• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun

Kata orang, lebih enak kalau hobi bisa dijadikan uang. Apa kalian juga sependapat dengan pernyataan itu? Kalau aku sih, no thank you. Aku pernah mengalaminya dan merasa kurang cocok. Mengerjakan sesuatu yang menjadi hobi memang sangat menyenangkan, bahkan gara-gara itu waktu kita habis tidak terasa. Uang pun banyak keluar dari saku pribadi hanya untuk keperluan hobi. "Kalau sudah begitu bukankah malah enak kalau hobi jadi kerjaan? kita jadi bisa dapat uang buat gantiin uang yang keluar", begitu kira-kira sanggahan yang umum terdengar. 

hobi-jadi-pekerjaan

Aku suka sekali membuat DIY tutorial sejak tahun 2009, bahkan bisa disebut hobi. Hobi yang juga menghantarkanku untuk menjadi DIY blogger dan Creative Director Folksy Magazine (yang menjadi pekerjaanku dulu). Memang awalnya senang-senang saja toh aku suka. Makin lama, hal yang biasa kukerjakan dengan kesenangan itu berubah menjadi stressor (faktor yang menyebabkan orang mengalami stres). Kok bisa?? Ketika hobi sudah menjadi pekerjaan, tentu perlakuan kita untuk mengerjakannya sudah berbeda, bukan lagi dikerjakan semau sendiri, tapi berubah menjadi lebih profesional dengan berbagai ketentuan dan aturan yang dibutuhkan sebagai dampak dari tuntutan dalam pengerjaan. Hobi yang biasanya nggak ada target, sekarang harus ada target bahkan visi dan misi. Dulu dikerjakan untuk istirahat dikala jenuh dengan pekerjaan sekarang tidak bisa lagi karena nggak punya hobi lagi :D Belum lagi kalau kamu juga orangnya suka "melakukan apapun untuk bisa menyenangkan orang lain" kayak aku, tingkat stressornya jadi akan semakin bertambah ketika pekerjaanmu tidak bisa memuaskan banyak orang. 

Senada dengan pemikiranku, ada sebuah artikel yang juga menyatakan hal yang sama di sebuah website, Tiny Trips, berjudul: I Tried to Monetize My Favorite Hobby and, Thankfully, Failed. Ditulis oleh Nia Simone McLeod, dia menceritakan bagaimana bermain game adalah hobi yang sangat dia sukai semenjak kecil, dan gara-gara ingin mendapatkan uang untuk bisa membayar kuliah, dia terpikir untuk bisa menghasilkan uang dari hobinya. Setelah mengalami proses tersebut dia menyadari bahwa keputusan yang diambilnya ternyata salah, dia tidak lagi merasakan perasaan bahagia (seperti dulu) sewaktu bermain game dengan orientasi mendapatkan uang. Kalian juga bisa membayangkan bukan, ketika excitement mengerjakan sebuah hobi tiba-tiba berubah karena keharusan biar dapat uang. "Feel-nya udah nggak dapet", kalau jaman sekarang menyebutnya seperti itu.

“I decided I’d go back to gaming just for fun — I needed it in my life as a stress-reliever, not another stress-inducer,” adalah penyataan terbaik sebagai pamungkas dari artikel tersebut yang aku juga sangat setuju. Beberapa dari kita mungkin ada yang senang saja selama ini bisa menghasilkan uang dari hobi, tetapi ada juga yang nggak bisa. Aku adalah salah satu contoh yang nggak bisa itu. Pekerjaan dan hobi (buatku) harus terpisah karena perlakuan untuk kedua kegiatan tersebut berbeda, dan tujuan yang dihasilkan juga berbeda. Sekarang setelah aku memiliki pekerjaan yang tidak lagi merupakan hobi, aku lebih senang karena akhirnya hobiku kembali dan aku bisa mengerjakannya sesukaku saja, eh bahkan aku juga punya hobi baru yaitu berkebun (hmm jangan sampai nih mengulang kesalahan lama, mengubah berkebun jadi pekerjaan juga :D) 

Bagaimana kalau kamu, apakah hobimu jadi pekerjaanmu?

