• Home
  • About
  • Wellness
  • Gardening

Petik di Kebun

Yuk kita bahas lagi informasi tentang berjualan produk digital :) Oke, kalau kamu selalu membaca updatean blogku ini, tentu kamu sudah tahu kalau aku berjualan produk digital di Etsy. Ya, aku punya 2 toko di Etsy, yang satu sudah hampir 1,5 tahun ini, yang satu lagi baru 4 bulan jalan. Semuanya berjualan produk digital berupa digital notebook, jurnal, dan planner. Bagaimana penjualannya? Puji Tuhan selalu ada penjualan, bahkan selang seling, kadang hari ini produk yang terjual yang toko lama, besoknya yang di toko baru. 

Kali ini aku tidak akan membahas Etsy lagi, tetapi beralih pada marketplace luar negeri yang juga bisa digunakan untuk menjual produk digital. Aku sekaligus akan memberikan plus dan minus penjualan di marketplace tersebut dibandingkan dengan Etsy. Hmm sudah tidak sabar? Yuk langsung bahas saja! :)

Tahun lalu, tepatnya Desember 2021 aku menemukan informasi di grup Etsy bahwa ada marketplace bernama Design Bundles yang worth banget buat jualan produk digital. Nggak pakai babibu, aku segera coba mendaftar dan sekarang sudah menginjak 3 bulan berjualan di Design Bundles. Design Bundles adalah marketplace yang menjual produk digital mulai dari stiker, font, template, logo, desain, dan masih banyak lagi. Seperti ini nih tampilan websitenya:

berjualan di design bundles

how to sell digital product

Berbeda dengan Etsy, si Design Bundles ini sedikit unik (menurutku), dan traffic-nya juga nggak kalah kenceng sama Etsy (hmm atau malah lebih kenceng ya?). Keunikan yang harus kalian tahu tentang Design Bundles ini antara lain: 

Ada kurasi untuk buka toko
Ketika kita mengajukan buka toko di Design Bundles, mereka akan meminta portofolio link toko kita karena akan diverifikasi sebelum di approve (diterima). Lho gimana sih? Nah jadi sepertinya si Design Bundles ini segmen pasarnya udah jadi, dan mereka selektif banget untuk menerima toko baru (benar-benar dipilih), jadi mereka menyeleksi untuk mengetahui apakah toko baru yang apply tersebut produknya cocok dengan pasarnya si Design Bundles. Kalau cocok maka akan diterima, kalau tidak ya siap-siap saja ditolak. Cara seleksinya bagaimana? Ya kalau kita sudah punya toko di marketplace lain atau punya website sendiri maka akan diminta untuk menyertakan link-nya untuk dilihat mereka. Untungnya aku sudah punya Etsy, jadi aku berikan link toko Etsyku. Gila ya kurasinya hehe tapi aku suka nih yang kayak gini karena hampir dipastikan nggak ada saingan (penjual) yang random. Nah, kalau toko kamu lolos kurasi maka dalam waktu 3-7 hari akan ada pemberitahuan lewat email kalau kamu lolos dan bisa meneruskan untuk berjualan/membuka toko disitu.

Ada minimal harga jual
Ini nih yang paling asyik, mereka memberikan minimal harga produk kita. Jadi kita sudah diperingati nggak boleh jual produk dengan harga dibawah 4 dollar. Harga produk kita harus senilai 4 dollar ke atas. Kalau mau dijadikan dibawah 4 dollar, kamu harus bikin diskon nanti. Jadi upload dulu dengan harga 4 dollar lalu setelah diupload kamu bikin diskon deh, dengan demikian produkmu bisa dijual dibawah 4 dollar tetapi seakan-akan merupakan harga diskon :D. Sekali lagi aku suka nih yang kayak gini karena jadi bisa memberikan harga yang pantas untuk produk yang kita jual, selain itu bisa menghindari persaingan banting harga kalau ada produk kita yang setipe dengan penjual lain. Lalu bagaimana kalau nggak ada yang beli karena kemahalan? Hmm kurasa pasarnya sudah tahu ya range harga di Design Bundles jadi kalau memang suka produknya pasti dibeli tanpa komplain.

Memiliki 2 harga
Maksudnya gimana? Iya, jadi nanti produk kita dijual dengan 2 harga yaitu: premium license, dan corporate license. Premium license ini harga produk kita kalau produk itu akan digunakan untuk pribadi (personal use), sedangkan corporate license itu harga kalau pembeli ingin menggunakan produk kita untuk commercial use. Tentunya untuk corporate license ini harus kita beri harga yang lebih mahal karena sudah termasuk copyright, dan lain-lain.

Lalu kalau dibandingkan dengan Etsy gimana nih, plus dan minusnya?
Untuk kamu yang mau coba berjualan di Design Bundles, mungkin informasi ini bisa untuk bahan pertimbangan dan persiapan kamu.

Selain karena memiliki 3 keunikan yang sudah aku bahas di awal, yang juga bisa disebut sebagai keuntungan. Keuntungan yang lain yaitu:
1. Traffic-nya kenceng, terasa banget gaes dibanding Etsy. Aku berjualan Etsy dari 1,5 tahun yang lalu baru terjual di tahun pertama setelah buka toko, sedangkan di Design Bundles, produkku sudah terjual dalam waktu 3 bulan setelah buka toko. Itu pun aku nggak pakai promo apa-apa karena sebenarnya malah hampir kelupaan karena terlalu fokus ngurusin toko baruku di Etsy.

Email yang bikin kaget plus seneng di pagi hari

2. Nggak banyak potongan seperti di Etsy. Buat kalian yang belum tahu potongan yang dikenakan selama berjualan di Etsy, bisa baca artikelku disini: "JUALAN DI ETSY, WORTH IT NGGAK SIH?". Kalau di Design Bundles sistemnya adalah bagi pendapatan penjual 75 % : Design Bundles 25 %, atau bisa juga 50 % : 50 %. Upload atau posting produk tidak dikenai biaya, jadi hanya kalau terjual saja diminta 25%. Eh belum tahu ya nanti kalau kita ambil uangnya, apa masih ditarik biaya admin, karena aku belum menarik uang penjualanku.

