• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun


Aku pernah salah memperkirakan waktu panen. Kukira cabe besarku sudah matang, ternyata masih harus menunggu sampai berwarna merah meskipun panjangnya sudah hampir setelapak tangan. 

Cabe merah besar bisa dipanen setelah berumur 60 hingga 85 hari. Periode yang terasa sangat lama untukku yang terbiasa menanam sayur daun, yang hanya dalam 30 hari sudah bisa dipanen. Tidak mudah bersabar diri untuk tidak memetik cabenya. Ada keinginan sekaligus kecemasan dalam penantiannya. Ingin segera difoto terus dipamerkan di media sosial, ingin segera dipakai untuk memasak, cemas kalau tiba-tiba terkena hama atau hujan lalu buahnya busuk, cemas kalau tiba-tiba tanamannya mati mendadak, dan banyak lagi.

Belajar dari kesalahan, aku berusaha menahan diri dan menunggu sampai waktunya tiba. 

Menunggu untuk segelintir orang memang sangat menyebalkan. Baru menunggu 5 menit sudah gelisah, menunggu 10 menit perasaan makin tidak karuan, menunggu 30 menit sudah sibuk cek smartphone. Kalau menggunakan standar manusia sekarang. Sabar menunggu lama bahkan sampai berpuluh tahun itu mustahil karena pasti ada saja godaan untuk menyerah di tengah perjalanan. Alasan yang biasanya digunakan adalah keburu tua, nanti keburu mati, nanti keburu tertinggal dengan teman yang lain, dan banyak lagi. 

Bersabar pun melelahkan. Apalagi saat mengalami pergumulan yang sangat sulit. Seringkali juga jawaban Tuhan datang tak secepat yang kita inginkan. Tapi kita tidak sendirian, semua orang juga sedang dalam penantiannya masing-masing. Ada yang sudah sampai berpuluh tahun menunggu, bertahun-tahun menunggu, berbulan-bulan, bahkan mungkin baru beberapa minggu ini menunggu. Semua punya waktunya sendiri. 

Menunggu dan bersabar adalah dua kata yang saling berkaitan dan sama-sama butuh usaha untuk melakukannya. Sialnya kita juga tidak bisa memisahkan keduanya kalau mau berbuah.

Berefleksi dari prosesku berkebun, akhirnya aku menyadari bahwa ternyata caraku menunggu itu salah. Menunggu yang kulakukan adalah cenderung pasif atau diam. Memandangi dan mengunjungi tanamannya (hampir) setiap hari. Itu yang membuat waktunya terasa sangat lama dan panjang.

Coba kalau aku bergerak aktif. Mengalihkan perhatian dengan pekerjaan berkebun lain yang juga kusuka dan tak membosankan. Misalnya aku menunggu sembari menanam benih bunga matahari, merencanakan ulang tata letak kebun, atau belajar menyetek pohon anggur. Waktu menunggu akan lebih cepat. Tahu-tahu panen cabe. 

Fokus 'menungguku' yang salah. Membuat prosesnya tak menyenangkan. Keinginan kuat atau ambisi untuk segera mendapatkan hasil telah menutup mata. Sehingga lupa kalau masih ada banyak kegiatan membahagiakan yang bisa dilakukan sewaktu menunggu.

Jadi, apa kamu juga sedang dalam penantian sama seperti aku? Apa yang ingin kamu kerjakan selama proses menunggu? 
12:16 PM No comments
Ngomong-ngomong tentang kesehatan mental, aku punya unek-unek yang ingin kusampaikan. Pertama, aku senang dengan adanya fenomena bahwa anak muda milenial tidak lagi tabu membicarakan tentang kesehatan mental. Iya benar, itu bukan hal yang tabu, dan harus bisa menjadi kesadaran dan bahan percakapan sehari-hari di masyarakat umum. Akan tetapi, ada juga yang bikin aku gemes karena adanya hal yang kurang tepat tentang kesehatan mental, yaitu populernya penggunaan istilah "healing" dengan diasosiasikan kegiatan jalan-jalan atau rekreasi. Hmm aku pikir kurang tepat ya, kalau kau merasa jenuh atau burnout karena pekerjaan, dan ingin jalan-jalan agar pikiran kembali fresh itu lebih cocok disebut refreshing. Dari pengertian refreshing dan healing saja sudah berbeda.  

Refreshing adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menyegarkan kondisi tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh padatnya aktivitas yang menguras banyak tenaga tubuh maupun tenaga pikiran, sehingga kondisi tubuh dan pikiran menjadi lebih segar yaitu dengan cara menghibur diri, sedangkan healing adalah lebih mengarah pada penyembuhan/upaya pemulihan luka batin.  


Contoh lagi, yaitu bangga berkoar-koar kalau dirinya memiliki gangguan mental padahal belum pernah periksa, atau hanya mendiagnosis diri (self-diagnosis) sendiri tanpa ilmu yang mumpuni. Ini sungguh TETOT (X) besar ya. Banyaknya fenomena selebritis anak muda yang announce kalau diri mereka mengalami mental illness, trus pengikutnya juga ikut melakukan hal yang sama tanpa ada bukti dari catatan seorang profesional (psikolog atau psikiater) tidak bisa kita jadikan pembenaran. Memiliki gangguan mental itu berat dan capek lho gengs, bukan sesuatu yang menyenangkan dan membanggakan. Seorang penyintas akan lebih bersyukur kalau dia nggak perah mengalami gangguan tersebut eh yang sama sekali nggak kena gangguan itu malah kepingin, kan bikin gemes ya :(

Nah lain cerita kalau kalian merasa ada sesuatu yang dirasa tidak menyenangkan pada diri sendiri, daripada self-diagnosis, mending pergi ke psikolog atau psikiater untuk mencari tahu lebih lanjut apa sih yang sedang terjadi pada diri kalian. Jangan salah ya, nggak semua konsultasi psikologi itu mahal, ada juga kok yang affordable misalnya di Puskesmas, dan ada juga yang bisa dicover sama BPJS. Cari infonya sebanyak mungkin di daerah kalian tinggal ya karena biasanya infonya berbeda. Kalau ada lagi yang protes: "Pernah pergi ke psikolog tapi psikolognya judgemental banget bikin males". Yes, aku tahu dan tidak menyangkal kalau memang ada banyak psikolog yang judgemental (suka menghakimi orang lain) dan bikin kapok datang kesitu, bahkan temanku juga banyak yang mengalami hal itu. Sebagai manusia biasa yang banyak kurangnya, semuanya sama termasuk seorang psikolog. Itulah pentingnya kita untuk cari info atau mencoba di beberapa psikolog agar bisa tahu psikolog mana yang cocok dan bisa bikin nyaman.

Masih ingin tahu info lebih banyak tentang kesehatan mental dan istilah-istilahnya? Untungnya jaman sekarang semua informasi bisa didapat dengan mudah. Ada banyak sekali lho lembaga konsultasi psikologi yang memiliki media sosial dan sering banget berbagi pengetahuan seputar kesehatan mental, nah mending kita ikuti saja sosial medianya karena lebih valid dan info yang diberikan sesuai dengan ilmunya.

Oke, lanjut dengan pembahasan sebenarnya untuk artikel ini. Kali ini aku mau bagi-bagi printable gratis yaitu berupa jurnal. Jurnal ini khusus untuk kalian yang sedang berjuang atau mengalami anxiety disorder. 

Menulis jurnal harian memiliki banyak manfaat, diantaranya untuk kesehatan mental kita. Dengan menulis kita jadi mampu untuk mengekspresikan perasaan atau emosi, mengenali apa yang sedang dirasakan dalam diri dan masih banyak lagi. Nah berdasarkan hal itu aku mencoba membuat jurnal kecemasan sederhana yang bisa dikerjakan sendiri tiap hari. Jurnal ini berisi lembar kerja yang bisa membantu kalian/penyintas Anxiety Disorder untuk menulis apa yang sedang dirasakan, mengenali trigger yang sering muncul, dan mengubah pola pikir serta perilaku menjadi lebih sehat dan positif.

Lembar kerjanya aku adaptasi dan sederhanakan dari teori CBT (Cognitive Behavioral Therapy) agar mudah dipahami oleh masyarakat awam. CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang juga disebut dengan terapi perilaku kognitif adalah salah satu bentuk psikoterapi yang berfokus pada pikiran dan perilaku seseorang. Terapi ini bertujuan untuk mengubah atau melatih cara berpikir dan  cara bertindak. Sebagai contoh, pemikiran yang tidak tepat tersebut seperti berfikir bahwa seseorang tidak dihargai oleh kelompok tertentu sehingga membuat individu tersebut menjauhi kelompok yang belum tentu benar-benar tidak menghargainya. Dengan memberikan terapi kognitif, diharapkan seseorang mampu merespon pemikiran yang kurang tepat tersebut dengan lebih rasional, sehingga pemikiran dan perilaku mereka lebih efektif.