Cheers,
Lucia Berta
10:08 AM No comments


Pernahkah kalian merasa overwhelmed dengan media sosial? Banyak hal yang diposting teman-teman di media sosial, yang secara tidak langsung membuat mental kita semakin down karena kita MERASA nggak bisa seproduktif mereka, atau kita sudah ikut produktif tapi belum bisa sekeren mereka hasilnya? Jujur aku pernah merasakan seperti itu. Melihat Instagramku yang dipenuhi postingan teman-teman yang produktif, membuatku merasa semakin terbebani. Akhirnya berusaha berpikir dengan keras tentang konten yang mau kubagikan. Malah jadi capek banget, serius. Semua dipikirin, nggak enjoy lagi. Takut salah, takut kurang menarik kontennya, semua pikiran negatif menyerang bersamaan. Padahal awalnya tuh seneng aja, semua konten kubuat dengan semangat dan passion menggebu. 

Nah, itulah yang membuatku memutuskan untuk berhenti dari Instagram. Aku capek. Memang awalnya berat, tetapi karena aku punya kegiatan menyenangkan lainnya yang saat ini selalu kukerjakan, yaitu berkebun dan mendesain, aku pun bisa dengan mudah lupa dengan media sosial. Aku benar-benar merasa hidup di hari ini, saat ini juga. Menikmati semua hal yang terjadi hari ini, atau yang lebih sering dibilang "mindful". Aku menghabiskan waktu di rumah berkumpul dengan keluarga, belajar memasak, berkebun, nonton drama Korea/Jepang atau film yang bagus, dan (tetap) belajar hal baru yaitu mendesain. You know what, hasilnya aku merasa lebih baik. Waktu seharian yang dulu habis kugunakan hanya untuk scrolling media sosial seharian dan mikirin konten sudah berubah. Aku seperti refresh, mulai dari awal lagi setelah lama beristirahat. 

Ketika aku sudah siap untuk kembali memiliki media sosial lagi, aku mulai dengan hanya melakukan apa yang kusenangi dan apa yang bisa bikin aku rileks. Tercetuslah bikin akun Instagram lagi dengan konten berkebun, dan dengan mengikuti orang-orang asing (bukan teman) yang suka berkebun juga. Aku merasa bebas saja untuk posting berkebun yang aku suka. Nggak ada beban untuk please other people, dan aku suka itu. 

Take a break and start something new, dua hal yang sangat penting dan aku tidak menyesal telah melakukan semua itu. Apakah kalian juga sedang berada dalam kondisi yang sama denganku, yuk istirahat dulu. Hidup nggak melulu tentang membagikan kehidupan kita di media sosial kok, tetapi menikmati kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Fokus saja pada apa yang kalian sukai dan inginkan, dan kalau itu adalah sesuatu yang baru, tidak ada salahnya kita mulai lakukan. Yuk! Selamat mencoba!

Cheers,
Lucia Berta
10:07 AM 1 comments
Hari ini untuk pertama kalinya aku bisa bikin combro yang enak. Kangen banget rasanya ingin makan combro yang biasa aku beli di depan swalayan Indomaret di Jalan Sisingamangaraja Jogja, tapi apa daya, sudah lama sekali penjual combronya tidak lagi mangkal disitu. Usut punya usut, si ibu yang jualan sudah tidak ada yang membantu berjualan lagi jadi sudah capek kalau mau meneruskan jualan sendiri. Weits, kok malah cerita masalah combro? haha tapi memang gara-gara combro ini aku jadi punya bahan diskusi di kepalaku yang akhirnya mau aku tulis menjadi artikel di blog hari ini.

Aku secara tidak sadar ternyata sering mendokumentasikan setiap "pencapaian kecilku" yang menyenangkan, salah satunya seperti berhasil bikin combro ini. Dari situ pemikiranku tentang: "bagaimana agar bisa selalu bersyukur?" seakan mulai terlihat lebih jelas. Klise banget ya kalau kita diberikan nasihat untuk harus bersyukur tiap hari, atau mungkin mempertanyakan, bagaimana sih caranya bersyukur? Mudah diucapkan tetapi tidak mudah dijalankan. Apalagi jika kita disuruh bersyukur ketika sedang mengalami bad days, yang ada malah bilang: nggak ada sedikitpun hal dalam hidupku yang bisa membuatku bersyukur!!! (dengan tanda seru yang banyak). Apa kalian juga akan mengatakan hal yang sama denganku? Belum lagi kalau kita memiliki jiwa kompetitif dengan orang lain, selalu saja ada hal yang kita perbandingkan, dan bikin iri kalau tiap hal terjadi tidak sama dengan yang kita harapkan. Jadi, bagaimana sih caranya bersyukur??