Sedangkan untuk minusnya (yang aku rasakan, tapi tidak terlalu masalah juga untukku):
Payout (penarikan uang hasil penjualan) menggunakan Paypal atau Payoneer. Inginnya sih bisa menggunakan Jenius saja seperti di Etsy, tetapi ternyata hanya bisa menggunakan 2 sistem tersebut. Untungnya aku sempat membuat Payoneer sewaktu mencoba berjualan di Teespring :D yay! 

Oke, jadi kamu sudah tahu kan apa yang perlu kamu lakukan kalau mau buka akun di Design Bundles? Yap, bikin Paypal atau Payoneer dulu :D :D, habis itu siapin toko yang mau dijadikan portofolio. Kalau kamu sudah punya toko sih lebih enak, oya usahakan produk di toko yang kamu jadikan portofolio dengan produk yang akan kamu jual di Design Bundles itu sama ya, maksudnya misalnya aku, di Etsy jualan planner, ya yang aku tawarkan untuk dijual di Design Bundles ya planner juga.

Sekian dulu ulasanku mengenai berjualan produk digital di Design Bundles. Mungkin nanti akan ada update baru tentang ulasan ini karena aku baru jalan 3 bulan berjualan di Design Bundles, jadi tentunya masih akan ada kejutan-kejutan baru yang perlu ditambahkan :) Kalau kamu ada yang ingin bertanya seputar berjualan produk digital baik di Etsy atau Design Bundles, jangan segan-segan untuk menulis di kolom komentar atau email aku ya, aku akan dengan senang hati menjawabnya :)

Kalau kalian ingin coba berjualan di Design Bundles, aku kasih linknya berikut ya (klik di gambar) :)




Cheers,
Lucia Berta


3:22 PM 3 comments
Kata orang, lebih enak kalau hobi bisa dijadikan uang. Apa kalian juga sependapat dengan pernyataan itu? Kalau aku sih, no thank you. Aku pernah mengalaminya dan merasa kurang cocok. Mengerjakan sesuatu yang menjadi hobi memang sangat menyenangkan, bahkan gara-gara itu waktu kita habis tidak terasa. Uang pun banyak keluar dari saku pribadi hanya untuk keperluan hobi. "Kalau sudah begitu bukankah malah enak kalau hobi jadi kerjaan? kita jadi bisa dapat uang buat gantiin uang yang keluar", begitu kira-kira sanggahan yang umum terdengar. 

hobi-jadi-pekerjaan

Aku suka sekali membuat DIY tutorial sejak tahun 2009, bahkan bisa disebut hobi. Hobi yang juga menghantarkanku untuk menjadi DIY blogger dan Creative Director Folksy Magazine (yang menjadi pekerjaanku dulu). Memang awalnya senang-senang saja toh aku suka. Makin lama, hal yang biasa kukerjakan dengan kesenangan itu berubah menjadi stressor (faktor yang menyebabkan orang mengalami stres). Kok bisa?? Ketika hobi sudah menjadi pekerjaan, tentu perlakuan kita untuk mengerjakannya sudah berbeda, bukan lagi dikerjakan semau sendiri, tapi berubah menjadi lebih profesional dengan berbagai ketentuan dan aturan yang dibutuhkan sebagai dampak dari tuntutan dalam pengerjaan. Hobi yang biasanya nggak ada target, sekarang harus ada target bahkan visi dan misi. Dulu dikerjakan untuk istirahat dikala jenuh dengan pekerjaan sekarang tidak bisa lagi karena nggak punya hobi lagi :D Belum lagi kalau kamu juga orangnya suka "melakukan apapun untuk bisa menyenangkan orang lain" kayak aku, tingkat stressornya jadi akan semakin bertambah ketika pekerjaanmu tidak bisa memuaskan banyak orang. 

Senada dengan pemikiranku, ada sebuah artikel yang juga menyatakan hal yang sama di sebuah website, Tiny Trips, berjudul: I Tried to Monetize My Favorite Hobby and, Thankfully, Failed. Ditulis oleh Nia Simone McLeod, dia menceritakan bagaimana bermain game adalah hobi yang sangat dia sukai semenjak kecil, dan gara-gara ingin mendapatkan uang untuk bisa membayar kuliah, dia terpikir untuk bisa menghasilkan uang dari hobinya. Setelah mengalami proses tersebut dia menyadari bahwa keputusan yang diambilnya ternyata salah, dia tidak lagi merasakan perasaan bahagia (seperti dulu) sewaktu bermain game dengan orientasi mendapatkan uang. Kalian juga bisa membayangkan bukan, ketika excitement mengerjakan sebuah hobi tiba-tiba berubah karena keharusan biar dapat uang. "Feel-nya udah nggak dapet", kalau jaman sekarang menyebutnya seperti itu.

“I decided I’d go back to gaming just for fun — I needed it in my life as a stress-reliever, not another stress-inducer,” adalah penyataan terbaik sebagai pamungkas dari artikel tersebut yang aku juga sangat setuju. Beberapa dari kita mungkin ada yang senang saja selama ini bisa menghasilkan uang dari hobi, tetapi ada juga yang nggak bisa. Aku adalah salah satu contoh yang nggak bisa itu. Pekerjaan dan hobi (buatku) harus terpisah karena perlakuan untuk kedua kegiatan tersebut berbeda, dan tujuan yang dihasilkan juga berbeda. Sekarang setelah aku memiliki pekerjaan yang tidak lagi merupakan hobi, aku lebih senang karena akhirnya hobiku kembali dan aku bisa mengerjakannya sesukaku saja, eh bahkan aku juga punya hobi baru yaitu berkebun (hmm jangan sampai nih mengulang kesalahan lama, mengubah berkebun jadi pekerjaan juga :D) 

Bagaimana kalau kamu, apakah hobimu jadi pekerjaanmu?

Cheers,
Lucia Berta
10:08 AM No comments
Kalau kalian sudah membaca artikelku sebelumnya yang berjudul "Selling Digital Product: Ide Produk Digital yang Bisa Menghasilkan Passive Income" (bisa baca disini selengkapnya), aku sudah sempat berjanji untuk memberikan tips dan trik tentang apa lagi yang harus dilakukan untuk mulai membuat produk digital. Awalnya bingung mau menulis darimana karena sewaktu aku googling, ternyata sudah ada banyak sekali blog yang sudah membahasnya, yaitu peralatan dan aplikasi yang digunakan untuk membuat produk digital. Pas banget memang aku mau membahas peralatan dan aplikasi yang harus disiapkan pada bagian 2 ini. Sempat kepikiran untuk tidak meneruskan artikelnya tetapi aku merasa perlu untuk ulas juga, bedanya kali ini akan berbagi sesuai dengan pengalaman dan sudut pandangku ya. So, here it is, pengalamanku dalam mempersiapkan peralatan dan aplikasi yang perlu disiapkan untuk membuat produk digital. Disclaimer: aku tidak terlalu ahli menggambar dan mendesain, jadi tips ini bisa banget untuk kamu yang juga sama seperti aku dan punya semangat untuk memaksimalkan semua yang kita punya ;p

selling-digital-product


Peralatan yang dibutuhkan
Tentu saja kalau mau bikin dokumen digital (printable) kita perlu komputer atau laptop, dan wacom atau tablet untuk menggambar. Nah, kalau belum punya wacom atau tablet, nggak usah beli dulu. Kamu harus tahu apakah dengan membeli tablet atau wacom akan worthy atau nggak (kalau kamu memang benar-benar nggak bisa gambar tetapi maksa :( ). Jangan sampai malah sia-sia nggak pernah dipakai karena kamu menyerah nggak bisa menggambar. Jujur itu yang sempat kualami haha, nggak sampai tablet sih tapi aku beli stylus yang bisa kupakai untuk menggambar di smartphone-ku. Stylus itu akhirnya jarang terpakai karena ternyata aku hanya bisa menggambar itu-itu saja, nggak ada perkembangan. Awalnya menggebu mau bikin ilustrasi yang nantinya akan kujadikan art print atau wall art, tetapi nggak jadi. Nggak putus asa sampai sini, aku searching produk digital lain yang bisa kubikin tanpa menggambar, aku pun menemukan notepad, paper template, dan planner. Ketiga produk itu ternyata juga oke banget peminatnya, yang jualan juga banyak. Senangnya lagi, aku hanya membuatnya menggunakan Microsoft Office (ms publisher, ms word, dan ms power point)! Irit banget bukan? 

Tips 1 peralatan yang dibutuhkan: pastikan dulu apa produk yang mau kamu bikin, searching di beberapa marketplace atau tanya dengan teman atau kenalan yang kebetulan juga berjualan produk digital, baru peralatan pendukung itu bisa kamu beli. Kalau masih bisa mengakali atau memaksimalkan apa yang kita punya, itu akan lebih baik.

Aplikasi yang dibutuhkan
Kalau kamu ilustrator atau bisa gambar, selanjutnya kamu akan butuh aplikasi buat menggambar, edit dan lain-lain. Aplikasi yang paling sering digunakan adalah menggunakan corel, procreate, ibispaint, medibang, picsart, dan masih banyak lagi. Bisa juga photoshop jika kamu mau jualan produk digital dengan foto hasil jepretanmu sendiri. Beberapa aplikasi desain yang populer dan gratis juga sudah ada banyak yang bisa dipakai untuk kamu yang sama sekali nggak ngerti desain, yaitu salah satunya Canva. Canva sangat mempermudah hidup kita dalam membuat semua hal yang berbau produk digital karena template-nya lengkap banget, apa aja ada mulai dari kartu nama, feeds instagram, logo, hingga resume (CV). Nah, kalau kamu seperti aku mau bikin paper template dan planner, kamu bisa pakai Microsoft Office yang sudah tersedia di laptop atau komputer.

Tips 2 aplikasi yang dibutuhkan: coba pakai semua aplikasi desain gratis biar kamu tahu mana aplikasi yang lebih mudah dan nyaman untuk membuat produkmu.

Ukuran produk yang dibikin
Ukuran sangat penting dalam pembuatan produk digital terutama printable ya, karena salah ukuran maka berujung fatal (ngeblur, atau terlalu besar jadinya nggak bisa diupload). Setelah kamu tahu mau bikin apa, coba juga cari tahu biasanya yang jual produk sama dengan punyamu kebanyakan menggunakan ukuran berapa. Biasanya tidak ada standard khusus tetapi suka-suka penjualnya saja yang ingin memberikan banyak varian ukuran. Misalnya jika kamu mau bikin wall art/wall print, rata-rata ukuran yang diperlukan dari yang kecil A6, A5, A4, sampai A3 (ukuran Internasional ya), tetapi ada juga yang memberikan ukuran lain. Hal itu nggak masalah kalau kamu juga bisa ikut sediakan, ya sediakan saja, asal dalam deskripsi ukuran produkmu jelas agar pembeli tidak salah mengeprint dan tidak ngeblur hasilnya.

Tips 3 ukuran produk yang dibikin: banyak lihat deskripsi produknya kompetitor biar ngerti ukuran yang dibutuhkan atau yang paling dicari.

Payment method/ metode pembayaran
Metode pembayaran ini yang akan berkaitan dengan marketplace yang kamu pilih untuk menjual produkmu, karena setiap marketplace memiliki ketentuannya sendiri-sendiri. Contohnya yang aku tahu dari pengalamanku berjualan di Teespring dan Etsy (Etsy itu apa dan enak tidak jualan di Etsy, bisa baca artikelku yang membahas tentang berjualan di Etsy disini). Pembayaran di Teespring ada 2 metode yaitu menggunakan Paypal dan Payoneer, karena aku sudah nggak mau pakai Paypal jadi saat itu aku harus bikin Payoneer. Mirip dengan Paypal sih tetapi uang adminnya lebih sedikit daripada Paypal :p Oya FYI, Paypal dan Payoneer adalah rekening virtual yang menyediakan jasa transfer dan pembayaran secara online. Nanti sistemnya jika ada uang penjualan akan diberikan oleh pihak marketplace ke paypal atau payoneer kamu, nah dari paypal itu baru akan ditransferkan lagi ke rekening bank yang kamu punya. Biasanya ada syarat tertentu, salah satunya biaya admin, jadi uang yang bisa kamu dapatkan akan dikurangi beberapa persen untuk biaya gitu. Belum lagi akan lama cair ke rekening bank kamu karena harus dalam jumlah tertentu (ada minimalnya, cmiiw). Lalu untuk Etsy, mereka menggunakan Paypal dan kartu kredit. Nah aku nggak punya kartu kredit jadi aku pakai Jenius sebagai gantinya dan bisa kok. Kalau pakai Jenius, si pihak marketplace akan langsung transfer ke rekening Jenius kamu dan dari pihak Jeniusnya nggak ada potong uang admin. Bisa langsung dicairkan uangnya sama seperti kalau kamu transfer ke antar bank. Lebih ringkas daripada pakai Paypal atau Payoneer.

Tips 4 payment method: pelajari dengan benar metode pembayaran yang kamu pilih ya, apakah mau pakai Paypal, Payoneer, Jenius, atau rekening virtual lainnya, dan pelajari plus minusnya. Usahakan juga jika mengisi data penting untuk kepentingan ini jangan menggunakan data palsu.

Memilih marketplace yang cocok dengan produkmu
Sudah jadi produknya, sekarang jualannya dimana? Bisa jualan di website sendiri tetapi jangan lakukan kalau kamu belum punya banyak pelanggan loyal ya karena akan berat di ongkos websitenya. Hal yang paling mudah dan murah yang bisa kamu lakukan adalah berjualan di marketplace yang bisa menjual produk digital. Marketplace yang akan kusebutkan ini memang dari luar negeri karena di Indonesia aku belum menemukan yang bisa menjual produk digital, eh ada sih, Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak, tapi belum terlalu heboh jualan disitu. Apalagi konsumen orang Indonesia sepertinya juga belum bisa menerima pembelian produk digital (printables). Ada banyak marketplace tetapi kamu juga harus memilih mana yang cocok dengan jualanmu karena pasarnya berbeda. Berikut beberapa marketplace yang bisa kamu pilih diantara sekian banyak yang tidak tersebut disini:

selling-digital-product

Creative Market
Produk yang banyak dijual disini adalah font, instagram templates, product mockup, vector graphic, dan masih banyak lagi.

Spoonflower
Kalau kamu suka membuat gambar berpola (pattern) disinilah tempat yang cocok. Kamu bisa jual desainmu untuk nanti dibikin menjadi kain, wallpaper, sarung bantal dan lain-lain oleh pihak Spoonflower. Kamu tidak perlu membuatnya menjadi kain atau produk fisik lainnya tetapi hanya menjual desainmu saja.

Teespring, Redbubble, Teepublic, dll
Semua yang kusebut hampir sama yaitu situs Print-On-Demand yang sistem kerjanya kamu bikin desain entah gambar atau tulisan lalu memilih untuk diaplikasikan di banyak benda yaitu jaket, kaos, wall art, dll. Lalu nanti kamu akan disuruh mendisplay produk yang sudah kamu bikin di tokomu sendiri. Setiap ada pembeli yang membeli produk dari tokomu maka otomatis pihak situs tersebut akan membuatkannya untukmu dan langsung mengirimkannya pada pembeli. Kamu nggak perlu susah produksi dan mengirimkannya karena semua sudah ditangani pihak situs tersebut. Kamu akan mendapatkan uang dari hasil penjualan yang sudah dikurangi biaya penanganan oleh situs tersebut. Aku pernah membuat toko di Teespring tetapi tidak laris terjual karena aku tidak tahu pasarnya siapa, dan Teespring juga tidak membantu untuk memberikan traffic pengunjung alias kita sendiri yang harus cari traffic dan pembeli. 

Etsy
Adalah marketplace andalan para maker, crafter, dan desainer. Varian penjualan banyak, ada penjualan produk fisik dan digital, komplit banget. Pasarnya pun lebih beragam dari orang muda sampai nenek-nenek. Etsy juga memiliki komunitas untuk para penjual di Etsy sehingga kamu bisa bertukar info atau bertanya seputar tips pengalaman berjualan dengan sesama penjual. Setelah mencoba banyak marketplace aku lebih cocok untuk berjualan di Etsy, dan sekarang sudah punya 2 toko (FYI, kamu bisa bikin lebih dari 2 toko di Etsy menggunakan sistem pembayaran (rekening bank) yang sama). Kamu bisa baca pengalamanku berjualan di Etsy di artikel ini.

Masih banyak lagi marketplace yang bisa kamu coba dan searching yang belum aku sebutkan disini. Intinya kamu jangan takut untuk mencari tahu dan mencoba semuanya agar tahu mana yang lebih cocok dan nyaman untuk kamu gunakan. 

Tips 5 memilih marketplace yang cocok: pelajari semua ketentuan setiap marketplace karena ada hal-hal tentang pembayaran yang berbeda, tentang produk yang boleh dijual, dll. Lihat dan pelajari kompetitor yang menjual produk setipe (cek toko sebelah). Perbedaan plus minus marketplace banyak diulas di Youtube oleh orang-orang yang menjadi sellernya jadi jika masih ragu bisa cek dulu.

Hal-hal yang penting sudah aku bagikan semua, saatnya mulai bikin produk dan berjualan! Kalau ada yang masih ingin ditanyakan seputar berjualan produk digital jangan segan untuk menulis di kolom komentar ya. Selamat mencoba!


Cheers,
Lucia Berta


11:14 AM No comments
Instagram merupakan platform media sosial yang terpopuler kedua setelah Facebook saat ini, dengan jumlah pengguna aktif yang melebihi 500 milyar. Fitur utama dengan membagikan gambar membuat sosial media ini lebih menarik perhatian sehingga apapun yang kita bagikan di Instagram akan lebih mudah diterima oleh banyak orang dari berbagai usia. Melihat perkembangannya yang semakin meningkat ini, para pemilik bisnis tentu menjadikan Instagram sebagai tambang emas. Bagaimana tidak, kita bisa mengiklankan produk yang kita jual atau bahkan diri sendiri (sebagai personal branding) ke seluruh dunia secara gratis. Instagram juga memiliki engagement (keterikatan) dengan pengikut yang sangat bagus lho, apalagi jika konten yang kita miliki itu menarik, kekinian, dan lekat dengan isu yang dialami orang-orang. 

jasa-kelola-instagram

Masalahnya yang sering dialami oleh pemilik bisnis UMKM atau bisa dibilang menjadi kelemahan pemilik bisnis UMKM dalam mengaplikasikan Instagram untuk bisnis mereka adalah 1) tidak bisa membuat konten yang menarik, bisa jadi dikarenakan tidak memiliki staf yang jago copy writing, jadinya caption yang tertulis tidak pernah bisa mengundang perhatian. Atau mungkin malah tidak tahu cara membuat gambar atau foto yang eye-catching. 2) branding yang terlupakan, mungkin beberapa dari kalian yang terlalu sibuk mengurus produksi dan penjualan sehingga lupa untuk branding produk/merek di setiap postingan Instagram, atau 3) tidak memiiki perencanaan yang bagus untuk jadwal posting. Bisa posting kalau lagi sempat dan ingat saja. Kalau begini terus kapan produknya dikenal luas dan bisa bersaing dengan produk lainnya?

Apa permasalahan kalian ada yang sama dengan tulisan diatas? Tenang saja, ada jalan keluarnya yang sangat mudah. Kini ada jasa kelola instagram yang bisa membantu memikirkan semua yang dibutuhkan untuk membuat Instagram bisnis kalian menarik, terlihat profesional, dan bisa meningkatkan pengikut. Jasa kelola instagram itu namanya berdikari media digital agency. Tidak asal media agency ya, karena berdikari media digital agency ini punya beberapa alasan kuat yang membuat kita para pemilik bisnis UMKM mau bekerjasama, yaitu:

Hemat Waktu dan Biaya
Bayangkan kamu seperti memiliki staf ahli bidang sosial media dengan biaya yang lebih hemat dibanding memperkerjakan staf sendiri. Kamu akan lebih menghemat waktu tanpa harus mengurus sendiri sosial media khususnya di Instagram sehingga bisa lebih fokus terhadap perkembangan bisnis.

Menargetkan Audience dengan Tepat
Tim analis berdikari media digital agency selalu melakukan analisa usaha sesuai target audience pada akun sosial media kamu. Supaya konten yang dihasilkan tepat sasaran.

Terbangun Interaksi dengan Klien
Media sosial dapat membangun interaksi yang baik dengan follower (pengikut) secara kosisten. Hal tersebut dapat meningkatkan visibilitas dan loyalitas terhadap produk /merek kamu.

Monitoring dan Analisis
Evaluasi dan riset yang berkelanjutan menghasilkan konsep yang segar dalam pembuatan konten Instagram untuk strategi sosial media selanjutnya.

Desain Konten Profesional
Audience sangat suka dengan tampilan sosial media yang rapi dengan berisi konten-konten yang menarik. Sehingga bisnismu akan tampil lebih profesional.

Menjangkau Lebih Luas
Berdikari media digital agency memiliki berbagai tools handal yang siap untuk menghasilkan promosi yang optimal, sehingga akan menghasilkan promosi online yang kreatif, inovatif dan tepat sasaran.

jasa-kelola-instagram

Kamu terima beres saja, pengelolaan akun bisnis Instagrammu sudah ada di tangan yang handal dan tepat. Tidak perlu mikir terlalu lama, yuk segera bekerjasama dengan berdikari media digital agency biar penjualanmu bisa langsung laris manis!


4:46 PM No comments
selling-digital-product

Tidak bisa dipungkiri adanya pandemi Covid-19 yang sudah mendunia ini mampu membuat kerugian luar biasa untuk sektor perekonomian semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Tantangan terbesar saat pandemi adalah berubahnya sistem penjualan pada industri kreatif global. Beberapa bisnis kreatif akhirnya kolaps dikarenakan tidak adanya sarana ajang jual beli seperti pameran yang biasanya diadakan di setiap kota di Indonesia akibat dari pembeli tidak mau mengambil risiko penularan Covid-19. Belum lagi penjualan yang menurun drastis akibat tingkat permintaan produk semakin rendah. Orang-orang lebih memprioritaskan untuk membeli produk kesehatan seperti vitamin, obat, dan masker dalam masa pandemi. Bisa dikatakan bisnis kreatif anak muda sedang kehilangan masa kejayaannya saat ini. Beberapa diantara mereka ada yang tetap berjuang untuk bertahan, tetapi tidak sedikit pula yang akhirnya harus rela gulung tikar. Padahal bisnis kreatif telah dinyatakan sebagai kekuatan baru dan garda terdepan pemulihan ekonomi nasional oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hal ini tentu memberikan tantangan besar untuk sektor ekonomi kreatif Indonesia.

Hidup terus berjalan, mau tidak mau semua orang harus bisa beradaptasi dan berdamai dengan kondisi pandemi yang belum juga berakhir. Berbagai cara dilakukan untuk tetap bisa berkarya dan kembali menjalankan roda perekonomian. Berjualan produk digital akhirnya tercetus menjadi salah satu solusinya. Masa pandemi ini adalah waktu yang tepat untuk mengubah strategi penjualan karya dengan mengubahnya menjadi produk digital. Keuntungan dari situasi ini sudah pasti orang-orang banyak berada di rumah sehingga memiliki banyak waktu untuk mempelajari hal baru atau melakukan hobi baru. Sistem online juga akan lebih dipilih untuk berbelanja berbagai peralatan dan kebutuhan.

Berjualan produk digital memang bukan strategi bisnis yang baru, tetapi selama beberapa tahun terakhir ini pasar produk digital mulai dilirik anak muda seiring dengan antusiasme pada bidang kewirausahaan digital. Sistem penjualan produk digital juga sudah mulai diperkenalkan di beberapa marketplace terkenal di Indonesia seperti Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak. Produk digital memberikan banyak keleluasaan anak muda untuk bisa terus berekspresi dan berkarya. 

Di Indonesia sendiri peluang untuk membuat dan menjual produk digital terutama produk kreatif masih besar. Pasar yang bisa dijangkau juga luas, bahkan konsumen dari luar negeri adalah pasar yang paling potensial. Jika kamu seorang yang kreatif atau suka membuat produk kreatif dan ingin mencoba peluang berjualan produk digital, tidak perlu merasa bingung dan pusing karena sekarang sudah sangat mudah sekali dilakukan. Kamu juga tidak membutuhkan banyak keahlian seperti misalnya untuk membuat website untuk menjual produk-produk digital. Seperti apa sih kemudahannya, apalagi untuk pemula? Yuk simak kelanjutan artikel ini!

selling-digital-product

Apa Itu Produk Digital? Secara sederhana, produk digital diartikan sebagai produk dengan wujud bukan fisik atau biasanya berbentuk elektronik yang diperjualbelikan secara daring (online) melalui media internet. Penggunaan produk digital diakses melalui perangkat digital (smartphone, tablet, PC desktop, laptop, dan lainnya). Beberapa produk digital yang sudah familiar di masyarakat umum antara lain: musik MP3, video MP4, kursus online, E-book, aplikasi smartphone, font, dan masih banyak lagi.

Keuntungan berjualan produk digital adalah tidak perlu membayar biaya untuk memproduksi dan mendistribusikan setiap produk. Produk yang dihasilkan juga tidak terbatas atau tidak akan pernah habis dibeli sampai kapanpun jika kamu tidak menghapus atau menghilangkan file-nya. Hal ini berarti kamu bisa membuat satu produk untuk dapat dibeli orang lain berkali-kali. Selain itu kamu juga tidak memerlukan banyak alat dan bahan untuk membuatnya atau melakukan pra-pembelian barang.

Keuntungan selanjutnya, adalah bisa memiliki pendapatan atau penghasilan pasif (passive income). Pemasukan atau pendapatan pasif (passive income) adalah penghasilan yang diperoleh seseorang dengan melakukan aktivitas seminim mungkin tanpa berperan aktif didalamnya. Selama ini saham menjadi salah satu pendapatan pasif yang biasanya lebih diminati dan dikenal, akan tetapi untuk beberapa jenis produk digital yang dijual juga bisa digunakan untuk mendapatkan penghasilan pasif. Sistemnya terjadi dengan adanya penjualan terus menerus meskipun kita hanya sekali membuat produk, dan penjualan itu bisa berlangsung 24 jam tanpa kita harus melakukan sesuatu yaitu bisa saja sewaktu kamu sedang tidur ada produkmu yang terjual.

Seperti halnya kehidupan yang memiliki dua sisi yaitu baik dan buruk, berjualan produk digital juga memiliki kerugian yang bisa saja kamu alami, salah satunya adalah permasalahan pencurian karya dan copyright (hak cipta). Dunia maya adalah dunia yang luas, ada banyak sekali karya digital yang dihasilkan dan diperjualbelikan di internet. Pencurian karya yang akhirnya diakui dan dijual orang lain bisa saja terjadi. Bahkan hal tersebut sudah menjadi mimpi buruk yang selalu dialami para kreator atau seniman.

Produk-produk Digital yang Bisa Jadi Passive Income
Produk digital yang sekarang bisa kita temui macamnya banyak sekali tak terhitung, mulai dari kursus online hingga jasa desain. Akan tetapi ada beberapa produk yang bisa menjadi pilihan anak muda yang hobi berketrampilan dan karya seni (art and handmade) sekaligus bisa digunakan sebagai investasi untuk mendapatkan penghasilan pasif. Produk digital ini adalah dokumen digital (printable) yang berupa sebuah karya, baik karya ilustrasi, gambar, desain, foto yang bisa diunduh dan dicetak sendiri. Produk yang termasuk dalam printable ini ada banyak, diantaranya: 
1. Artwork (karya seni)
Suka menggambar, atau bikin ilustrasi? Kamu bisa jual karyamu berbentuk digital yang diaplikasikan sebagai hiasan dinding, stiker, sampul buku, clip arts, komik digital, kartu ucapan, dan lain-lain. 

2. Desain
Kalau jago mendesain dan bikin template, kamu bisa jual desain logo, template CV (Curriculum Vitae), kartu nama, undangan, planners (perencana), template sosial media, template website/blog dan masih banyak lagi

3. Pattern / pola
Punya ketrampilan di bidang kerajinan tangan (seperti menjahit, merajut, menyulam) kamu bisa menjual pola rajutan, pola pakaian dan tas, pola quilting, pola sulaman, pola kain, dll.

