Berkebun Sebagai Gaya Hidup Baru Untuk Mengelola Stres

by - 3:14 PM

Bisa dibilang berkebun telah menyelamatkan hidupku. Tahun 2019 adalah salah satu tahun yang berat untukku, dimana tahun tersebut aku mengalami krisis tujuan hidup. Semua hal yang menjadi tujuan hidupku hilang, dan aku bingung mau ngapain lagi, mau bikin apa lagi, atau mau ngerjain apa lagi. Semua serba clueless hingga menyebabkan aku tidak percaya diri lagi, penghargaan diriku rendah, aku mulai menarik diri dari lingkungan, hingga aku (sadar) menjadi toxic (racun) untuk semua orang disekitarku dengan emosi diriku yang tidak stabil. Tahun 2019 juga merupakan tahun awal pandemi Covid-19 mulai populer. Semua harus di rumah untuk memutuskan rantai virus Covid-19. Dalam dua kondisi hebat yang sedang kualami saat itu muncul perasaan antara senang karena merasa seakan-akan Tuhan memberikanku waktu untuk bisa healing di rumah sementara waktu, dan perasaan cemas, takut, sedih karena akibat yang ditimbulkan dari adanya pandemi itu sangat menakutkan. 

coping-stress-dengan-berkebun

Beruntungnya aku sempat iseng menanam sayuran (dalam skala kecil/hobi saja). Kegiatan itu yang akhirnya aku teruskan untuk mengisi waktu di rumah. Dari sekedar ingin mencoba belajar menanam, malah akhirnya menjadi sarana meditasi dan mengelola stres. Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana prosesnya?

Ketika kita dalam keadaan stres atau kondisi kesehatan mental yang kurang baik, kita membutuhkan strategi yang bisa digunakan untuk mengelola stres tersebut dengan berusaha mengendalikan tekanan yang muncul dalam diri. Strategi tersebut sering dikenal dengan nama coping stress. Coping adalah sebuah cara dari individu dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan dari lingkungannya dan sebuah usaha untuk meminimalisir kesenjangan antara tuntutan diluar individu dengan kemampuannya. Dijelaskan juga oleh *Matheny (Safaria dan Saputra, 2012) bahwa coping adalah upaya yang bersifat sehat maupun tidak sehat, positif maupun negatif, usaha secara sadar maupun tidak sadar, untuk mencegah, menghilangkan, atau mengurangi stressor, atau memberikan ketahanan yang ditimbulkan oleh stres. Aktivitas seperti melakukan hobi atau sesuatu yang positif adalah termasuk dalam contoh strategi coping, dan berkebun juga bisa masuk dalam aktivitas tersebut.

Selama ini secara tidak sadar ternyata aku telah menggunakan aktivitas berkebun sebagai coping stres-ku (jika merujuk pada teori diatas). Inilah kenapa aku merasa banyak mengalami perubahan dalam mengelola emosi dan merasa lebih sehat secara jiwa daripada di tahun-tahun kemarin. Proses saat memegang tanah, memperhatikan tanaman yang sedang tumbuh, menyiram tanaman, berada di luar ruangan dengan badan terkena sinar matahari pagi, menghirup udara yang segar, dan semua hal menyenangkan selama berkebun itu dapat mengubah emosi negatif menjadi energi positif. Berkebun juga mengajakku untuk bisa menjadi diri sendiri dan mengekspresikan diri. Rasa penat dan overwhelmed yang sering dirasakan saat bekerja sering kali membuat tubuh dan pikiran capek, akhirnya kita tidak bisa meluangkan waktu untuk enjoy something of our own. Nah, dengan berkebun aku jadi bisa memiliki waktu untuk melakukan hal yang kusukai, dan tanaman itu tidak pernah menghakimi (nggak seperti society :p ) jadi kita bisa dengan santai menjadi diri sendiri.  

Kegiatan berkebun membuat kita dapat meregangkan tubuh walau sebentar. Peregangan itu sangat penting saat pundak, bahu, dan leher kita kaku ketika bekerja di depan laptop atau komputer seharian. Peregangan tubuh dikombinasikan dengan deep breathing bisa menjadi latihan mudah dan praktis yang bisa dilakukan sehari-hari untuk mengurangi tekanan pada tubuh. Secara otomatis hal tersebut juga membantu menaikkan mood dan membuat kita rileks. 

berkebun-sebagai-coping-stress

Bagaimana efek berkebun dalam diriku? Perubahan yang sangat bisa aku rasakan adalah aku bisa merasa kalem dalam menjalani hari. Perasaan negatif yang muncul bisa perlahan aku kelola dan ubah menjadi energi positif yang menghasilkan atau produktif. Berkebun juga mengajariku banyak hal tentang hidup, bahkan aku mulai bisa menghargai diriku sendiri dan bangga pada diri karena pencapaian-pencapaian kecil yang terjadi di kebun, misalnya: akhirnya bisa menumbuhkan tanaman tomat yang subur setelah berkali-kali gagal, bisa menikmati hasil panenan sendiri walau masih sedikit, dan masih banyak lagi. 

Sekarang berkebun (baik tanaman hias atau sayur) diminati oleh banyak orang, dan bahkan sudah menjadi gaya hidup baru dikarenakan situasi yang mewajibkan untuk (sebisa mungkin) berada di rumah sementara waktu. Hal ini tentunya sangat bagus mengingat kesehatan mental kita juga lumayan terguncang akibat dari pandemi Covid-19.  

Wow, tidak menyangka bukan? Keuntungan dari berkebun untuk kesehatan mentalku itu baru sedikit yang kuceritakan, dan dengan merasakan sendiri dari pengalaman tersebut aku sangat merekomendasikan kamu yang ingin mencoba berkebun untuk mengelola stres atau untuk self healing di masa pandemi seperti sekarang ini. Yuk!

Cheers,
Lucia Berta

*Sumber: Safaria, Triantoro dan Saputra, Nofrans Eka. (2012). Manajemen Emosi Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda. Jakarta: Bumi Aksara

You May Also Like

0 comments