about-grateful

Mendengar kata "bersyukur" itu saja sudah terasa sangat berat, karena sebagai manusia, kita selalu merasa ada yang kurang terus. Tetapi mungkin rasa "selalu kurang terus" dan merasa "selalu tidak beruntung" itu bisa kita minimalisir. Alih-alih fokus pada "harus bersyukur" tetapi praktik dalam kesehariannya selalu gagal, bagaimana kalau kita fokus melakukan hal ini saja, dan kita lakukan lebih sering (kalau bisa sih dijadikan sebagai kebiasaan).

Stop membandingkan dengan orang lain
Sebaik apa kehidupan kita dari orang lain, aku tetap tidak suka membandingkannya. Mungkin beberapa orang selalu bilang, "harus bersyukur dengan hidup kita, kita masih diberi ...... dibanding dengan dia yang ......". No! Stop!! Membandingkan hal tersebut tidak benar. Setiap orang memiliki struggle sendiri-sendiri. Hal baik dan buruk seseorang itu berbeda-beda, tidak ada takaran/ukuran buruk atau sangat buruk, baik atau sangat baik, dan tidak bisa dibandingkan dengan kata "mendingan kita daripada". Semua orang mau nggak mau ya harus menjalani itu semua.

Mendokumentasikan pencapaian kita
Pada masa pandemi ini aku banyak belajar sesuatu yang baru, dari berkebun sampai memasak. Dari setiap pencapaian kecil sampai (bisa kubilang) besar selalu aku dokumentasikan. Misalnya, berhasil bikin combro enak (lagi-lagi disebut haha), sempat melihat dan memotret awan berwarna cantik saat sore menjelang malam (yang aku tampilkan fotonya disini), tanaman tomatku berbuah, sampai hal seperti jalan-jalan ke gang kecil di Jogja nemu spot yang cantik macam di luar negeri (yang fotonya juga aku tampilkan disini). Semua hal yang membuat bahagia itu aku sebut sebagai pencapaianku, sekecil apapun. Keuntungan dengan mendokumentasikannya, tanpa kita sadari ketika kita melihat ulang foto-foto itu, banyak hal yang ternyata masih bisa kita syukuri sekaligus menjadi pengingat dan semangat saat kita sedang mengalami hari buruk.

about-grateful


Tuliskan perasaanmu 
Saat mengalami hari yang buruk, aku selalu tumpahkan pada selembar kertas. Apa yang kualami dan rasakan. Setelah itu aku baca-baca lagi. Nah, saat membacanya selalu ada hal yang lalu aku pikirkan, yaitu misalnya "oh iya ya, untung ....", "oh iya ya, kalau aku nggak gitu, pasti ....". Semua hal buruk yang terjadi akhirnya menjadi bahan evaluasi. Terkadang kalau suasana hati kita sedang tidak baik, pasti kita tidak bisa berpikir jernih dan bijaksana, dengan menuliskan semua hal yang dirasakan lalu membacanya lagi saat hati sudah membaik tentu akan membuat perubahan besar pada pemikiran kita. 

Enjoy the little things
Hidup bukanlah sebuah kompetisi, dan kita harus selalu ingatkan itu pada diri sendiri. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh dan berkembang, jadi nikmati saja ketika hari kita sedang baik maupun buruk. Seperti quote yang aku temukan dari Instagram Lunch Lady magazine ini:

about-grateful

Nggak papa kok kalau tidak bisa mengatasi hal buruk yang ada diluar kendali kita, tetap jalani dan nikmati saja, atau bisa aku bilang juga: "Life isn't about waiting for the storm to pass, it's about learning to dance in the rain".


Cheers,
Lucia Berta


1:27 PM No comments
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose