain/toko pasti harga kita akan dikurangi untuk sistem konsinyasi (kecuali kalau perjanjian kerjasama kalian, pihak toko boleh menambah harga sendiri untuk keuntungan mereka)
2. Kenapa 30%? selama aku titip jual ke beberapa toko di Indonesia, rata-rata prosentasi konsinyasi yang ditawarkan toko berbeda-beda, biasanya mulai dari 20-30%. Disini aku ambil prosentase yang paling tinggi yaitu 30% meskipun mungkin di toko itu hanya diambil 25%.
Foto Produk
Nah ini segmen yang nggak kalah penting. Foto produk yang bagus akan lebih banyak membuat konsumen langsung tertarik melihat produk kalian. Hal ini berlaku juga untuk produk yang sebenarnya sederhana. Aku pernah melihat ada produk notes yang sampulnya sangat keren tetapi fotonya tidak menarik, disandingkan dengan produk notes sederhana yang saking sederhananya bahkan sampul cuma berupa tulisan, nggak ada ilustrasinya, tetapi lebih eye catching fotonya, otomatis orang-orang bahkan diriku cenderung akan penasaran dan tertarik dengan produk sederhana tersebut.
Waduh pengen juga foto produkku oke tapi aku nggak punya kamera bagus dan nggak punya budget untuk sewa studio. Hmm aku sama sekali nggak pernah sewa studio hanya untuk foto produk yang kecil-kecil. Bahkan aku lebih sering foto pakai hape doang nggak pakai kamera. Cara fotonya gimana yang seperti itu? Mudah banget, kalian hanya cari tempat terang dan alas menggunakan kain polos atau kertas warna warni polos. Oya aku sempat bikin cara foto agar terlihat profesional di artikel blogku yang sudah lama banget aku tulis, dan bahkan sampai sekarang aku masih aplikasikan.
Jual Produk
Setelah selesai foto dan diedit saatnya kita berjualan. Mau dijual kemana nih? Apakah lewat online? Tokopedia? Shopee? atau titip ke toko-toko stationery offline? Dijual di Indonesia atau terbuka juga untuk luar Indonesia? Jika kalian hanya ingin dijual di Indonesia, kalian perlu mempelajari e-commerce yang cocok untuk kalian (apakah tokopedia, shopee, buka lapak, dll?) atau mau pakai website sendiri? atau mau dititip jual ke teman yang punya toko? atau toko-toko handmade yang ada di kotamu? Nah kalau mau dititip di toko jangan segan dan malu untuk bertanya dan menawarkan produk kalian duluan ya. Biasanya toko-toko itu nggak pernah kasih woro-woro kalau mereka menerima titipan produk, jadi kita yang harus aktif. Tanyakan apakah bisa titip jual dan sistemnya bagaimana (apakah ada potongan konsinyasi atau mereka akan beli putus), jangan lupa juga siapkan MOU (lembar kesepakatan kerjasama) agar sama-sama enak dan lebih aman tentunya, karena ketentuan tiap toko berbeda.
Kalau dijual di luar negeri juga gimana? Bisa sih tapi kalian harus cari tahu banyak hal. Misalnya kalian bisa memilih e-commerce Etsy nah disitu ada beberapa ketentuan kalau kamu mendaftar sebagai tenant, misalnya harus punya paypal, harus punya kartu kredit, belum lagi nanti produk yang terjual akan dipotong berapa cents untuk Etsy. Wow banyak sekali ya syaratnya, iya pastinya. Belum lagi nanti pengiriman barang kamu ke luar negeri, masih ada beberapa aturan lagi dan setiap negara berbeda-beda. Kalau ribet begini kenapa untuk teman yang lain yang berjualan ke luar negeri santai aja? Itu ada dong tipsnya dan panjang sekali kalau dikupas, kapan-kapan saja ya kita kupas bersama.
Untuk kalian yang newbie dan baru mau mulai, mending difokusin dulu untuk konsumen di Indonesia. Perkuat brand produk kalian dan tetap semangat belajar hal baru tentang entrepenuership. Selamat mencoba berwirausaha :)
Cheers,
Lucia Berta
Untuk kalian yang newbie dan baru mau mulai, mending difokusin dulu untuk konsumen di Indonesia. Perkuat brand produk kalian dan tetap semangat belajar hal baru tentang entrepenuership. Selamat mencoba berwirausaha :)
Cheers,
Lucia Berta

4 comments
Makasih. It's so helpful for me
ReplyDeleteSama-sama :)
DeleteKeren mba, selalu salut sama orang-orang berjiwa kreatif hihihi ~ kebetulan saya suka gatal mau beli sticker setiap lihat yang lucu-lucu, entah kenapa suka saja dengan sticker :))) sukses selalu untuk usahanya ya, mba <3
ReplyDeleteWow... Very helpful tips, apalagi bagian hitung harga jual. Thank so much for sharing!
ReplyDelete