4. Filter foto
Anak muda yang suka bermain media sosial dan swafoto tentu tidak asing dengan filter foto. Meskipun aplikasi edit foto yang banyak digunakan orang-orang sudah memiliki fitur filter foto secara gratis, tetapi masih ada juga yang lebih memilih untuk membeli filter foto tertentu yang disukainya.

5. Produk tulisan
Suka menulis atau memiliki tulisan tangan yang cantik? Kamu bisa menjual e-book, zine digital, font, dan karya tulisan untuk hiasan dinding.

6. Fotografi
Foto digital sangat diminati oleh orang-orang untuk dicetak dan digunakan sebagai hiasan dinding. Beberapa blogger atau penulis juga suka menggunakan foto untuk melengkapi karya tulisan mereka.

Pilihannya sangat banyak bukan? dan sebenarnya bisa kutulis lebih banyak lagi, tetapi memang kategori yang sudah kutulis tersebut yang lebih sering dijumpai dan lebih laku di beberapa marketplace luar negeri yang terkenal. Kalau sudah begini, kamu jadi nggak punya alasan lagi untuk tidak memulai membuat produk digital yang bisa dijual ;) 


Selling Digital Product Part 2 sudah bisa dibaca DISINI


Cheers,
Lucia Berta
10:11 AM 4 comments
Bisa dibilang berkebun telah menyelamatkan hidupku. Tahun 2019 adalah salah satu tahun yang berat untukku, dimana tahun tersebut aku mengalami krisis tujuan hidup. Semua hal yang menjadi tujuan hidupku hilang, dan aku bingung mau ngapain lagi, mau bikin apa lagi, atau mau ngerjain apa lagi. Semua serba clueless hingga menyebabkan aku tidak percaya diri lagi, penghargaan diriku rendah, aku mulai menarik diri dari lingkungan, hingga aku (sadar) menjadi toxic (racun) untuk semua orang disekitarku dengan emosi diriku yang tidak stabil. Tahun 2019 juga merupakan tahun awal pandemi Covid-19 mulai populer. Semua harus di rumah untuk memutuskan rantai virus Covid-19. Dalam dua kondisi hebat yang sedang kualami saat itu muncul perasaan antara senang karena merasa seakan-akan Tuhan memberikanku waktu untuk bisa healing di rumah sementara waktu, dan perasaan cemas, takut, sedih karena akibat yang ditimbulkan dari adanya pandemi itu sangat menakutkan. 

coping-stress-dengan-berkebun

Beruntungnya aku sempat iseng menanam sayuran (dalam skala kecil/hobi saja). Kegiatan itu yang akhirnya aku teruskan untuk mengisi waktu di rumah. Dari sekedar ingin mencoba belajar menanam, malah akhirnya menjadi sarana meditasi dan mengelola stres. Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana prosesnya?

Ketika kita dalam keadaan stres atau kondisi kesehatan mental yang kurang baik, kita membutuhkan strategi yang bisa digunakan untuk mengelola stres tersebut dengan berusaha mengendalikan tekanan yang muncul dalam diri. Strategi tersebut sering dikenal dengan nama coping stress. Coping adalah sebuah cara dari individu dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan dari lingkungannya dan sebuah usaha untuk meminimalisir kesenjangan antara tuntutan diluar individu dengan kemampuannya. Dijelaskan juga oleh *Matheny (Safaria dan Saputra, 2012) bahwa coping adalah upaya yang bersifat sehat maupun tidak sehat, positif maupun negatif, usaha secara sadar maupun tidak sadar, untuk mencegah, menghilangkan, atau mengurangi stressor, atau memberikan ketahanan yang ditimbulkan oleh stres. Aktivitas seperti melakukan hobi atau sesuatu yang positif adalah termasuk dalam contoh strategi coping, dan berkebun juga bisa masuk dalam aktivitas tersebut.

Selama ini secara tidak sadar ternyata aku telah menggunakan aktivitas berkebun sebagai coping stres-ku (jika merujuk pada teori diatas). Inilah kenapa aku merasa banyak mengalami perubahan dalam mengelola emosi dan merasa lebih sehat secara jiwa daripada di tahun-tahun kemarin. Proses saat memegang tanah, memperhatikan tanaman yang sedang tumbuh, menyiram tanaman, berada di luar ruangan dengan badan terkena sinar matahari pagi, menghirup udara yang segar, dan semua hal menyenangkan selama berkebun itu dapat mengubah emosi negatif menjadi energi positif. Berkebun juga mengajakku untuk bisa menjadi diri sendiri dan mengekspresikan diri. Rasa penat dan overwhelmed yang sering dirasakan saat bekerja sering kali membuat tubuh dan pikiran capek, akhirnya kita tidak bisa meluangkan waktu untuk enjoy something of our own. Nah, dengan berkebun aku jadi bisa memiliki waktu untuk melakukan hal yang kusukai, dan tanaman itu tidak pernah menghakimi (nggak seperti society :p ) jadi kita bisa dengan santai menjadi diri sendiri.  

Kegiatan berkebun membuat kita dapat meregangkan tubuh walau sebentar. Peregangan itu sangat penting saat pundak, bahu, dan leher kita kaku ketika bekerja di depan laptop atau komputer seharian. Peregangan tubuh dikombinasikan dengan deep breathing bisa menjadi latihan mudah dan praktis yang bisa dilakukan sehari-hari untuk mengurangi tekanan pada tubuh. Secara otomatis hal tersebut juga membantu menaikkan mood dan membuat kita rileks. 

berkebun-sebagai-coping-stress

Bagaimana efek berkebun dalam diriku? Perubahan yang sangat bisa aku rasakan adalah aku bisa merasa kalem dalam menjalani hari. Perasaan negatif yang muncul bisa perlahan aku kelola dan ubah menjadi energi positif yang menghasilkan atau produktif. Berkebun juga mengajariku banyak hal tentang hidup, bahkan aku mulai bisa menghargai diriku sendiri dan bangga pada diri karena pencapaian-pencapaian kecil yang terjadi di kebun, misalnya: akhirnya bisa menumbuhkan tanaman tomat yang subur setelah berkali-kali gagal, bisa menikmati hasil panenan sendiri walau masih sedikit, dan masih banyak lagi. 

Sekarang berkebun (baik tanaman hias atau sayur) diminati oleh banyak orang, dan bahkan sudah menjadi gaya hidup baru dikarenakan situasi yang mewajibkan untuk (sebisa mungkin) berada di rumah sementara waktu. Hal ini tentunya sangat bagus mengingat kesehatan mental kita juga lumayan terguncang akibat dari pandemi Covid-19.  

Wow, tidak menyangka bukan? Keuntungan dari berkebun untuk kesehatan mentalku itu baru sedikit yang kuceritakan, dan dengan merasakan sendiri dari pengalaman tersebut aku sangat merekomendasikan kamu yang ingin mencoba berkebun untuk mengelola stres atau untuk self healing di masa pandemi seperti sekarang ini. Yuk!

Cheers,
Lucia Berta

*Sumber: Safaria, Triantoro dan Saputra, Nofrans Eka. (2012). Manajemen Emosi Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda. Jakarta: Bumi Aksara
3:14 PM No comments


Pernahkah kalian merasa overwhelmed dengan media sosial? Banyak hal yang diposting teman-teman di media sosial, yang secara tidak langsung membuat mental kita semakin down karena kita MERASA nggak bisa seproduktif mereka, atau kita sudah ikut produktif tapi belum bisa sekeren mereka hasilnya? Jujur aku pernah merasakan seperti itu. Melihat Instagramku yang dipenuhi postingan teman-teman yang produktif, membuatku merasa semakin terbebani. Akhirnya berusaha berpikir dengan keras tentang konten yang mau kubagikan. Malah jadi capek banget, serius. Semua dipikirin, nggak enjoy lagi. Takut salah, takut kurang menarik kontennya, semua pikiran negatif menyerang bersamaan. Padahal awalnya tuh seneng aja, semua konten kubuat dengan semangat dan passion menggebu. 

Nah, itulah yang membuatku memutuskan untuk berhenti dari Instagram. Aku capek. Memang awalnya berat, tetapi karena aku punya kegiatan menyenangkan lainnya yang saat ini selalu kukerjakan, yaitu berkebun dan mendesain, aku pun bisa dengan mudah lupa dengan media sosial. Aku benar-benar merasa hidup di hari ini, saat ini juga. Menikmati semua hal yang terjadi hari ini, atau yang lebih sering dibilang "mindful". Aku menghabiskan waktu di rumah berkumpul dengan keluarga, belajar memasak, berkebun, nonton drama Korea/Jepang atau film yang bagus, dan (tetap) belajar hal baru yaitu mendesain. You know what, hasilnya aku merasa lebih baik. Waktu seharian yang dulu habis kugunakan hanya untuk scrolling media sosial seharian dan mikirin konten sudah berubah. Aku seperti refresh, mulai dari awal lagi setelah lama beristirahat. 

Ketika aku sudah siap untuk kembali memiliki media sosial lagi, aku mulai dengan hanya melakukan apa yang kusenangi dan apa yang bisa bikin aku rileks. Tercetuslah bikin akun Instagram lagi dengan konten berkebun, dan dengan mengikuti orang-orang asing (bukan teman) yang suka berkebun juga. Aku merasa bebas saja untuk posting berkebun yang aku suka. Nggak ada beban untuk please other people, dan aku suka itu. 

Take a break and start something new, dua hal yang sangat penting dan aku tidak menyesal telah melakukan semua itu. Apakah kalian juga sedang berada dalam kondisi yang sama denganku, yuk istirahat dulu. Hidup nggak melulu tentang membagikan kehidupan kita di media sosial kok, tetapi menikmati kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Fokus saja pada apa yang kalian sukai dan inginkan, dan kalau itu adalah sesuatu yang baru, tidak ada salahnya kita mulai lakukan. Yuk! Selamat mencoba!

Cheers,
Lucia Berta
10:07 AM 1 comments
Newer Posts
Older Posts

HEY, WELCOME!

recent posts

ARCHIVES

SEARCH MORE

  • Advertorial
  • Behind The Scene
  • Creative Business Hacks
  • Daily Life
  • Folksy Magazine
  • Free Printable
  • Gardening
  • Interviews
  • Photography
  • Tips
  • Tutorial
  • Wellness

WHAT'S HOT TODAY

  • Tutorial Bikin Ecoprint Dengan Teknik Pounding
    DIY tutorial kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berkenalan dengan ecoprint . Apakah itu ecoprint ? Kata eco berasal dari kata e...
  • 5 Ide Gaya Dekorasi Rustic yang Low Budget
    Mendekorasi salah satu sudut ruangan untuk sebuah acara agar terlihat cantik tidak harus melulu dengan bunga. Daun pun bisa dijadikan hiasan...
  • Cara Mengobati Penyakit Liver Dengan Obat Liver Alami
    Organ hati manusia memiliki kinerja yang cukup berat karena dalam tubuh kita, hati digunakan untuk menetralisir racun yang masuk kedalam tub...
  • Jualan di Etsy, Worth It Nggak Sih?
    Semuanya dimulai dari : ternyata selama ini aku punya akun di Etsy! Jadi dulu aku sempat bikin akun Etsy di tahun 2014 untuk menjual majal...
  • WFH Tetap Dapat Tambahan Penghasilan, 4 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Dicoba di Rumah!
    Selama pandemi ini bisa dibilang semua orang sedang kesusahan mencari penghasilan. Bagi freelancer , sebelum pandemi aja sudah susah, apalag...

Created with by ThemeXpose