ISINYA APA SAJA?
Anxiety Journal yang kubikin ini ada 7 tema lembar kerja, yaitu:
1. Worry Journal, adalah lembar kerja dimana bisa kalian kerjakan setiap hari untuk mengetahui kecemasan yang datang dan bagaimana cara kalian menanganinya
2. Triggers & Symptoms, adalah lembar kerja yang membantu kalian menuliskan dan mengenali apa saja trigger (pemicu) yang sering muncul dan membuat kalian cemas, serta apa yang kalian lakukan jika kecemasan itu muncul 
3. Worry Helpers, adalah lembar kerja yang membantu kalian menuliskan kegiatan apa saja yang bisa membuat kalian rileks selama mengalami kecemasan
4. Fear and Avoidance, adalah lembar kerja yang membantu kalian mengenali dan memberi peringkat situasi yang membuat kalian ketakutan dan ingin menghindarinya
5. Positive Self-Talk, adalah lembar kerja yang membantu kalian mengubah pola pikir dan kebiasaan dalam mengungkapkan perkataan negatif menjadi positif
6. Unhelpful Thoughts, adalah lembar kerja yang membantu kalian menyadari perasaan negatif yang muncul dalam situasi tertentu yang sebenarnya tidak realistis sehingga perasaan negatif itu harus diubah menjadi pemikiran yang realistis
7. Habit Trackers: mood tracker, meal tracker, sleep tracker, dan exercise tracker
Adalah lembar kerja yang bisa membantu kalian melacak (tracking) perilaku atau kebiasaan dan perasaan setiap harinya, seperti mood, tidur, olahraga, dan makan. Diharapkan dengan pola perilaku sehari-hari yang kita lacak tersebut dapat memunculkan disiplin diri untuk mengubahnya menjadi kebiasaan baik. Ada tertulis: "Dalam hidup yang sehat terdapat jiwa yang sehat juga," hal inilah yang mendasari pembuatan habit tracker ini :)

DISCLAMER DULU YA: Jurnal ini bukan sebagai pengganti kalian untuk tidak datang ke psikolog, tetapi hanya sebagai tambahan (yang tidak wajib tentunya) selama kalian konseling ke psikolog. Kalau kalian suka healing selama proses pengobatan/konseling dengan menulis jurnal tetapi terkadang tidak tahu apa yang ingin kalian tulis mengenai kecemasan kalian, jurnal ini bisa digunakan sebagai pemantiknya.

BAGAIMANA CARA MENGGUNAKANNYA?
Jurnal ini bisa kalian gunakan dengan 2 cara yaitu: 1) diprint di kertas berukuran A4 lalu diisi manual menggunakan pulpen, dan 2) bisa digunakan secara digital yaitu menggunakan tablet atau ipad. 

Untuk penggunaan dengan tablet atau ipad, kalian butuh aplikasi untuk membukanya (annotate app) dan stylus atau apple pencil. Pada jurnal ini juga sudah disertai dengan hyperlinks sehingga memudahkan kalian pengguna tablet atau ipad untuk membuka tiap section yang kalian langsung ingin kerjakan.

anxiety journal free download

kesehatan-mental-anak-milenial

jurnal untuk gangguan kecemasan



Cara mengunduhnya tinggal klik di link ini: Anxiety Journal atau klik gambar Get Free Printables di sisi kanan template blog ini. Tolong diingat ya kalau jurnal ini PERSONAL USE ONLY jadi jangan diperjualbelikan. Terima kasih, semoga bisa membantu proses pemulihan kalian :)


Cheers,
Lucia Berta


1:19 PM No comments
Bisa dibilang berkebun telah menyelamatkan hidupku. Tahun 2019 adalah salah satu tahun yang berat untukku, dimana tahun tersebut aku mengalami krisis tujuan hidup. Semua hal yang menjadi tujuan hidupku hilang, dan aku bingung mau ngapain lagi, mau bikin apa lagi, atau mau ngerjain apa lagi. Semua serba clueless hingga menyebabkan aku tidak percaya diri lagi, penghargaan diriku rendah, aku mulai menarik diri dari lingkungan, hingga aku (sadar) menjadi toxic (racun) untuk semua orang disekitarku dengan emosi diriku yang tidak stabil. Tahun 2019 juga merupakan tahun awal pandemi Covid-19 mulai populer. Semua harus di rumah untuk memutuskan rantai virus Covid-19. Dalam dua kondisi hebat yang sedang kualami saat itu muncul perasaan antara senang karena merasa seakan-akan Tuhan memberikanku waktu untuk bisa healing di rumah sementara waktu, dan perasaan cemas, takut, sedih karena akibat yang ditimbulkan dari adanya pandemi itu sangat menakutkan. 

coping-stress-dengan-berkebun

Beruntungnya aku sempat iseng menanam sayuran (dalam skala kecil/hobi saja). Kegiatan itu yang akhirnya aku teruskan untuk mengisi waktu di rumah. Dari sekedar ingin mencoba belajar menanam, malah akhirnya menjadi sarana meditasi dan mengelola stres. Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana prosesnya?

Ketika kita dalam keadaan stres atau kondisi kesehatan mental yang kurang baik, kita membutuhkan strategi yang bisa digunakan untuk mengelola stres tersebut dengan berusaha mengendalikan tekanan yang muncul dalam diri. Strategi tersebut sering dikenal dengan nama coping stress. Coping adalah sebuah cara dari individu dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan dari lingkungannya dan sebuah usaha untuk meminimalisir kesenjangan antara tuntutan diluar individu dengan kemampuannya. Dijelaskan juga oleh *Matheny (Safaria dan Saputra, 2012) bahwa coping adalah upaya yang bersifat sehat maupun tidak sehat, positif maupun negatif, usaha secara sadar maupun tidak sadar, untuk mencegah, menghilangkan, atau mengurangi stressor, atau memberikan ketahanan yang ditimbulkan oleh stres. Aktivitas seperti melakukan hobi atau sesuatu yang positif adalah termasuk dalam contoh strategi coping, dan berkebun juga bisa masuk dalam aktivitas tersebut.

Selama ini secara tidak sadar ternyata aku telah menggunakan aktivitas berkebun sebagai coping stres-ku (jika merujuk pada teori diatas). Inilah kenapa aku merasa banyak mengalami perubahan dalam mengelola emosi dan merasa lebih sehat secara jiwa daripada di tahun-tahun kemarin. Proses saat memegang tanah, memperhatikan tanaman yang sedang tumbuh, menyiram tanaman, berada di luar ruangan dengan badan terkena sinar matahari pagi, menghirup udara yang segar, dan semua hal menyenangkan selama berkebun itu dapat mengubah emosi negatif menjadi energi positif. Berkebun juga mengajakku untuk bisa menjadi diri sendiri dan mengekspresikan diri. Rasa penat dan overwhelmed yang sering dirasakan saat bekerja sering kali membuat tubuh dan pikiran capek, akhirnya kita tidak bisa meluangkan waktu untuk enjoy something of our own. Nah, dengan berkebun aku jadi bisa memiliki waktu untuk melakukan hal yang kusukai, dan tanaman itu tidak pernah menghakimi (nggak seperti society :p ) jadi kita bisa dengan santai menjadi diri sendiri.  

Kegiatan berkebun membuat kita dapat meregangkan tubuh walau sebentar. Peregangan itu sangat penting saat pundak, bahu, dan leher kita kaku ketika bekerja di depan laptop atau komputer seharian. Peregangan tubuh dikombinasikan dengan deep breathing bisa menjadi latihan mudah dan praktis yang bisa dilakukan sehari-hari untuk mengurangi tekanan pada tubuh. Secara otomatis hal tersebut juga membantu menaikkan mood dan membuat kita rileks. 

berkebun-sebagai-coping-stress

Bagaimana efek berkebun dalam diriku? Perubahan yang sangat bisa aku rasakan adalah aku bisa merasa kalem dalam menjalani hari. Perasaan negatif yang muncul bisa perlahan aku kelola dan ubah menjadi energi positif yang menghasilkan atau produktif. Berkebun juga mengajariku banyak hal tentang hidup, bahkan aku mulai bisa menghargai diriku sendiri dan bangga pada diri karena pencapaian-pencapaian kecil yang terjadi di kebun, misalnya: akhirnya bisa menumbuhkan tanaman tomat yang subur setelah berkali-kali gagal, bisa menikmati hasil panenan sendiri walau masih sedikit, dan masih banyak lagi. 

Sekarang berkebun (baik tanaman hias atau sayur) diminati oleh banyak orang, dan bahkan sudah menjadi gaya hidup baru dikarenakan situasi yang mewajibkan untuk (sebisa mungkin) berada di rumah sementara waktu. Hal ini tentunya sangat bagus mengingat kesehatan mental kita juga lumayan terguncang akibat dari pandemi Covid-19.  

Wow, tidak menyangka bukan? Keuntungan dari berkebun untuk kesehatan mentalku itu baru sedikit yang kuceritakan, dan dengan merasakan sendiri dari pengalaman tersebut aku sangat merekomendasikan kamu yang ingin mencoba berkebun untuk mengelola stres atau untuk self healing di masa pandemi seperti sekarang ini. Yuk!

Cheers,
Lucia Berta

*Sumber: Safaria, Triantoro dan Saputra, Nofrans Eka. (2012). Manajemen Emosi Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda. Jakarta: Bumi Aksara
3:14 PM No comments


Pernahkah kalian merasa overwhelmed dengan media sosial? Banyak hal yang diposting teman-teman di media sosial, yang secara tidak langsung membuat mental kita semakin down karena kita MERASA nggak bisa seproduktif mereka, atau kita sudah ikut produktif tapi belum bisa sekeren mereka hasilnya? Jujur aku pernah merasakan seperti itu. Melihat Instagramku yang dipenuhi postingan teman-teman yang produktif, membuatku merasa semakin terbebani. Akhirnya berusaha berpikir dengan keras tentang konten yang mau kubagikan. Malah jadi capek banget, serius. Semua dipikirin, nggak enjoy lagi. Takut salah, takut kurang menarik kontennya, semua pikiran negatif menyerang bersamaan. Padahal awalnya tuh seneng aja, semua konten kubuat dengan semangat dan passion menggebu. 

Nah, itulah yang membuatku memutuskan untuk berhenti dari Instagram. Aku capek. Memang awalnya berat, tetapi karena aku punya kegiatan menyenangkan lainnya yang saat ini selalu kukerjakan, yaitu berkebun dan mendesain, aku pun bisa dengan mudah lupa dengan media sosial. Aku benar-benar merasa hidup di hari ini, saat ini juga. Menikmati semua hal yang terjadi hari ini, atau yang lebih sering dibilang "mindful". Aku menghabiskan waktu di rumah berkumpul dengan keluarga, belajar memasak, berkebun, nonton drama Korea/Jepang atau film yang bagus, dan (tetap) belajar hal baru yaitu mendesain. You know what, hasilnya aku merasa lebih baik. Waktu seharian yang dulu habis kugunakan hanya untuk scrolling media sosial seharian dan mikirin konten sudah berubah. Aku seperti refresh, mulai dari awal lagi setelah lama beristirahat. 

Ketika aku sudah siap untuk kembali memiliki media sosial lagi, aku mulai dengan hanya melakukan apa yang kusenangi dan apa yang bisa bikin aku rileks. Tercetuslah bikin akun Instagram lagi dengan konten berkebun, dan dengan mengikuti orang-orang asing (bukan teman) yang suka berkebun juga. Aku merasa bebas saja untuk posting berkebun yang aku suka. Nggak ada beban untuk please other people, dan aku suka itu. 

Take a break and start something new, dua hal yang sangat penting dan aku tidak menyesal telah melakukan semua itu. Apakah kalian juga sedang berada dalam kondisi yang sama denganku, yuk istirahat dulu. Hidup nggak melulu tentang membagikan kehidupan kita di media sosial kok, tetapi menikmati kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Fokus saja pada apa yang kalian sukai dan inginkan, dan kalau itu adalah sesuatu yang baru, tidak ada salahnya kita mulai lakukan. Yuk! Selamat mencoba!

Cheers,
Lucia Berta
10:07 AM 1 comments
Hari ini untuk pertama kalinya aku bisa bikin combro yang enak. Kangen banget rasanya ingin makan combro yang biasa aku beli di depan swalayan Indomaret di Jalan Sisingamangaraja Jogja, tapi apa daya, sudah lama sekali penjual combronya tidak lagi mangkal disitu. Usut punya usut, si ibu yang jualan sudah tidak ada yang membantu berjualan lagi jadi sudah capek kalau mau meneruskan jualan sendiri. Weits, kok malah cerita masalah combro? haha tapi memang gara-gara combro ini aku jadi punya bahan diskusi di kepalaku yang akhirnya mau aku tulis menjadi artikel di blog hari ini.

Aku secara tidak sadar ternyata sering mendokumentasikan setiap "pencapaian kecilku" yang menyenangkan, salah satunya seperti berhasil bikin combro ini. Dari situ pemikiranku tentang: "bagaimana agar bisa selalu bersyukur?" seakan mulai terlihat lebih jelas. Klise banget ya kalau kita diberikan nasihat untuk harus bersyukur tiap hari, atau mungkin mempertanyakan, bagaimana sih caranya bersyukur? Mudah diucapkan tetapi tidak mudah dijalankan. Apalagi jika kita disuruh bersyukur ketika sedang mengalami bad days, yang ada malah bilang: nggak ada sedikitpun hal dalam hidupku yang bisa membuatku bersyukur!!! (dengan tanda seru yang banyak). Apa kalian juga akan mengatakan hal yang sama denganku? Belum lagi kalau kita memiliki jiwa kompetitif dengan orang lain, selalu saja ada hal yang kita perbandingkan, dan bikin iri kalau tiap hal terjadi tidak sama dengan yang kita harapkan. Jadi, bagaimana sih caranya bersyukur??

about-grateful

Mendengar kata "bersyukur" itu saja sudah terasa sangat berat, karena sebagai manusia, kita selalu merasa ada yang kurang terus. Tetapi mungkin rasa "selalu kurang terus" dan merasa "selalu tidak beruntung" itu bisa kita minimalisir. Alih-alih fokus pada "harus bersyukur" tetapi praktik dalam kesehariannya selalu gagal, bagaimana kalau kita fokus melakukan hal ini saja, dan kita lakukan lebih sering (kalau bisa sih dijadikan sebagai kebiasaan).

Stop membandingkan dengan orang lain
Sebaik apa kehidupan kita dari orang lain, aku tetap tidak suka membandingkannya. Mungkin beberapa orang selalu bilang, "harus bersyukur dengan hidup kita, kita masih diberi ...... dibanding dengan dia yang ......". No! Stop!! Membandingkan hal tersebut tidak benar. Setiap orang memiliki struggle sendiri-sendiri. Hal baik dan buruk seseorang itu berbeda-beda, tidak ada takaran/ukuran buruk atau sangat buruk, baik atau sangat baik, dan tidak bisa dibandingkan dengan kata "mendingan kita daripada". Semua orang mau nggak mau ya harus menjalani itu semua.

Mendokumentasikan pencapaian kita
Pada masa pandemi ini aku banyak belajar sesuatu yang baru, dari berkebun sampai memasak. Dari setiap pencapaian kecil sampai (bisa kubilang) besar selalu aku dokumentasikan. Misalnya, berhasil bikin combro enak (lagi-lagi disebut haha), sempat melihat dan memotret awan berwarna cantik saat sore menjelang malam (yang aku tampilkan fotonya disini), tanaman tomatku berbuah, sampai hal seperti jalan-jalan ke gang kecil di Jogja nemu spot yang cantik macam di luar negeri (yang fotonya juga aku tampilkan disini). Semua hal yang membuat bahagia itu aku sebut sebagai pencapaianku, sekecil apapun. Keuntungan dengan mendokumentasikannya, tanpa kita sadari ketika kita melihat ulang foto-foto itu, banyak hal yang ternyata masih bisa kita syukuri sekaligus menjadi pengingat dan semangat saat kita sedang mengalami hari buruk.

about-grateful


Tuliskan perasaanmu 
Saat mengalami hari yang buruk, aku selalu tumpahkan pada selembar kertas. Apa yang kualami dan rasakan. Setelah itu aku baca-baca lagi. Nah, saat membacanya selalu ada hal yang lalu aku pikirkan, yaitu misalnya "oh iya ya, untung ....", "oh iya ya, kalau aku nggak gitu, pasti ....". Semua hal buruk yang terjadi akhirnya menjadi bahan evaluasi. Terkadang kalau suasana hati kita sedang tidak baik, pasti kita tidak bisa berpikir jernih dan bijaksana, dengan menuliskan semua hal yang dirasakan lalu membacanya lagi saat hati sudah membaik tentu akan membuat perubahan besar pada pemikiran kita. 

Enjoy the little things
Hidup bukanlah sebuah kompetisi, dan kita harus selalu ingatkan itu pada diri sendiri. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh dan berkembang, jadi nikmati saja ketika hari kita sedang baik maupun buruk. Seperti quote yang aku temukan dari Instagram Lunch Lady magazine ini:

about-grateful

Nggak papa kok kalau tidak bisa mengatasi hal buruk yang ada diluar kendali kita, tetap jalani dan nikmati saja, atau bisa aku bilang juga: "Life isn't about waiting for the storm to pass, it's about learning to dance in the rain".


Cheers,
Lucia Berta


1:27 PM No comments
Bagaimana cara kalian mengeluarkan dan mengelola emosi? Emosi sedih, marah, kecewa, bahagia, dan masih banyak lagi. Akhir-akhir ini aku merasa nyaman menggunakan seni menggambar untuk mengelola emosi. Tidak banyak menggunakan alat dan bahan mahal (hanya cat air/ spidol/ crayon/ pensil warna dan kertas). Belum lagi sebenarnya kemampuan menggambarku juga cuma pas-pasan, tapi itu nggak jadi masalah sih karena yang paling penting disini adalah proses kita dalam mengekspresikan emosi, bukan hasil akhirnya (apakah gambarnya bagus atau jelek). 


Terkadang kita masih memegang ego untuk mulai menggambar, dengan berkata pada diri sendiri "wah harus oke nih", jadinya kita malah berpikir. Berpikir pakai warna apa yang nanti terlihat cantik, berpikir mau menggambar apa yang nanti jadinya bagus. Begitu prosesnya berlangsung dan ada kesalahan (entah salah pilih warna atau salah membuat goresan) itu akan membuat kita tidak mau lagi meneruskannya dan ingin mulai membuat lagi yang baru. Benar nggak? Itu juga yang masih selalu aku rasakan. Bagaimana kalau tiba-tiba aku seperti itu? yang kulakukan adalah jeda sebentar, dan mengingat kembali apa tujuanku untuk menggambar, yaitu ingin berproses, jadi aku berusaha menerima semua kesalahan tersebut (kesalahan pilih warna, kesalahan goresan, dll), tetap fokus pada emosi diri yang ingin dikeluarkan, dan meneruskannya sampai selesai.

Seberapa efektif sih menggunakan gambar untuk mengelola emosi? menurut pengalamanku selama ini, aku merasa sangat efektif, karena aku orangnya (sebenarnya) introvert dan kesusahan untuk mengekspresikan emosi melalui kata-kata (biasanya kalau dengan kata-kata akhirnya hanya jadi seperti drama aja), jadi pilihan ini sangat cocok untukku. Selain ada perasaan lega setelah menggambarnya, aku juga jadi lebih bisa mengenali diriku sendiri, belajar untuk bisa refleksi diri yaitu dengan mengajak kita untuk bisa memahami dan memproses emosi, dan masih banyak lagi. 

Nggak mudah memang, tapi semua harus dilatih terus. Nah jadi ingin ikutan atau penasaran kan seperti apa prosesnya? Yuk lihat video yang aku bikin berikut.



Kalau kalian ingin melihat video selanjutnya untuk Draw With Me series, kalian bisa subscribe channel Youtube-nya. Selamat mencoba!


Cheers,
Lucia Berta
11:44 AM No comments
Tahun 2020 merupakan tahun terberat terutama bagi kita semua yang ada di dunia bernama bumi ini. Iya, kalian pasti juga tahu yang kumaksud, wabah covid-19. Semua orang panik, takut, dan cemas karena kejadian-kejadian mengerikan itu ada dan nyata sedang kita hadapi bersama. Hal itu sangat wajar, tetapi kita juga harus tetap tenang agar bisa selalu waspada.

anxiety picture

"Bagaimana bisa tenang? Tiap mendengarkan berita tentang covid-19 pasti badanku langsung terasa sakit, rasa-rasanya seperti aku juga sedang sakit terkena corona". Itu yang kini selalu aku dengar dari orang-orang, *psikosomatis. Banyak orang yang akhirnya mengalami psikosomatis, yaitu efek dari rasa sakit psikis yang akhirnya mempengaruhi tubuh. Biasanya kalau kita stres, hal itu berdampak rasa nyeri tertentu pada tubuh. Misalnya pada perut jadi mules, kepala jadi pusing, tenggorokan tiba-tiba menjadi sakit, dan masih banyak lagi, yang kalau nanti diperiksakan ke dokter, rasa sakit itu tidak terdeteksi sebagai suatu penyakit.

Selain psikosomatis, banyak juga yang akhirnya mengalami kecemasan berlebihan (anxiety). Nah, banyak bermunculan kan penyakit psikis kita kalau kita tidak bisa tenang dan mencoba untuk tidak stres. Aku tahu kondisi saat ini sedang berat, tetapi kita benar-benar harus kuat dan sehat (baik mental dan jasmani) untuk bisa melalui ini semua.

Aku pun sempat mengalami kecemasan, tetapi karena kecemasan itu pernah juga aku rasakan sebelumnya (sebelum ada kejadian covid-19 ini) jadi aku sudah tahu "how to treat myself" atau dengan kata lain, apa yang harus kulakukan saat kecemasan itu muncul. Apakah kalian juga sedang mengalami hal yang sama? kecemasan? Untuk beberapa kasus berat yang memang sudah harus ditolong dengan bantuan psikolog, kalian bisa langsung kontak pelayanan psikologi yang banyak ditawarkan saat ini melalui online. Tetapi jika kalian merasa yakin masih bisa kalian handle (masih ringan), yuk sini aku bantu. Aku akan membagi cara yang selama ini kulakukan selama mengalami kecemasan yang mungkin bisa kalian praktikkan di rumah. 

kelola kecemasan selama pandemi covid 19

Dari 5 cara tersebut bisa diambil garis besarnya bahwa pengelolaan kecemasanku didasarkan kepada: aku butuh waktu untuk bisa "take a deep breath" sendirian, kemudian berusaha untuk hanya fokus pada hal-hal positif, lalu melepaskan semua hal yang menjadi pikiran kita ke orang lain agar bisa merasa lega dan nyaman kembali. Semua perasaan itu aku dapatkan dari melakukan rincian kegiatan seperti yang tertulis diatas.

Nah kalau kalian sendiri, apa perasaan yang ingin kalian dapatkan saat melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu? Apakah ingin menjadi lebih legowo? lebih bisa menerima kenyataan yang sedang terjadi agar kita bisa melanjutkan hidup? atau ingin bisa kuat sehingga bisa melaluinya dengan baik? Kalian bisa saja melakukan hal yang berbeda dengan kegiatanku diatas. Lakukan apa yang bisa membuat kalian tenang dan nyaman saat mengelolanya, dan sesuai perasaan apa yang ingin kalian dapatkan. 

Aku yakin kalian pasti akan dapat menemukan sendiri cara yang bisa diandalkan ketika kecemasanmu muncul kembali. Selamat berlatih mengelolanya ya :) 


Cheers,
Lucia Berta
2:29 PM No comments
"Aduh kayaknya aku butuh liburan nih!" siapa yang sering berkeluh kesah seperti ini? dan liburan yang dimaksud tersebut tentu bepergian ke suatu tempat wisata, leyeh-leyeh sembari jajan dan jalan-jalan. Bener nggak? Nah, sayangnya untuk beberapa orang termasuk diriku sendiri, hal itu menjadi agak susah karena aku adalah seorang pekerja lepas yang tidak memiliki jam kerja tetap dan kadang bekerja meskipun tanggal merah maupun akhir minggu. Menanti "masa libur" menjadi tidak semudah orang kantoran yang juga menantikan akhir minggunya (itupun kalau nggak lembur ya hehe). 

Yah sama seperti itu dulu pandanganku terhadap liburan. Sekarang semua telah berubah. Aku mulai memaknai "libur" dengan lebih sederhana. Artikel yang ditulis oleh Ika Vantiani di majalah Folksy edisi 11 yang berjudul "Liburan Itu Rasa, Bukan Masa" membuatku lebih mengerti tentang liburan untuk diriku sendiri. 

liburan murah meriah

Seperti ini sedikit kutipan di artikelnya:

"Tapi liburan, aku bisa lakukan kapan saja karena untukku hari ini liburan adalah jeda. Ia bukan sesuatu yang mesti panjang, berhari-hari dan keluar dari rutinitasku setiap hari. Ia adalah berbagai kegiatan yang tujuannya menjadi jeda dari rentetan kegiatanku setiap hari. Bisa kecil, besar, tidak terduga, juga repetisi. Tak masalah, yang penting rasanya. Cara menikmatnya. Jadi kalau ditanya, apa liburanku hari ini? Berjalan kaki di taman sambil memotret tanaman yang bergerak-gerak tertiup angin, memberi makan burung-burung gereja yang beterbangan mengelilingi atap rumah, mendengarkan album terbaru Justin Bieber sambil menyanyi keras-keras dan joget-joget, mewarnai kuku karena sudah mulai bocel-bocel, juga membaca buku puisi buatan teman satu kantorku dulu."

Oh iya liburan itu bisa sederhana seperti itu ya? Iya benar juga ya, setiap aku menyempatkan waktu sebentar untuk memandang awan di langit saja aku sudah merasa sedang berlibur kemana gitu. Tenang, tidak melakukan apa-apa, tidak memikirkan apa-apa, hanya merasakan hembusan angin, menarik nafas panjang merasakan udara yang tidak biasa aku nikmati dengan perlahan, melihat awan bergerak pelan, melihat burung terbang kian kemari. Enak sekali. Setelah itu aku bisa tersenyum lagi, merasa sudah refresh, dan semangat berkegiatan lagi. Sungguh perasaan yang menyenangkan.

Ternyata liburan buatku hanya seperti itu, dan mungkin akan lebih banyak rasa liburan lagi yang kulakukan disela pekerjaanku. Sama kan seperti yang ingin kalian lakukan di tempat berlibur? Ingin benar-benar menikmati waktu santai di saat itu juga. Liburan nggak harus fancy, pergi ke tempat wisata, atau menginap di hotel mahal dan bagus. Yang paling penting badan dan pikiran kita bisa istirahat dan kembali segar. Dan kalau kita bisa mengambil waktu sebentar untuk merasakan liburan seperti itu kenapa tidak? kenapa harus galau menunggu masa libur? Iya nggak?

Lagipula, liburan akan menjadi tidak ada maknanya jika dilakukan pada "masa libur" di tempat yang sudah diimpikan sejak lama, tetapi kita malah belum bisa menikmati "rasa libur" itu sendiri. Misalnya, ketika kita sudah mendapat waktu libur, dan bisa berlibur, eh pikiran kita masih di pekerjaan, berkutat dengan smartphone untuk membalas chat kerjaan, masih bawa laptop untuk mengerjakan sesuatu, atau malah melakukan sesuatu yang akhirnya membuat badan kita capek banget setelah berlibur. Lho gimana ya, bukannya berlibur itu pengen istirahat dan recharge badan, tapi kok malah jadi tambah capek dan kurang bersemangat untuk beraktivitas lagi?  Liburan ternyata bisa kok dilakukan dimana saja, kapan saja, karena sebenarnya kita hanya membutuhkan "rasa berlibur" bukan "masa berlibur".  Bukankah lebih menyenangkan jika memaknai libur seperti itu? Bagaimana dengan kalian. apa liburan kalian hari ini?


Cheers,
Lucia Berta
8:54 PM No comments

”Lowongan Kerja, Kualifikasi: Multi-talenta, mau belajar hal baru, terbuka pada perubahan.”

Satu atau mungkin beberapa dari kalian, pasti sering menemukan tulisan seperti di atas, khususnya saat mencari pekerjaan. Saking seringnya, akhirnya kamu parno dan berusaha memenuhi ‘tuntutan umum’ tersebut. Dibalut dengan rasa penasaran dan keinginan belajar yang tinggi, akhirnya kamu mempelajari ini dan itu, menjajal berbagai hal, sampai akhirnya skill dan pengetahuanmu seluas samudera. Selamat, kamu adalah “Jack Of All Trades, Master of None”.

gadis dengan korean makeup fotografi model

Kamu pernah dijuluki sebagai Jack Of All Trades, atau baru sekali ini mendengarnya? Kiasan ini dipopulerkan oleh Robert Greene dalam “1592 booklet Greene’s Groats-Worth of Wit”. Pada umumnya, Jack of All Trades bermakna seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal dalam berbagai bidang, tapi tidak menjadi ahli atau “master” dalam apapun. Kata “Jack” diambil dari terminologi playing cards dan memiliki makna orang-orang pada umumnya. Singkatnya, di segala bidang kamu cuma jack aja, mengerti dan bisa melakukan banyak hal tapi nggak pernah jadi king.

Hmm, lalu apakah hal ini benar-benar terjadi di dunia nyata? Ya, tentu saja. Coba lihat sistem pendidikan di Indonesia secara umum. Kita dituntut mempelajari banyak hal, dari mulai ilmu sosial sampai ilmu alam. Belum lagi kalau bicara soal bekerja, kadang statusnya apa, job desc-nya apa, yang dikerjakan apa? Tapi, tentunya kita memang tidak boleh menutup diri dengan hal baru kan, takutnya nanti ketinggalan zaman.

photoshoot di toko home and decor inspirasi

If I am the one of them, is it always that bad? Inilah kekhawatirannya. Beberapa orang menganggap Jack Of All Trades adalah sesuatu yang negatif, bisa ini dan itu tapi tidak cukup ahli dalam apapun. Namun, tidak sedikit juga yang berpikiran lebih luas dan menganggap Jack Of All Trades adalah masternya integrasi (menggabungkan). Sebenarnya, mereka dapat dikatakan lebih bersifat “generalis” daripada “spesialis”, di situlah poinnya. Mungkin, karena ada embel-embel “Master of None” jadi terkesan negatif, tetapi jika mau melihat peluang lebih luas, sebenarnya positif atau negatifnya tergantung pada konteks. Keuntungannya, Jack Of All Trades dapat mengerti berbagai kemampuan berikut kesulitan dan kelebihan di dalamnya, sehingga ia mampu menggabungkan orang yang tepat dengan bidang yang berbeda-beda dalam sebuah tim untuk mencapai tujuan bersama.

Bagaimana, apakah kamu berpikir kalau dirimu salah satu dari Jack Of All Trades di dunia ini? Tanyakan pada dirimu, apakah kamu mau menjadi seseorang yang generalis, atau spesialis pada bidang tertentu saja. Jika masih ragu, coba tanyakan lagi pada diri sendiri, “What are you best at?” Ketika kamu bisa menjawabnya dengan pasti, yah setidaknya tidak perlu terlalu cemas. Apapun dirimu, kuncinya adalah memaksimalkan potensi diri.


how to be yourself and be unique

girl with unique face doing photoshoot




Writer: Angela Shinta
Artikel ini pernah dipublikasikan di majalah Folksy edisi 16
Foto: dokumentasi Folksy Magazine
11:41 AM No comments
Beberapa hari yang lalu, aku berulang tahun ke-22. Jujur, aku merasa tua, hehe. Lewat tengah malam pada Pukul 00.10 WIB, seorang yang spesial memberiku tiga hadiah. Sebuah lagu berdurasi dua menit, lukisan diriku, dan kue ulang tahun yang dibuatnya sendiri. Sayang, aku tidak bisa makan kuenya, ia berada di tempat yang jauh dan memberikannya melalui video call. Akhirnya, dia yang makan kuenya untukku dan rasanya asin, katanya. Aku senang dan bersyukur, aku mengawali hari ulang tahunku dengan orang yang sangat mengerti diriku. Meskipun secara fisik aku sendirian, namun sangat mengesan. Aku meniup lilinnya secara virtual. Lagi-lagi, dia meniupkannya untukku.


Lalu, aku tidur saat subuh dan bangun agak siang. Kemudian, membuat list hal-hal yang akan kulakukan hari itu tanpa diganggu siapapun. Kurasa, memang tidak ada yang akan mengganggu. Aku membereskan kasur, meja, dan beberapa peralatan di kamarku lalu pergi ke salon untuk creambath. Sudah sangat lama terakhir kali pergi ke salon, hari ini aku ingin menyenangkan diriku, pikirku hari itu. Selesainya, aku makan sayur-sayuran favoritku yang dicampur jadi satu dalam semangkuk sup ayam.

Perutku kenyang dan badanku terasa hangat, aku merasa bersyukur. Sambil menikmati sore, kulanjutkan perayaan pribadiku dengan pergi ke sebuah coffee shop yang letaknya cukup jauh dari kontrakan, sekitar empat kilometer lebih jaraknya. Seperti biasa, aku membawa buku yang sedang ingin kubaca, agenda, buku corat-coret pribadi dan beberapa pena berwarna. Kali ini, aku tidak membawa laptopku. Aku memilih tempat duduk dan menuliskan segala hal yang kulihat pada waktu itu. Cuacanya agak mendung, tak lama gerimis datang dan aku yang semula duduk di luar, pindah ke dalam ruangan. Ini adalah pertama kalinya aku pergi ke tempat itu, cukup nyaman untuk menyendiri dan membaca buku atau menulis sekenanya. Pesananku, kopi tubruk dan churros sebagai kue ulang tahunku.

Kunikmati malam itu sendiri, takkan kusebutkan tanggalnya, tapi ulang tahunku jatuh pada Hari Sabtu. Jadi, coffee shop itu cukup ramai pengunjung. Tak masalah, karena tempatnya luas, sampai akhirnya serombongan keluarga datang dan menggeser-geser meja. Menimbulkan dencitan yang mengganggu, akhirnya aku memutuskan untuk pulang tepat pada Pukul 21.00 WIB. Selesai, itulah yang kulakukan untuk diriku sendiri saat hari ulang tahunku. Lalu, apa yang kurasakan dan kupikirkan?

Aku tidak yakin, bahwa ini penting untukmu yang sangat menginginkan pesta pada hari ulang tahun. Karena kamu pasti akan menganggap ini sebagai tulisan seseorang yang merasa kesepian di hari ulang tahunnya, atau membayangkan betapa muramnya wajahku saat itu. Tidak, aku justru sedikit berefleksi tentang hari ulang tahunku pada tahun-tahun sebelumnya. Dimulai saat masih balita, dikelilingi keluarga dan orang terdekat. Kemudian saat remaja hingga awal dan pertengahan kuliah, dikelilingi teman-teman. Namun, semakin lama semakin sedikit orang yang ada di hari ulang tahunku dan aku merasa membaik.

Bukan berarti aku tidak suka dengan orang yang senang berpesta atau dikelilingi banyak orang saat hari ulang tahunnya. Tapi, mungkin memang itulah yang sungguh mereka inginkan. Sedangkan aku, tidak begitu menyukai pesta ulang tahun dengan banyak orang. Pada tahun-tahun sebelumnya, sudah sangat lama, aku terpaksa melakukannya karena tidak ingin terlihat menyedihkan atau dianggap anti-sosial. Mengapa bisa terlihat menyedihkan? Bayangkan, ketika kamu makan sendirian saja banyak orang yang mengasihanimu (padahal kamu baik-baik saja), apalagi melewatkan hari ulang tahunmu sendirian.

Saat ini, usiaku menginjak 22 dan aku sampai pada tahap tidak lagi memikirkan apa yang orang lain harapkan dariku. Selama aku bahagia, tidak merugikan orang lain, dan melakukan hal positif, aku akan terus lakukan. Sedikit banyak, pasti kamu terpikir berapa orang yang mengingat hari ulang tahunku, lalu akhirnya memberi ucapan? Tidak perlu susah-susah menghitung kok, enam orang. Ya, dari hampir seribu followers Instagram  yang aku punya, ratusan kontak di akun LINE dan WhatsApp, kolega di pekerjaan, komunitas, atau kuliah, ternyata di dunia nyata hanya enam orang. Perbandingan yang cukup signifikan untuk mendorong off  dari dunia maya dan orang yang tak benar-benar mempedulikanmu bukan? Haha, aku bercanda. Tak semua orang yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, berarti tidak peduli padaku. Maksudku, hari ulang tahun bukan sebuah momentum sakral bagiku. Jadi, bukan berarti mereka yang lupa hari ulang tahunku, tidak baik padaku.

Aku sampai pada tahap dimana aku tidak lagi mencoba memberitahu pada dunia, khususnya warganet bahwa pada hari yang bersangkutan aku berulang tahun. Seseorang memberiku hadiah, beberapa mengucapkan selamat dan doa, aku menyimpannya untukku sendiri dan berterima kasih secara langsung. Bahkan, jika bisa aku ingin berterima kasih langsung dengan bertatap muka. Tidak perlu menggunakan Insta story yang secara langsung memberitahu dunia bahwa, “Hey, aku ulang tahun hari ini.” Bukan berarti yang seperti itu tidak baik, sekali lagi. Setiap orang punya cara masing-masing dengan hidup masing-masing. Tapi, sebagian introver mungkin melakukannya, sama sepertiku atau mungkin dengan cara yang sedikit berbeda.

Pada akhirnya aku paham, tidak semua orang punya waktu dan tenaga untuk mengingat atau mencatat beberapa hal dari seseorang, termasuk tanggal ulang tahun. Kemudian, tergantung seberapa penting orang itu bagimu. Dulu saat masih kanak-kanak, aku selalu ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada teman-teman dekatku (kurasa, dan jumlahnya banyak). Akhirnya aku membuat kalender ulang tahun. Sisanya jika ada kesempatan, kubuat hadiah kecil hasil karya tanganku sendiri. Saat ini aku tidak melakukannya lagi, karena jumlah orang yang berarti dalam hidup makin berkurang. Namun, kualitasnya bertambah karena kamu akhirnya menyadari siapa saja yang pantas menyandang kata “berarti” untuk hidupmu. 

Usia 22 menjadi sesuatu yang membuatku berpikir kembali  tentang pencapaian dan hal-hal apa yang sebenarnya kuinginkan dalam hidup. Tentunya, tidak bisa terjadi jika banyak orang mengelilingiku. Tentang pengalaman pertama kali menghabiskan hari ulang tahun sendirian, aku mencoba bercerita bahwa ada sesuatu yang sangat penting tentang hidup lebih tenang dan fokus. Lebih lagi, menjadi seseorang yang lebih hangat untuk diri sendiri dan orang yang berharga bagimu.


Writer: Angela Shinta
Pernah dipublikasikan di Folksy Magazine edisi 15
7:51 PM No comments
accept yourself and be happy

Masa remaja adalah masa dimana kita mencari eksistensi diri. Berkumpul dan mengerjakan kegiatan seru bersama kelompok atau geng yang asik, dikenal oleh banyak orang, mendapat perhatian dari lawan jenis, dan lain sebagainya. Tetapi bagaimana jika semua hal tersebut tidak kita dapatkan karena kita merasa berbeda dengan kelompok, dan merasa tidak diterima oleh kelompok karena kita memiliki kekurangan? 

Ini juga yang dulu pernah aku alami saat menginjak sekolah menengah pertama (SMP), aku merasa memiliki banyak kekurangan yang akhirnya membuatku kurang percaya diri, bahkan untuk menerima diri sendiri pun sulit. Aku tidak memiliki banyak teman saat itu, aku juga sama sekali tidak mengikuti satupun kegiatan sekolah. Hari-hariku cuma diisi dengan berada di rumah membaca majalah remaja, Gadis dan GoGirl!, oya aku juga cuma punya 2 sahabat pena yang aku sendiri tidak pernah bertemu. Malulah kalau bertemu. Pernah ada waktu dimana salah satu sahabat penaku dari Bandung yang datang ke Jogja dan mengajakku untuk bertemu, tetapi aku memberi banyak alasan untuk tidak bertemu karena aku tidak percaya diri. Bagaimana jika nanti akhirnya dia tidak menyukaiku? apakah kita akan masih bisa saling bercerita melalui surat? Pikirku seperti itu dulu. Singkat kata, akhirnya aku ingin mengubah diriku, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa besok SMA aku harus memiliki banyak teman, mengikuti banyak kegiatan, dan banyak hal yang tidak aku lakukan di masa SMP-ku. Benar saja, di SMA aku memiliki banyak teman, geng, ikut kegiatan sekolah (tonti, les komputer, teater). Tunggu dulu! Bagaimana hal itu bisa terjadi? apakah akhirnya ada keajaiban datang yang membuatku menjadi percaya diri? Tidak, tidak ada keajaiban sama sekali.  Tidak ada fairy good mother seperti di kisah Cinderella yang mengubahku menjadi orang yang sempurna seperti puteri raja. Hal yang aku lakukan hanyalah berani untuk menerima diriku sendiri apa adanya, dengan perbedaan dan kekurangan yang aku miliki.

love and friendship

Menerima diri sendiri itu sangat penting. Kenapa? Karena dengan menerima diri (self-acceptance) kita bisa mendapatkan banyak hal positif untuk diri kita yaitu: menjadi percaya diri (confidence), bisa mencintai diri sendiri (self-love), bisa menghargai diri sendiri (self-esteem), dan berani menjadi diri sendiri. Wow sebesar itu ya dampaknya? Iya dong! 

Nah sekarang, bagaimana prosesnya? Apakah secepat itu? Apakah mudah? Tentu yang namanya proses itu tidak mudah. Banyak hal yang harus aku ubah, yaitu dari diriku sendiri. Caraku memandang diriku. Beberapa hal yang akhirnya kulakukan untuk mengubah cara pandangku terhadap diriku sendiri sehingga aku bisa menerima diriku seutuhnya, antara lain dengan:

Forgive yourself
Memaafkan diri kita sendiri karena kita berbeda. Kita memiliki kekurangan yang sebenarnya orang lain pun juga sama. Kita selalu menuntut diri sendiri untuk bisa "sama" dengan orang lain, dan jika hal itu tidak berhasil, kita pasti sedih, marah, dan sakit hati. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Be kind to yourself, nggak papa kalau kita tidak bisa memiliki/melakukan seperti yang orang lain punya/ lakukan.  

Write gratitude lists
Kalian tahu tidak kalau sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita syukuri pada diri kita lho, kadang kita sendiri tidak sadar karena terlalu disibukkan untuk memikirkan kekurangan yang kita miliki. Mari kita ubah hal itu dengan menuliskan apa saja hal yang hebat dari diri kita dan patut kita syukuri. 

Focus on the good 
Setelah kita menuliskan apa saja hal hebat dari diri kita, saatnya kita fokus pada hal yang hebat itu. Dulu aku kira semua orang tidak mau berteman dengan diriku karena kekuranganku, tetapi nyatanya mereka sama sekali tidak peduli/menyinggungnya, karena aku juga tidak pernah memedulikan kekuranganku itu. Aku terus fokus pada hal-hal yang aku merasa bagus/hebat yang bisa aku lakukan. Secara otomatis orang-orang juga akan menerima diri kalian apa adanya karena kalian sebenarnya adalah orang yang spesial. Dan kita pun menjadi lupa kalau kita memiliki kekurangan :)

Learn about your individual quirks
Perbedaan atau kekurangan yang kita miliki bisa kita gunakan sebagai keunikan kita lho. Untuk tahap ini kita harus bisa tahu tentang diri kita sendiri. Apa hal yang selama ini kita anggap sebagai "kekurangan" yang ternyata malah menguntungkan atau menjadi ciri khas yang hanya kita yang punya.

nongkrong di kafe bareng sahabat pakai makeup ala korean girls

Waktu akan berjalan dengan sangat cepat, apa yang kita pikirkan tentang kekurangan yang ada pada diri kita akhirnya tidak akan menjadi gangguan untuk bisa bahagia. Kalau masih tidak bisa menemukan teman yang belum bisa melihat keistimewaan pada diri kita dan menerima kekurangan kita, abaikan saja, cari teman baru yang pasti akan membuat kita bahagia. Selamat berproses! :)


Cheers,
Lucia Berta
1:46 PM No comments
artikel mindful psikologi populer

Pernahkah kalian menemui kejadian seperti ini:

A: "Sudahlah, dia orangnya kasar, suka mukulin kamu, lebih baik putus saja daripada setiap hari kamu menangis terus"
B: "Nggak, aku yakin dia pasti nanti berubah, dia sebenarnya baik kok, dia juga sayang sama aku. Kita juga sudah berpacaran 6 tahun, dan kami sama-sama sudah berumur 28 tahun. Sebentar lagi kami akan menikah"

atau

A: "Kalau kamu merasa tidak nyaman dengan bos kamu dan suasana kantor yang tidak lagi sehat, mending kamu keluar aja deh, resign."
C: "Resign gimana? gaji disitu tuh lumayan banget, kerjaannya juga nggak berat-berat amat. Aku nggak bakal bisa dapetin kerjaan seperti itu lagi kalau resign."

Dua kondisi diatas mirip sekali ya, adanya kesadaran bahwa situasi yang dialami membuat menderita tetapi tetap saja mau menjalaninya. Apakah kamu salah satu yang juga sedang merasakan kondisi seperti di atas? Apakah pilihan yang kita ambil sudah tepat untuk tetap "stay" dikondisi seperti itu (nggak mau putus dan nggak mau resign) ?

Yuk coba kita lihat menggunakan teori psikologi yang dibikin oleh Sigmund Freud (seorang psikoanalisis yang berpengaruh dalam studi Psikologi), yaitu The pleasure-pain Principle (Prinsip Pleasure dan Pain). Sudah terlihat secara gamblang dari nama teorinya, teori ini menjelaskan bahwa secara psikologis, orang cenderung termotivasi untuk mencari atau melakukan sesuatu yang menyenangkan (pleasure), dan menghindar pada sesuatu yang menyakitkan (pain). Pain dan pleasure ini dirasakan baik secara fisik maupun mental/emosi. Contoh rasa sakit secara emosi (pain): kecewa, marah, frustasi, sedih, sakit hati, dll. Sedangkan rasa senang secara emosi (pleasure): bahagia, aman, nyaman, cinta, dll.

Hal yang benar dalam pikiran sadar kita adalah memaknai rasa sakit sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan atau mengakibatkan penderitaan. Sedangkan rasa senang adalah sesuatu yang menimbulkan rasa bahagia, nyaman. Nah sekarang yang menjadi permasalahan adalah ketika pikiran bawah sadar kita salah dalam memaknai pain dan pleasure. Menurut seorang hipnoterapis, Adi W Gunawan, pada pikiran bawah sadar, pain adalah segala sesuatu yang tidak ia kenal (unknown). Sedangkan pleasure adalah segala sesuatu yang ia kenal (known). Jadi, walaupun sesuatu ini buruk menurut pikiran sadar, namun bila dikenal oleh pikiran bawah sadar maka ini tetap dirasakan sebagai pleasure. Dan karena ini adalah pleasure sudah tentu pikiran bawah sadar akan berusaha keras  untuk mempertahankannya.

Contohnya kita ambil salah satu kasus di atas, si C yang tidak mau resign dari pekerjaannya meskipun selalu diperlakukan tidak baik oleh atasannya dan suasana kantornya yang sudah tidak sehat. Si C ini tahu benar bahwa kondisinya tidak baik tetapi dia senang bisa mendapatkan gaji yang banyak dan memiliki pekerjaan yang jelas (pada pikiran bawah sadarnya hal ini sangat dikenali sebagai pleasure). Sedangkan pain yang dirasakan si C adalah jika resign dia akan merasa frustasi dan dia ketakutan apakah dia bisa menemukan pekerjaan yang menyenangkan dan memiliki gaji seperti yang dia dapat di kantornya sekarang.

Contoh lain lagi yang ada dalam keseharian kita, ketika kita tahu benar bahwa mengkonsumsi makanan yang tidak sehat akan membuat tubuh kita menjadi gemuk atau terserang beberapa penyakit tetapi kita tetap mengkonsumsi makanan itu (baca: fast food, mie instan, dll) karena pikiran kita memaknai makanan itu sebagai pleasure, membuat kita senang dan sangat dikenali oleh pikiran bawah sadar kita. Sedangkan makanan sehat seperti sayur adalah pain, karena membuat kita tersiksa atau benci dengan mengkonsumsinya. 

Nah, sebenarnya kita sendiri sudah tahu bahwa (kalau) kita berada pada posisi yang sama dengan si B atau si C itu tidak baik, dan harus memilih untuk keluar dari situasi tersebut (putus dengan pacar atau keluar dari pekerjaan), tetapi hal tersebut kadang enggan kita lakukan. Hal ini dikarenakan sesuatu yang menyakitkan tapi dikenal dengan sangat baik oleh pikiran bawah sadar kita akan lebih dimaknai sebagai pleasure, bukan pain.

Lalu bagaimana cara kita menyikapinya? 
Tentu kita harus mengubah pola pikir kita akan rasa sakit/penderitaan (pain) dan rasa senang (pleasure) tersebut. Lakukan secara berulang (repetisi) hingga menjadi kebiasaan dan mengubah pikiran bawah sadar kita. Buatlah dirimu menyadari perasaan sakit itu sekarang, kontrol pikiran serta emosi diri kita sendiri. 

Untuk mengubah pola pikir tersebut, kita bisa melatih kesadaran kita akan pain dan pleasure dengan melakukan 3 langkah sederhana berikut:
1. Pikirkan goal yang ingin kamu capai atau keputusan yang akan kamu ambil, dan tuliskan pada selembar kertas
2. Pada lembaran kertas tersebut tulis juga, pain jika kita tetap ada di posisi itu, dan sebelahnya lagi tulis pleasure yang akan kita dapat kita kita bisa meninggalkan posisi tersebut.
3. Visualisasikan dan tuliskan poin-poin tersebut pada pain dan pleasure

Contoh: 
Goal: aku suka sekali cemilan manis, ayo kita kurangi makan cemilan manis!
Pain (jika aku masih suka jajan dan makan cemilan manis):
- bikin bokek tiap hari karena jajan terus
- gula darahku naik bikin badan rasanya tidak enak
- gigiku sakit dan harus ke dokter gigi, mahal sekali biaya periksa gigi
- dst

Pleasure (jika aku sudah berhenti makan dan jajan cemilan manis):
- aku jadi bisa nabung karena nggak melulu jajan
- gula darahku normal, dan badan terasa segar yay!
- nggak ada cerita harus ke dokter gigi karena gigiku nggak ada yang berlubang
- dst

Kamu juga bisa lho menggunakan prinsip pain dan pleasure ini untuk memotivasi setiap pilihan yang kamu ambil. Selamat mencoba ya!


Cheers,
Lucia Berta 


*Foto: dokumentasi Folksy Magazine



9:17 PM No comments

"Melepas itu mewah. Layaknya tembang salah satu film animasi Frozen, yang pernah hits, Let It Go. Tangan yang selalu sibuk menggenggam, akan melewatkan banyak hal lain yang bisa diraba. Sibuk mengidentifikasikan diri dengan pikiran-pikiran atau benda-benda yang melulu itu, atau bahkan konsep-konsep yang usang, menjadi terjerat dan terbelenggu, menghilangkan kesempatan untuk melihat ada banyak yang lain diluar itu dan hanya itu.

Tangan yang selalu penuh tidak menciptakan ruang kosong bagi yang baru yang ingin singgah. Tak ayal lagi, ritme yang monoton dan satu warna mendominasi keseharian, karena yang ada digenggaman cuma dan selalu itu."

Tulisan diatas aku temukan di status facebooknya kakak angkatanku (mas Thesada) dulu di fakultas Psikologi. Waktu membaca status panjang itu aku langsung terhenyak, ternyata ada ya keuntungan dari "melepaskan sesuatu". Selama ini aku sedang berjuang dengan istilah "let it go", yaitu merelakan untuk tidak lagi meneruskan penerbitan Folksy Magazine. Mencari apa saja yang bisa membuatku nyaman dengan berani melepaskan sesuatu. Berbagai tips aku baca, film inspiratif aku tonton, aku pun mengikuti yoga. Bahkan sampai menyimpan status Nina Moran (Founder GoGirl Magazine) tentang jangan takut dengan perubahan untuk menyemangati diriku sendiri melewati proses melepaskan. Lho sebentar, apa hubungannya "let it go" dengan perubahan? Tentu sangat berhubungan, karena ketika kita melepaskan sesuatu, hidup kita akan berubah. Tidak sama lagi seperti waktu kita masih memiliki/menggenggam sesuatu itu.




Kenapa melepaskan menjadi hal yang menakutkan bagiku? Karena aku berpikir (dan mungkin kalian juga memiliki alasan yang sama): 

1. Aku jadi harus "membuang" semua hal yang sudah aku bangun susah payah dari nol
Aku mulai membuat Folksy Magazine dari tahun 2014. Kukerjakan sejak menjadi single fighter, memiliki tim kecil, hingga memiliki tim besar. Sampai Februari 2019 Folksy juga telah memiliki lumayan banyak penggemar yang masih menantikan majalah Folksy terbaru terbit. Sampai dititik seperti ini tentu tidaklah mudah, dan untuk dilepaskan begitu saja tidaklah mudah untukku.

2. Aku tidak tahu lagi apa yang akan kulakukan selanjutnya jika aku melepasnya
Aku sempat berpikir: "aku akan ngapain lagi ya kalau aku sudah tidak menjadi editor sekaligus creative director Folksy? apa aku akan menganggur? apa lagi yang aku bisa?" dan pikiran itu selalu menghantuiku

3. Aku tidak tahu apakah aku bisa menerima perubahan yang terjadi sebagai dampaknya.
Aku sama sekali tidak ada bayangan apakah bisa beradaptasi dengan perubahan. Yang dulu seperti ini akhirnya tidak sama lagi. Bagaimana bisa aku menerima kondisi baru yang asing bagiku? 

Status mas Thesa itu benar-benar memperjelas pandanganku selama ini. Ternyata melepaskan tidak terlalu menakutkan karena tanpa aku sadari banyak hal baru yang sedang aku kerjakan sekarang. Aku menjadi memiliki "ruang" untuk mengisinya dengan sesuatu yang dulu tidak pernah bisa aku "sentuh" karena terlalu sibuk dengan kerjaan Folksy Magazine. Salah satu contohnya adalah blog ini. Kalau merunut frekuensi postingannya, di bulan Agustus ini adalah bulan yang paling produktif. Banyak artikel yang aku tulis dan aku posting. Aku pun masih memiliki beberapa judul konten artikel yang sedang kutulis untuk bulan depan, dan rencana konten video untuk Youtubeku juga. Ide mengalir begitu saja, tetap sama seperti dulu sewaktu masih menjadi creative director. Yang membedakannya adalah sekarang tidak dibatasi oleh media (kalau dulu hanya untuk di majalah Folksy), sehingga aku bisa mencoba menggunakan media lain dan belajar menggunakannya. Aku juga jadi bisa mengeksplor kemampuanku, misalnya menulis artikel dengan tema yang jarang kutulis, belajar membuat video sendiri karena dulu waktu masih punya tim aku hanya terima jadi saja, dan masih banyak lagi.

Hidup terus berjalan, akan selalu ada momen dimana banyak hal baru datang dan ada hal lain yang harus kita lepaskan. Percaya saja bahwa segala sesuatu pasti ada prosesnya :) Semoga pengalamanku ini bisa bermanfaat untuk kalian yang sedang dalam proses "melepaskan" ya. Goodluck!  


Cheers,
Lucia Berta
4:56 PM No comments
Aku adalah orang yang senang belajar sesuatu yang baru. Dari mulai belajar tentang jurnalistik, foto, video, membuat materi kreatif, belajar menyablon, menyulam, menjahit (semua hal tentang ketrampilan), sampai belajar untuk membuat acara secara mandiri dan bekerjasama dengan sponsor. Semua hal itu pernah menjadi hal pertama bagiku, dan untuk hasilnya sendiri ada beberapa yang kurang maksimal, ada yang biasa saja, ada yang sukses kukerjakan. Tapi hasilnya tidak terlalu menjadi masalah karena there's always a first time in everything, dalam tahap masih belajar memang tidak bisa membuat kita langsung menjadi ahlinya, selalu saja ada hal-hal yang perlu kita ketahui caranya (baik dengan brainstorming, berdiskusi dengan teman, atau bertanya dengan yang sudah mahir) untuk mengatasi kegagalan tersebut. 

Nah, kalian tahu tidak, ternyata belajar hal baru itu bagus untuk kita. Ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan, tetapi aku akan menggarisbawahi dua keuntungan yang populer di beberapa artikel dan keuntungan yang sudah aku rasakan sendiri.

Secara ilmiah dijelaskan bahwa dalam diri kita (tepatnya otak kita) ada materi putih yang disebut dengan mielin. Mielin dalam tubuh digunakan untuk membantu meningkatkan kinerja kita dalam mengerjakan tugas. Hubungan penting dalam 'belajar hal baru dengan mielin' ini terletak pada meningkatnya mielin di otak ketika kita juga semakin banyak belajar/berlatih sesuatu yang baru. Hal ini menjadi menguntungkan karena jika mielin meningkat maka kecepatan kita dalam mempelajari sesuatu juga semakin meningkat. Untuk beberapa orang, ada yang meyakini bahwa seseorang yang lebih aktif belajar sesuatu yang baru dapat meminimalisir terkena penyakit dementia.

Dari sisi psikologi, keuntungan yang bisa kita dapatkan dari belajar hal baru yaitu dapat membantu kita dalam meningkatkan rasa kepercayaan diri dan efikasi diri (self efficacy). Efikasi diri merupakan persepsi seseorang bahwa seseorang tersebut mampu untuk melakukan sesuatu yang penting untuk mencapai tujuannya. Hal ini mencakup perasaan mengetahui apa yang harus dilakukan dan juga secara emosional mampu untuk melakukannya. Woolfolk (2004) menambahkan bahwa efikasi diri adalah penilaian spesifik yang berkaitan dengan kompetensi untuk mengerjakan sebuah tugas yang spesifik. Nah, kita tentu akan semakin percaya diri kan kalau ketrampilan yang kita miliki juga semakin banyak dan meningkat ;)




Sedangkan untuk diriku sendiri, keuntungan yang kurasakan dari belajar hal baru adalah kebahagiaan saat mengerjakannya, dan memberikanku mindset baru tentang bisnis dan kehidupan. Saat merasa jenuh dengan pekerjaan yang sudah biasa dikerjakan, mengerjakan hal baru memberikan excitement tersendiri. Seperti yang sedang aku kerjakan akhir-akhir ini yaitu belajar untuk membuat video dengan konten kreatif di channel YouTube-ku. Aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau membuat video yang bagus dan layak ditonton itu sangat ribet dan membutuhkan banyak hal penting seperti contohnya peralatan penunjangnya: mic, tripod, dll; teman/asisten untuk membantu menyiapkan; konsep video yang akan dibuat, dan masih banyak lagi. Belum selesai disitu, setelah memiliki materi video, kita harus mengedit dan merangkainya menjadi video yang bagus. Pada bagian itu juga masih membutuhkan ketrampilan mengedit, aplikasi yang kita gunakan untuk mengedit, dan masih banyak lagi. Pusing nggak tuh? Dan hanya dengan membuat satu video saja telah berhasil mengubah mindset-ku selama ini baik tentang teman-teman yang menjadi vlogger atau content creator yang suka membuat video, sampai tentang proses kreatifnya.

Aku juga merasa kalau belajar hal yang baru bisa (dengan sangat mudah) memantik kreatifitasku. Selalu ada saja ide yang akhirnya muncul disaat aku sedang mengerjakan sesuatu, dan ide itu menjadi daftar berikutnya yang akan kukerjakan untuk pertama kalinya. Wow banyak sekali ya keuntungan yang bisa kita dapat dari belajar hal baru. Sepertinya tidak akan habis kalau kita bahas semua. Nah, sekarang giliran kalian, bagaimana kalau kalian juga mencari tahu sendiri keuntungannya dengan mencoba belajar sesuatu yang baru? Kalian berani? Selamat mencoba!





Cheers,
Lucia Berta
3:31 PM No comments
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose